Thursday, December 11, 2014
TADABBUR SURAH AN-NAS
” Katakanlah : Aku berlindung daripada Tuhan manusia, Raja manusia dan Tuhan yang disembah oleh mansia. Daripada bisikan syetan (waswas) yang tersembunyi ( khannas ) yang selalu membisikkan sesuatu ke dalam dada manusia daripada jin dan manusia ” ( QS. AnnNas : 1-6).
Biasanya jika seseorang itu khawatir untuk mendapat gangguan dari syetan, maka biasanya dia akan membaca surah an Nas. Padahal jika kita mengkaji kandungan surah annas, maka surah itu dibaca bukan hanya untuk meminta perlindungan Allah dari godaan syetan dari jin saja, tetapi juga godaan lain yang datang dari nawa nafsu, wanita, harta, kekuasaan dan lain sebagainya. Dinamakan surah “An-nas” yang bermakna “ manusia” karena didalam surah ini dari ayat pertama, kedua, ke tiga sampai ke enam terdapat kata “an-nas” ( manusia ). Manusia sebagai makhluk yang paling mulia di sisi Allah mempunyai tugas yang sangat penting dari Allah untuk menjaga dirinya dari segala macam gangguan,baik gangguan yang mengancam keselamatan dirinya ataupun gangguan yang dapat merusak amal ibadahnya kepada Allah swt. . Kalau dalam surah al Falaq manusia diperintahkan untuk berlindung dari gangguan yang berasal dari luar diri manusia seperti kejahatan manusia, sihir dan alam, maka dalam surah ini kita diperintahkan Allah untuk berlindung kepada Allah dari gangguan yang berasal dari dalam diri manusia itu sendiri. Ganguan dari dalam diri sendiri ini lebih berbahaya karena ia dapat merusak penyembahan manusia kepada allah di dsalam menjalankan aktifitas kehidupannya sehari-hari.. Dalam surah “al Falaq” Allah disebutkan dalam satu sifat Allah yaitu “Robbul falaq” dengan tiga permohonan, sebaliknya dalam surah “Annas” Allah meminta manusia menyebutkan tiga sifatnya untuk memohon satu perlindungan. Ini adalah gambaran kepada kita betapa beratnya menghadapi gangguan ini. Di awali dengan “Qul”: “ Katakana hai Muhammad : “ aujdzu bi robbinnaas” aku berlindung kepada Tuhannya manusia. “Robbun” di sini berarti tuhan sebagai pencipta manusia. Berarti bahwa segala sesuatu yang ada, apapun yang terjadi semuanya adalah atas izin dan kehendaknya. Maka Allah memerintahkan manusia untuk berlindung hanya kepada Nya sebagai pencipta manusia.
“Malikinnaas”. raja manusia, penguasa manusia. Allah memerintahkan manusia berlindung kepada Allah sebagai Raja yang menguasai manusia itu sendiri. “Ilahinnaas” tuhan yang disembah manusia. Dan Allah memerintahkan manusia untuk berlindung kepadaNya sebagai tuhan yang di sembah manusia.
Dalam kitab Tafsir al Kabir karangan Imam Fakhrurrazi dikatakan bahwa jika dalam surah Alfalaq cukup di pakai kata-kata “robbulfalaq” tuhan yang menguasai alam, tapi dalam surah Annas untuk menjelaskan Tuhan dipakai tiga sifat tuhan yang tercermin dalam kata-kata “robbunnas, maalikiinas, ilaahinnas “. Tuhan sebagai “robbun” yang menciptakan manusia, apapun yang terjadi karena “robbunnas” penguasa mansuia sampai penguasa apa yang terjadi dalam hati manusia. Sedang tuhan sebagai “malik” penguasa manusia, adalah tuhan yang memiliki kuasa untuk menilai, memberi balasan atau memberi hukuman, sebab Dia adalah Raja manusia. Sedang kata-kata “ ilaahinnas “ menjelaskan Tuhan sebagai “ilah” yaitu sesuatu yang disembah oleh manusia. Dalam ayat ini, sekaan-akan memerintahkan manusia agar manusia dapat melihat Allah dalam lkapasitas dan sifatNya sebagai “robbunnas”, manusia yang diciptakan oleh Allah, “malikinnas” manusia yang dikuasai oleh Allah dan “ilahinnas” sehingga manusia wajib untuk taat dan menyerahkan diri serta menyembah hanya kepada Allah .
Karena Allah itu harus diyakini sebagai “rabb”, “malik” dan “ilah”, maka hanya kepada Allah lah manusia meminta perlindungan dari gangguan apapun. Itulah sebabnya disambung dengan ayat “ Minsyarril was-wasil khonnas “ , Ya Allah aku berlindung kepadaMu daripada segala kejahatan dan tipuan serta bisikan syetan yang menggoda diriku “. Mengapa meminta perlindungan dari bisikan syetan ? sebab gangguan yang paling besar dalam kehidupan manusia adalah gangguan dari dalam diri sendiri, bisikan dalam dada yang berasal dari “waswasil khonnas”, bisikan syetan.
Bisikan syetan inilah yang menggoda manusia daripada menyembah allah dan merusak segala amal ibadah manusia dalam kehidupannya sehingga meyimpang dari kebenaran yang di ridhoi Allah.swt. Bisikan syetan ini juga yang akan menggerakkan nafsu dan keinginan negative, sebab nafsu merupakan senjata dan alat syetn untuk menggoda manusia. Dalam hadist disebutkan bahwa ,” syetan itu bersama anak adam di sepanjang darah yang mengalir karena itu aku ( nabi ) takut jika syetan melemparkan sesuatu yang tidak baik melalui godaan nafsu maupun melalui bisikan-bisikannya ke dalam hati kamu .” Dalam riwayat tersebut diceritakan, bahwa nabi sedang berjalan dengan istrinya sofia, tak lama kemudian nabi berpapasan dengan dua sahabat, kemudia nabi berkata : “ Hai sahabatku orang yang disampingku ini adalah istriku”. Sahabat bertanya,” mengapa engkau memberitahukan hal itu kepada kami ya rasulullah ( padahal tanpa pemberitahuan tersebut, kami pasti sudah mengetahui bahwa dia itu isterimu ) ”. Nabi menjawab ,” karena syetan itu bersama anak adam di sepanjang darah yang mengalir, dan aku takut jika nanti tiba-tiba dibisikkan syetan dalam hati kamu sesuatu yang tak baik “.
Dalam hadist sahih disebutkan, “Tidak ada seorangpun dari kalian kecuali telah ada bersamanya Qarin ( kawan dari jenis syetannya yang selalu mendampingi seseorang kemana si empunya badan berada). Aisyah bertanya : “ Apakah engkau juga mempunyai qarin ya Rasul?”. Rasul menjawab, “ Benar, qarin aku juga ada, hanya saja ketahuilah bahwa Allah telah menolongku untuk melawannya, sehingga syetanku tersebut telah menyerahkan dirinya sehingga dia tidak membisikkan yang lain kepadaku kecuali kebaikan.”( hadis riwayat muslim). Dari hadist tersebut kita ketahui bahwa tak ada seorangpun yang bebas dari bisikan syetan dalam dirinya. Cara syetan mengganggu manusia adalah membisikkan keburukan dalam hati manusia sehingga manusia ragu dengan kekuasaan Allah, atau membisikkan sesuatu untuk menggoda manusia berbuat maksiat, atau membisikkan sesuatu yang dapat merusak hubungan manusia dengan manusia yang lain, dan sebagainya.
Dalam suatu hadis yang disampaikan oleh Anas disebutkan bahwa : “ syetan itu selalu meletakkan paruhnya di atas hati manusia maka dia membisikkan sesuatu dalam hati tersebut. Jika manusia ingat Allah, maka paruh syetan itu akan berhenti mematuk, tetapi bila manusia itu lupa daripada mengingat Allah maka paruh syetan itu terus bergerak mematukkan paruhnya ke dalam hati manusia dengan bisikan-bisikan keburukan “. ( hadis riwayat Baihaqi dan Ibnu Abidunya ). Hadis daripada Ibnu Abbas menceritakan bahwa : “ Tidak ada seorang anakpun lahir kecuali diatas hatinya sudah bersiap-siap syetan meniupkan was-was, maka apabila seseorang itu mengingat Allah, syetan itu diam tidak bergerak, tetapi apabila seseorang itu lupa kepada Allah, maka dia segera mematuk-matuk hati orang tersebut “. ( riwayat Baihaqi dan Hakim ).
Menurut surah anNas, bisikan tersebut disebut dengan “ was-was “ yang ditiupkan oleh syetan yang bernama “Khannas”. Dalam tafsir Thabari, diriwayatkan bahwa menurut Ibnu Yazid bahwa “ khannas “ itu dapat berupa jin dan manusia. Jadi bisikan dan godaan yang masuk ke dalam hati manusia itu dapat berasal dari bisikan syetan jin dan juga bisikan syetan yang berasal dari bisikan, ucapan dan perbuatan manusia. Syetan dapat berupa jin dan manusia juga dinyatakan al Quran dalam surah Al An’am ayat 112 menjelaskan bahwa : “ Kami jadikan bagi setiap nabi itu ada musuh-musuh yang terdiri dari syetan jin dan syetan manusia, sebagiannya menyampaikan pada sebagian yang lain kalimat-kalimat yang penuh tipuan dan rayuan. “. Dari ayat ini dapat disimpulkan bahwa musuh nabi itu ada dua pertama syetan dari bangsa jin dan kedua adalah sytean manusia yaitu manusia yang perbuatannya seperti syetan, atau disebut dengan syetan manusia (syayatinul insi ). Dalam tafsir Ibnu kasir diriwayatkan bahwa suatu hari nabi berkata kepada Ibnu Abbas : “ Mintalah perlindungan kepada Allah daripada syetan jin dan manusia “. Ibnu Abbas bertanya : Apakah ada syetan manusia ? Rasul menjawab : “ Ya, syetan manysia itu memang ada “. Malahan menurut Imam Suyuthi dalam kitab tafsir Durarul Mansur menyatakan bahwa menurut sahabat nabi Ibnu Yazid : “ Syetan manusia itu lebih ganas dan lebih hebat dari syetan jin, sebab syetan Jin menggoda manusia tanpa terlihat dengan jelas, sedangkan syetan manusia menggoda manusia dengan terang-terangan “. Ternyata di zaman sekarang bisikan syetan itu bias saja iklan, dalam sms, dalam handphone, dalam internet, dalam tivi, dalam politik, dalam budaya, dalam ekonomi, baik berupa pemikiran, gambar, tulisan, tontonan, atau apa saja yang mengganggu iman, yang merupakan permainan syetan yang dibuat, dicipta, dilakukan untuk menghancurkan iman, keyakinan, dan menggoda manusia. Semoga sewaktu kita membaca surah “ annas”, bukan hanya untuk syetan dari bangsa jin, tetapi juga juga untuk menghindari dan waspada dari syetan-syetan produk iklan, tulisan, filem, pemikiran, perbuatan manusia atau ajakan kawan, kolega, atasan kantor, dan lain sebagainya. Fa’tabiru Ya Ulil albab.
TADABBUR SURAH ALKAFIRUN
Surah al Kafirun : Katakanlah Hai orang kafir (1) Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah (2) Dan kamu tidak perlu menyembah apa yang aku sembah (3) Dan aku tidak pernah menyembah apa yang telah kamu sembah (4) Dan kamu tidak pernah menyembah apa yang telah aku sembah (5) Bagi kamu agama kamu, dan bagiku agamaku (6).
Sebab turun
Ibnu Jarir meriwayatkan dari Said bin Mina, bahwa ada beberapa orang tokoh myusrikin Makkah, Walid bin Mughirah , Aswad bin Muthalib dan Umayah bin Khalaf menjumpai nabi Muhammad dan berkata : Hai Muhammad bagaimana jika engkau menyembah apa yang kami sembah dan nanti kami menyembah apa yang engkau sembah dan engkau bergabung dengan kami dalam segala urusan, dan kami juga akan ikut kamu dalam segala urusan, dan nanti jika apa yang ada pada kami lebih baik dariapa yang ada pada kamu, maka kamu telah mendapat sesuatu, dan jika nanti apa yang kamu punya lebih baik dari apa yang kami punya maka kami telah mendapat keuntungan “, maka Allah segera menurunkan surah al Hakirun kepada Nabi, sebagai petunjuk dalam bersikap terhadap usulan mereka.
Sedang menurut Ibnu Abbas Surah ini turun disebabkan orang kafir Qurasiy menawarkan kepada nabi muhammad harta kekayaan, sehingga menjadi orang yang terkaya di Makkah, dan akan dicarikan perempuan yang paling cantik, dengan syarat agar nabi menghentikan untuk mengatakan yang tidak baik terhadap tuhan mereka (berhala), dan jika tidak mau juga mereka menawarkan kepda nabi, jalan kompromi yaitu bagaimana jika satu tahun mereka (orang kafir Makkah) menyembah Allah dan pada tahun selanjutnya berganti dimana Muhammad dapat menyembah tuhan mereka. Sebab adanya tawaran dari kaum kafir Makkah ini, maka Allah menurunkan surah al kafirun, sebagai petunjuk bersikp dengan tawaran orang kafir tersebut. (Imam Suyuthi, Durrur Manstur fi tafsir Ma;tsur, jilid 6, hal.692).
Tadabbur Surah
Jika kita kaji ayat yang pertama berarti : “ Katakanlah Hai orang kafir “, maka ayat pertama ini menyuruh nabi Muhammad berani bersikap dan berani berkata untuk menolak tawaran tersebut. Beda jika ayat tersebut berbunyi : “ Hai Muhammad : engkau tidak boleh menyembah apa yang mereka sembah “, sebab ayat ini hanya memberikan keyakinan ke dalam hati, bukan ayat untuk memerintahkan bersikap. Tetapi kalimat “ Hai orang kafir “, ini lebih tegas sebab menyuruh Nabi untuk berani bersikap tegas. Inilah sikap orang beriman dalam merespons gangguan akidah yang datang dari agama di luar Islam. Ini bukan masalah toleransi, tetapi masalah sikap menghormati keyakinan, sehingga agama lain tidak boleh ikut campur untuk mengatur keyakinan agama Islam. Ibnu Katsir menyatakan bahwakata-kata : “ orang kafir “ dalam ayat ini berlaku untuk semua orang kafir di seluruh muka bumi, tidak terbatas kepada orang kafir Makkah. ( Ibnu Katsir, Tafsir Quran al’Adzim, jilid4,hal.631)
Ayat kedua : “ Aku tidak menyembah apa yang kamu sembah “. Inilah sikap seorang mukmin yang harus dipahami dan dihormati oleh orang yang berlainan agama, bahwa dalam keyakinan tak dapat ditukar-tuar, diganti-ganti dengan alas an apapun juga. “Tidak menyembah”, maksudnya tidak meenyembah tuhan mereka, tidak beribadah dengan cara ibadah mereka, tidak memakai atribut yang merupakan identiras agama mereka, tidak ikut perayaan hari besar meraka, sebab setiap agama mempunyai tuhan yang disembah, tatacara ibadah, identitas dan atribut yang dipakai pada hari kebesaran agama masing-masing, oleh sebab itu mari setiap penganut agama menghormati setiap agama lain, jangan memaksa agama lain untuk ikut dalam acara mereka. Imam Fakhrudin Razi dalam tafsirnya menyakatan bahwa makna “ Tidak menyembah apa yang mereka sembah “ berarti mengingkari dengan hati, lisan dan perbuatan/tindakan segala tatacara ibadah mereka.
Ayat ketiga “ dan kamu juga tidak perlu menyembah apa yang kami sembah “. Jika seorang muslim tidak akan ikut acara-acara agama lain atau simbol-simbol dan atribut agama lain,maka penganut agama lain juga tidak perlu ikut-ikut acara agama Islam, atau memakai atribut, dan identitas agama Islam, sebab dapat membuat kekacauan dalam masyarakat. Bukanlah sikap toleransi dengan mengikut acara agama lain, sebab itu menghilangkan identitas dan ciri khas agama, maka dengan melarang pengikut agama lain untuk mengikuti ibadah, identitas agama lain, itulah makna toleransi beragama, sebab dengan sikap ekslusif itu agam masing-masing akan terjaga dan menjadi terhormat, malahan jika umat suatu agama ikut-ikut tatacara penyembahan agama lain, itu merupakan sikap pelecehan terhadap suatu agama.
Ayat keempat dan kelima: “ Dan kamu tidak pernah menyembah apa yang aku sembah , dan aku tidak pernah menyembah apa yang kamu sembah “. Jika pada ayat kedua dan ketiga kata-kata menyembah dalam kata kerja sekarang dan akan datang ( fi’il mudhari’), sedangkan pada ayat empat dan lima, kata menyembah dalam kata kerja terdahulu ( fi’il madhi ), sehingga makna ayat dua dan tiga “ kami tidak akan menyembah apa yang kamu sembah, dan kami tidak mengharapkan agar kamu menyembah apa yang kami sembah “, sedang pada ayat empat dan lima bermakna “kami tidak pernah menyembah apa yang kamu sembah, dan kamu juga tidak pernah menyembah apa yang telah kami sembah “. Seakan-akan dikatakan , jika selama ini kami tidak menyembah apa yang kamu sembah, mengapa sekarang kamu mememinta agar kami menyembah apa yang kamu sembah. Berati dalam ayat ini tersirat bahwa permintaan tersebut bukanlah permintaan yang jujur, tetapi suatu strategi orang kafir untuk menipu atau mengelabui orang islam dalam tatacara ibadah, sebab jika orang kafir kan menyembah apa yang kami sembah, maka nanti kamu meminta agar kami menyembah apa yang kamu sembah. Dalam ayat ini tersirat pesan agar umat Islam berhati-hati dengan strategi orang kafir dalam merusak akidah dengan percampuran tatacara ibadah atau ikut-ikutan perayaan dan atribut beribadatan.
Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat ini bekata bahwa “ aku tidak menyembah apa yang kamu sembah “, maksudnya bahwa aku tidak melakukan tatacara ibadah agama kamu, tidak melakukannya dan juga tidak pernah ikut-ikutan untuk melakukannya, sebab aku hanya menyambah Allah dengan tatacara yang disukaiNya dan tatacara yang diridhaiNya. Ibnu Katsir melanjukna bahwa dalam ayat “ dan kamu tidak pernah pernah menyembah apa yang aku sembah “, maksudnya kamu (orang kafir) tidak mengikuti perintah Alah dan hukum syariatNya dalam tatacara ibadah, sebab tatacara ibadah orang kafir itu merupakan kreasi mereka sendiri.
Ayat ke-enam “ Bagi kamu agama kamu bagi kami agama kami “. Ini merupakan ayat untuk mengajarkan umat islam agar menghormati agama lain, dan agama lain juga harus menghormati agama Islam. Jika ayat diatas berbicara sikap keyakinan umat Islam terhadap ajakan orang mencampur adukkan tatacara ibadah atau atribut peribadatan, dimana umat islam harus tegas menolak ajakan tersebut, maka ayat terakhir ini, menyatakan tentang adab sesama umat beragama untuk saling menghormati keyakinan, tatacara ibadah, dan atribut peribadatan masing-masing, sehingga perbedaan keyakinan, perbedaan tatacara ibadah, perbedaan atribut peribadatan tidak merupakan penyebab peperangan, perkelhian, kekacauan sesama umat beragama. Ibnu Abbas menyatakan bahwa dengan pernyataan “ bagi kamu agama kamu dan bagiku agamaku “, itu eakan-akan nabi berkata : Sesungguhnya aku dibangkitkan kepada kamu untuk mengajak kamu kepada kebnaran dan keselamatan, dan jika kamu tidak menerima ajakanku, maka jangan ikut aku, dan tinggalkan aku dan jangan engkau ajak aku kepada syirik”.
Inilah sikap seorang muslim, tegas dalam akidah dan prinsip keyakinan, sehingga tidak perlu mengikuti tatacara ibadah agama lain, sebab kita berbeda dengan mereka; tetapi ketegasan itu harus diikuti dengan akhlak yang mulia, bukan dengan pertengkaran dan peperangan, tetapi dengan sikap menghargai perbedaan. Sejarah membuktikan bahwa perbedaan keyakinan pada masa lalu tidak menimbulkan perkelahian, maka hal tersebut dapat diwujudkan pada masa akan datang tanpa memaksa kelompok lain untuk mengakui kebenaran agama lain, atau mengikuti tatacara ibadah, atau mengikui perayaan hari besar agama yang lain.
Keutamaan Surah
Zaid bin Harisah berkata : Hai Rasul ajarkan aku sesuatu yang harus aku baca sebelum tidurku , maka nabi menjawab : Apabila engkau akan tidur bacalah Qs.Alkafirun, karena sesungguhnya itu dapat melepaskan kamu daripada syirik “.(rwayat Ahmad dan Thabrani ). Nabi menganjurkan umatnya agar membaca Surah al Kafirun dengan maksud agar umat Islam tidak akan terperangkap dalam segala upaya orang kafir yan akan mengajak atau memaksa umat islam untuk megikuti budaya, cara hidup, pemakaian atribut dalam perayaan, ibadah dan lain sebagainya. Itulah sebabnya nilai surah alKafirun ini sama dengan sepertiga AlQuran, sebab pemahaman surah ini dapat menguatkan akidah umat dan bersikap terhadap ajakan orang kafir. Kehidupan harmonis dalam masyarakat hanya dapat terjadi setiap agama menghormati keyakinan agama lain yang dibuktikan dengan menghormati tatacara ibadah, atribut dalam perayaan agama, inilah toleransi agama, bukan dengan cara mengikuti atau ikut merayakan hari besar agama lain dengan ikut-ikutan simbol dan atribut mereka. Fa’tabiru ya Ulil albab.
Wednesday, August 22, 2007
ISTAID 1
MEMILIH PEMIMPIN
“ Dan telah Kami tetapkan dalam kitab Zabur bahwa bumi ini
diwariskan kepada hamba-hamba yang shaleh “
( QS. Al Anbiya : 105 )
Setelah dua tahun tiga bulan menjadi pemimpin ummat menggantikan kedudukan Nabi Muhammad saw; khalifah Abubakar Asshidddiq merasa bahwa dirinya tidak lama lagi akan dipanggil menghadap kepada-Nya. Oleh karena itu, beliau segera meminta pandangan dan pendapat dari beberapa sahabat bagaimana seandainya jika Umar bin Khattab menggantikan kedudukan beliau tersebut. Secara terpisah, walau dalam keadaan sakit di atas tempat tidur, beliau memanggil beberapa sahabat utama rasulullah untuk dimintai pendapat mengenai ide dan usulannya tentang pencalonan Umar.
Pertama sekali Abubakar memanggil sahabat Abdurrahman bin Auf yang terkenal sebagai konglomerat di kalangan ummat. Beliau berkata : “ Ya Abdurrahman, bagaimana penilaianmu tentang Umar bin Khattab..? Abdurrahman menjawab : “ Demi Allah, dia itu lebih baik darsiapa saja yang ada dalam pemikiran anda; hanya saja sikapnya agak keras “. Kemudian Abdurrahman meneruskan : “ Hal ini mungkin disebabkan dia memandangku terlalu bersikap lembut. Jika pimpinan diserahkan kepadanya, niscaya sikap itu akan berubah. Buktinya, cobalah perhatikan ya Abu Muhammad (panggilan lain untuk Abubakar)..jikalau aku sedang marah kepada seseorang; maka dia membela orang tersebut. Sebaliknya jika aku bersikap lembut kepada seseorang, maka dia dengan sengaja akan bersikap tegas kepada orang tersebut..”. Baiklah....tetapi saya harap untuk sementara waktu agar pembicaraan ini hanya untuk kita berdua saja, demikian Abubakar mengakhiri pembicaraannya tersebut.
Keesokan harinya, Abubakar yang sedang sakit di atas pembaringan memanggil Usman bin Affan dan berkata : “ Bagaimana pendapatmu tentang Umar bin Khattab, wahai abu abdillah ( panggilan untuk Usman )”. Usman menjawab : “ Anda lebih arif tentang dia “. Abubakar menyela : “ Benar, tetapi saya ingin meminta penilaianmu terhadap dia “. Usman bin Affan berkata : “ Menurut pengamatan saya, Umar itu hatinya baik walaupum sikapnya tegas. Tiada seorangpun yang sama dengannya dalam lingkungan kita “. Kemudian Abubakarpun berkata : “ Baiklah, terimakasih atas kedatangan anda dan saya harap agar pembicaraan ini hanya untuk kita berdua saja “.
Setelah Usman bin Affan pulang ke rumahnya, Abubakar memanggil Thalhah bin Ubaidillah. Setelah berlangsung beberapa pembicaraan dengan beliau, kemudian Thalhah berkata : “ Wahai Khalifah, engkau mengemukakan calon pengganti anda, dan engkau telah mengetahui bagaimana sikap dan apa yang diperbuatnya terhadap orang disekelilingnya; sedangkan anda masih hidup. Bagaimana lagi sikapnya nanti setelah engkau berpulang ke rahmatullah, dan kekuasaan beraddi tangannya. Oleh karena itu lebih baik engkau menanyakan bagaimana penilaian orang banyak dan masyarakat atas usulanmu tersebut “. Mendengar usulan dari Thalhah, Abubakar yang sedang berbaring minta didudukkan. Thalhah segera membantu beliau untuk duduk, kemudian Abubakar berkata : “ Apakah anda mengkhawatirkan pertanggungjawabanku terhadap Allah jika seandainya ajalku tiba dan Allah bertanya tentang tanggungjawabku maka aku akan menjawab : “ Aku telah menunjuk penggantiku seorang yang terbaidi kalangan hamba-Mu, bagi kepentingan hamba-Mu “.
Keesokan harinya Abubakar mengumpulkan seluruh masyarakat sesuai dengan saran dari Thalhah. Setelah seluruh penduduk negeri berkumpul di depan rumah, beliau minta didudukkan dengan bantuan dari isterinya Asma bin Umais yang terus memegang beliau. Kemudian beliau berkata : “ Saya harap agar kalian semua sudi untuk memberikan penilaian dan pendapat atas orang yang akan saya tunjuk untuk menggantikan kedudukanku sebagai khalifah. Demi Allah, penunjukan ini bukan main-main, asal tunjuk dan tidak berdasarkan atas hubungan keluarga. Aku menunjuk Umar bin Khattab sebagai khalifah penggantiku. Bagaimana pendapat kalian, apakah kalian rela menerimanya...?”. Secara aklamasi seluruh penduduk yang sedang berkumpul berkata : “ Sami’naa wa atha’naa ; kami setuju, dan akan mendengar serta mematuhinya “.
Setelah puas atas jawaban dari seluruh masyarakat, khalifah pun masuk ke dalam kamar dan dibaringkan seperti keadaan semula. Kemudian beliau memanggil Usman bin Affan untuk menuliskan surat amanat untuk Umar. Sambil berbaring Khalifah Abubakar berkata kata demi kata dan Usmanpun menulis setiap kata yang keluar dari bibir beliau : “ Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Inilah perjanjian yang dibuat antara Abubakar ibnu Abi Kuhafah terhadap kaum muslimin. Adapun kemudian......”. Sampai di kalimat terakhir ini tiba-tiba Abubakar tidak sadardan diri sehingga kalimatpun terhenti. Dengan segera Usman bin Affan berinisiatif untuk meneruskan kalimat tersebut dan segera menulis : “ .....aku menunjuk Umar bin Khattab untuk menggantikanku dan ini perjanjian ini kubuat demi untuk kebaikan bagi semua “. Tak lama kemudian, sehabis Usman meneruskan tulisan tersebut, Abubakarpun siuman dari keadaan nya dan kemudian beliau meminta agar Usman membacakan apa yang telah tertulis dalam surat amanat tersebut. Usman membaca surat amanat tersebut dari awal sampai akhir, termasuk kata-kata yang ditambahkannya sewaktu Khalifah tidak sadarkan diri.
Setelah selesai mendengar apa yang dibaca oleh Usman, beliau segera mengucapkan takbir sebagai pernyataan rasa syukur dan puas atas apa yang telah ditulis. Kemudian beliau berkata kepada Usman : “ Terimakasih atas apa yang telah engkau tambahkan, dan aku rasa sewaktu aku tidak sadar tadi dan tiba-tiba ajalku tiba, maka engkau khawatir jika kalimat terputus itu dapat menimbulkan bahaya dan kekacauan penafsiran di tengah masyarakat, karena kalimat tersebut belum menunjukkan suatu kepastian “. Benar, kata Usman.Setelah surat amanat tersebut selesai ditulis, Abubakar segera memanggil Umar bin Khattab dan menyerahkan surat amanat dan kepercayaan tersebut kepadanya. Setelah surat itu disampaikan, Abubakar memberikan beberapa pesanan, dan wasiat.
Bunyi surat wasiat dan amanat Abubakar kepada Umar adalah sebagai berikut : “ Wahai Umar bin Khattab, jika Allah telah memberikan sebuah tanggungjawab kepadamu pada malam hari , maka janganlah kau tangguhkan tanggungjawab tersebut sampai siang hari. Jika Allah memberikan amanat dan tanggungjawab kepadamu di siang hari, maka janganlah kau tangguhkan hal itu sampai malam hari. Wahai Umar, Ingatlah bahwa Allah tidak akan menerima amalan sunat sebelum amalan wajib dilaksanakan. Bukankah anda ketahui wahai Umar bahwa neraca timbangan seseorang itu akan berat pada hari kiamat disebabkan orang itu melaksanakan kebaikan-kebaikan. Bukankah engkau ketahui wahai Umar, bahwa timbangan seseorang itu akan ringan pada hari kiamat jika orang tersebut selalu membela kepalsuan...?
Wahai Umar, bukankah engkau telah menyaksikan bahwa ayat-ayat peringatan dan ancaman senantiasa diikuti dengan ayat-ayat pengharapan . Tujuannya adalah agar manusia merasa gembira dan gemetar. Bergembira dengan penuh harap, tetapi bukan atas apa-apa yang tidak diridhai Allah; sehingga dia tidak merasa takut di saat akan menghadap Allah kelak..”. “ Wahai Umar, bukankah Allah telah menceritakan bagaimana penderitaan penduduk neraka, maka jika anda mengingatnya segera ucapkan dalam diri sendiri : “ Janganlah aku termasuk ke dalam golongan seperti itu “. Bukankah engkau juga Ya Umar telah menyaksikan bahwa Allah menceritakan tentang kebahagiaan penduduk surga..? Jika engkau mengingat hal tersebut maka ucapkanlah untuk dirimu sendiri : “ Semoga aku dapat bekerja dan beramal seperti apa yang telah mereka kerjakan “. Inilah amanat dan wasiatku untukmu. Jika anda mengingat amanatku ini, semoga anda lebih mencintai yang tidak nampak daripada yang nampak “.
Demikianlah wasiat dan amanat Abubakar asshiddiq kepada Umar bin Khattab yang akan menggantikan kedudukannya sebagai khalifah kaum muslimin.Dari kisah diatas dapat kita lihat bagaimana para sahabat Rasulullah mencarikan orang yang akan menggantikan kedudukan dan jabatan mereka. Mereka merasa bahwa mencarikan pengganti dari mereka yang terbaik merupakan tanggungjawab yang akan ditanya nanti di hari kiamat. Oleh karena itu mereka tidak ingin mengangkat sembarang orang atau mengangkat berdasarkan asas nepotisme dan lain sebagainya. Tetapi mereka mencari pengganti yang benar-benar dapat diterima oleh masyarakat dan juga diridhai oleh Allah swt. Dalam ayat di awal tulisan ini kita melihat bagaimana Nabi Ibrahim menginginkan agar bumi ini diwariskan artinya diperintah dan dikelola oleh orang-orang yang shaleh.
Mencari pemimpin diantara orang yang shaleh, pemimpin yang beriman dan bermoral , pemimpin yang dapat dipertanggungjawabkan dunia dan akhirat rupanya menjadi kewajiban ummat manusia, khususnya kaum muslimin jika mereka menginginkan kesejahteraan dan kebahagiaan di dunia; karena ini merupakan suatu sunnatullah ( hukum Alam ) yang tidak bisa ditawar-tawar dalam mencapai kebahagiaan di dunia. Jika sunnatullah ini dilanggar, dalam arti kita memilih seorang pemimpin yang memiliki kreteria shaleh, “shaleh lid ddunya” dalam arti mempunyai kapasitas, ilmu dan kecakapan; serta “shaleh lil akhirah” yaitu beriman dan bertaqwa, mempunyai akhlak yang mulia; maka tunggulah saat kehancuran. Mungkin kita semua sering mendengar hadis “ Idza wusidal amru ilaa ghairi ahliiha fantadzirussa’ah “, jika suatu urusan diserahkan bukan kepada ahlinya maka tunggulah saat kehancuran. Ini adalah Sunnatullah. Inilah manajemen Islam; tetapi sudahkan ummat Islam memperhatikan sunnatullah dan peringatan Rasul tersebut...? Fa’tabiruu Yaa Ulil Albaab, Wallahu A’lam. ( 10-03-98 )
MEMBERI NASEHAT , BUKAN HANYA UCAPAN SELAMAT
“ Demi masa, Sesungguhnya manusia itu akan merugi, kecuali mereka yang berimandan beramal shaleh, dan saling memberikan nasehat kepada kebenaran dandengan penuh kesabaran “ ( QS. Al Ashr : 1-3 )
Sewaktu Umar bin Khattab diangkat menjadi khalifah, ada seorang sahabat nabi yang bernama Said bin Amir ibn Hidzyam al Jumhi berkata : Wahai Umar aku ingin memberikan nasehat kepadamu. Umar menjawab : baik, segeralah beri aku nasehat. Said kemudian berkata : “ Aku wasiatkan kepadamu agar kamu selalu takut kepada Allah dikala kamu sedang menangani urusan manusia; dan janganlah kamu takut kepada manusia di kala kamu sedang berurusan dengan Allah. Jangan sampai perkataanmu berlainan dengan perbuatanmu, karena sebaik-baik perkataan adalah yang sesuai dengan perbuatan. Janganlah kamu memutuskan satu perkara dengan dua kali keputusan karena hal itu akan menjadikanmu dalam kesulitan dan hilang darimu kebenaran. Putuskanlah suatu urusan dengan alasan yang benar, maka engkau akan beruntung, maka Allah akan menolongmu dan rakyatmu akan sejahtera dibawah pimpinanmu. Laksanakanlah segala urusan ummat baik yang dekat denganmu maupun mereka yang jauh. Cintailah mereka sebagaimana engkau mencintai dirimu sendiri dan keluargamu; dan bencilah terhadap yang akan menimpa mereka sebagaimana engkau membenci jika hal tersebut menimpa dirimu dan keluargamu. Tegakkanlah kebenaran dan janganlah kamu berpaling sedikitpun dari Allah swt. “ Mendengar nasehat tersebut Umar bin Khattab menjawab : “ Siapakah yang sanggup melakukan itu semua..? Said menjawab : Orang seperti kamu dan siapa saja yang diberi Allah amanat untuk mengurusi ummat Muhammad saw.
Abu Ubaidah bin Al Jarraah dan Muadz bin Jabal juga menulis surat kepada Umar sewaktu mendengar bahwa Umar telah menjadi khalifah, menggantikan Abubakar ashhiddiq. “ Dari Abu Ubaidah bin Al Jarrah dan Muadz bin Jabal kepada Umar bin Khattab..Assalamu alaika..Amma Badu..Maka sesungguhnya kami telah memberikan mengangkatmu sebagai pemimpin, oleh karena itu hendaklah engkau memperhatikan beberapa hall agar kamu dapat mengevaluasi dirimu nanti. Hai Umar, sekarang engkau telah diangkat untuk memimpin urusan ummat baik yang berkulit merah maupun berwarna hitam; baik dari keturunan mulia maupun rakyat jelata; baik kawan, kerabat dan sanak saudara maupun lawan dan kelompok oposisi; tetapi ingatlah bahwa semua mereka itu mempunyai kedudukan yang sama untuk memperoleh keadilan. Maka lihatlah bagaimana kamu dapat menjalankan keadilan tersebut dengan baik. Wahai Umar...kami memperingatimu bahwa nanti ada hari dimana semua kepala akan menunduk, dimana semua hati akan kecut, dimana pada saat itu semua alasan tidak akan diterima; itulah hari dimana Allah akan menampakkan kekuasaan-Nya. Semua makhluk akan hina di depan-Nya dan semuanya mengharakan rahmat Ilahi, takut atas siksaan-Nya.....Wahai Umar...ingatlah bahwa kami tuliskan ini bertujuan karena kami menginginkan agar ummat ini hidup dengan penuh persaudaraan, semoga surat yang kami tulis dengan tulus ikhlas dapat engkau terima juga dengan penuh keikhlasan. Ini semua kami tulis sebagai nasehat kepadamu, Wassalam “. Mendapat surat tersebut, Umar langsung menyambut dengan gembira dan segera mengirim surat balasan : “ Sesungguhnya tiadalah kekuatan dan kekuasaan pada Umar untuk menjalankan itu semua kecuali kekuasaan dan kekuatan yang diberikan oleh Allah subhana wataala...terima kasih atas nasehat kamu berdua, dan janganlah kalian bosan untuk memberi nasehat kepadaku karena aku sangat mengharapkan nasehat dari kamu berdua, wassalam “.
Demikian juga pada suatu hari seorang sahabat bernama Rabi’ bin Zayyad memberikan nasehat kepada Umar bin al Khattab : “Wahai Umar..sesungguhnya sekarang engkau sedang mendapaamanah untuk memimpin ummat; maka takutlah kamu kepada Allah atas apa yang akan engkau lakukan terhadap mereka dan khususnya apa yang akan engkau lakukan kepada diri dan keluargamu; karena engkau di suatu saat nanti akan dihisab ( dihitung ) dan diminta pertanggungjawaban atas apa yang telah engkau lakukan. Oleh karena itu lakukanlah apa yang menjadi amanat bagimu karena engkau akan diberi ganjaran pahala sesuai dengan amal perbuatanmu “. Mendengar peringatan tersebut, Khalifah Umar berkata : “ Terima kasih atas nasehatmu “.
Dari kisah diatas terlihat bahwa jika seseorang mendapat amanat untuk menduduki suatu jabatan ; maka kewajiban bagi kawan dekat, sahabat dan kolega untuk memberikan nasehat kepada kawan yang mendapat jabatan tersebut. Memberikan nasehat kepada mereka yang mendapat amanat untuk memimpin adalah budaya Islam, yang telah ditradisikan oleh para sahabat, sebagai aplikasi dari pesan Rasul dalam sebuah hadis “ Addinu Nasiihah “, agama itu adalah nasehat. Sayangnya budaya memberi nasehat dan peringatan kepada kawan pada saat ini telah berganti dengan budaya memberi ucapan selamat yang kadang-kadang mengandung maksud tertentu alias “ ada udang di balik batu “. Saat ini kita lihat, jika ada seorang kawan mendapat jabatan tertentu; maka beramai-ramai orang memberikan ucapan selamat bukan memberikan nasehat . Malahan lebih parah lagi, biasanya kawan-kawan dekat pemimpin yang baru diangkat tersebut segera memanfaatkan kesempatan, mencari-cari peluang untuk mendapat keuntungan sebanyak-banyaknya; dengan alasan , mumpung dia punya posisi. Akhirnya tanpa disadari, banyak para karier para pemimpin hancur akibat ulah kawan-kawan dekat; padahal seharusnya kawan dekatlah yang harus membantu agar kawannya tersebut dapat mengemban amanat dengan baik.
Sayyidina Ali bin Abi Thalib, jika mendengar bahwa diantara kawannya ada yang mendapat amanat untuk menduduki suatu posisi tertentu maka dia segera mengirim surat nasehat : “ Wahai kawanku...janganlah engkau menutup diri atas rakyatmu; karena jika seorang pemimpin menutup diri dari hadapan rakyatnya, maka pemimpin tersebut akan mendapat kesulitan; dan susah akan mendapat informasi yang benar. Karena menutup diri itu akan memutuskan informasi tentang orang bawahan; sehingga akibatnya nanti yang mulia akan dipandang hina dan yang hina akan dipandang mulia. Yang baik akan dipandang jelek sedangkan yang jelek akan dipandang baik. Akhirnya akan bercampurlah antara yang benar dan yang bathil. Ungatlah bahwasanya seorang pemimpin itu juga manusia biasa yang tidak dapat mengetahui hal yang tersembunyi . Dengan membuka dan menerima informasi dari segala lapisan masyarakat maka hal yang tersembunyi tersebut akan menjadi jelas; dan akan nampak perbedaan antara yang benar dan yang palsu. Ingatlah wahai kawan..bahwasanya engkau akan menjadi salah satu dari dua hal : Engkau akan menjadi manusia yang terbuka , selalu melaksanakan kebenaran dan memberikan hak setiapang atau engkau menjadi manusia yang tertutup. Jika engkau berbuat jelek, ingatlah bahwa masyarakat dengan cepat akan mengetahuinya; sedangkan masih banyak manusia sangat tergantung pada pertolonganmu . Ambillah manfaat dari apa yang telah kunasehati, dan segera laksanakanlah tugas dengan sebaik mungkin “.
Demikian juga jika seorang pemimpim mempromosikan bawahannya untuk menduduki suatu jabatan; maka kewajiban pemimpin tersebut adalah memberikan nasehat kepada bawahannya agar dapat menjalani kewajibannya sebaik mungkin, bukan bernegosiasi kepada bawahannya tentang pembagian jatahatau upeti dan lain sebagainya. Umar bin Khattab sewaktu mengangkat Abi Musa al Asy’ari, beliau berpesan : “ Sesungguhnya banyak masyarakat yang takut dan lari dapi pemimpinnya; maka semoga kamu sebagaimana saya dihindarkan oleh Allah dari hal seperti itu. Maka tegakkanlah hukum setiap saat; dan jika kamu menghadapi dua urusan yang satu urusan akhirat dan yang satu lagi urusan dunia; maka dulukanlah urusan akhirat. Hati-hatilah terhadap orang yang munafiq, dan hadapilah mereka satu demi satu. Kunjungilah jika rakyatmy ada yang sakit, dan sempatkanlah untuk melayat jika diantara mereka ada yang wafat. Bukalah pintu rumahmu bagi kehadiran merekadan segera selesaikan setiap kesulitan mereka karena sesungguhnya engkau adalah bagian dari masyarakat hanya saja Allah telah memberimu beban lebih berat dari yang lain. ...Ingatlah bahwa kekuatan dalam beramal dan bekerja adalah jika engkau tidak mengakhirkan dan menunda sampai besok apa yang dapat engkau lakukan hari ini. Dekatkanlah dirimu selalu kepada Allah dan pelajarilah kitab-Nya karena kitab suci tersebut merupakan sumber ilmu pengetahuan dan juga penawar hati yang susah.”
Saling memberikan nasehat baik lisan maupun melalui tulisan kepada kawan yang sedang mendapat amanat , mendapat jabatan dan kedudukan, perlu menjadi budaya ummat Islam. Karena setiap jabatan adalah amanah yang wajib dijaga dan dipelihara bersama. Sebagai kawan, sebagai kolega kita berkewajiban memberikan beberapa catatan dan perhatian bukan sekedar ucapan selamat, sanjungan dan minta bagian. Mungkin mengirimkan nasehat kepada mereka yang sedang bertugas perlu dibudayakan lagi; dan lebih bermanfaat daripada sekedar mengirimkan ucapan selamabaik melalui surat, telepon, internet, maupun media massa; sebagai aplikasidari “ Watawashau bil haq, watawaashau bissabri, saling nasehat-menasehati dalam kebenaran dan dengan penuh kesabaran . Wallahu A’lam.
MENYAMBUT HARI RAYA QURBAN
“ Dan barangsiapa yang membesarkan syi’ar - syiar Allah
maka itu merupakan tanda dari hati yang bertaqwa “
( QS. Al-Haj : 32 )
Sewaktu nabi Muhammad saw memasuki kota Madinah, beliau melihat bahwa penduduk kota Madinah mempunyai hari raya dimana mereka menyambut hari-hari besar tersebut dengan penuh kegembiraan. Melihat hal yang demikian, maka Rasulullah saw bersabda kepada para sahabat beliau : “ Sesungguhnya Allah Taala telah menetapkan bagimu hari yang lebih baik dari hari raya mereka, itulah hari raya “ Idul Fitri “, dan hari raya “ Idul Adha “. Memang, setiap ummat dan masyarakat mempunyai hari-hari tertentu dimana mereka berkumpul , bergembira, bersyukur, dan sekaligus sebagai identitas diri dan syiar agama dan masyarakat tersebut. Untuk itu Allah telah menetapkan kepada ummat Islam beberapa hari istimewa agar ummat Islam dapat memperlakukan dan menjalani hari-hari tersebut dengan amalan-amalan istimewa pula.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud dijelaskan bahwa Rasulullah saw pernah bersabda : “ Sesungguhnya Allah Taala telah memilih bagi kamu sekalian empat hari ( sebagai hari istimewa )………yaitu Pertama adalah Hari Jum’at, karena di hari tersebut ada suatu waktu dimana Allah akan mengabulkan setiap permintaan hamba-Nya baik dalam urusan dunia maupun urusan akhirat. Kedua adalah hari Arafah ( tanggal 9 Dzulhijjah ), karena pada hari tersebut Allah berfirman kepada malaikat : Wahai malaikatku, lihatlah kepada hamba-hamba-KU yang datang dari seluruh tempat berkumpul di padang Arafah , mereka telah mengeluarkan harta yang banyak dan menguras tenaga untuk dapat datang ke arafah. Maka saksikanlah wahai malaikat bahwa AKU telah mengampuni dosa-dosa mereka. Ketiga, adalah hari Nahr ( hari Qurban / hari raya idul adha ) karena pada hari tersebut hamba-hambaKU mendekatkan diri dengan menyembelih Qurban, maka pada saat tetesan darah binatang sembelihan tersebut sampai ke tanah, maka dia mendapat ampunan dari segala dosa dan kejahatan. Hari yang keempat adalah hari Idul Fitri, karena pada hari itu aku memberikan ampunan kepada hambaKu yang telah menjalani puasa ramadhan di saat dia selesai melaksanakan shalat idul fitri. ..Allahu Akbar, Walillahil hamd.
Allah telah menjadikan ke-empat hari tersebut menjadi hari istimewa. Sekarang yang menjadi pertanyaan bagi kita, ummat Islam, sudahkan kita menjadikan hari-hari tersebut menjadi hari istimewa dalam hidup kita secara seimbang…? Jika hari Raya Idul Fitri datang, kita memberikan perhatian yang hebat, mengadakan takbir akbar, memakai pakaian baru, mengecat rumah malah ada yang sampai selalu mengganti perabot rumah, menyediakan kueh dan makanan bagi tetamu, ditambah lagi dengan kesibukan mudik dan lain sebagainya. Tetapi bila datang Hari Arafah, dan Hari raya Idul Adha adakah perhatian kita juga seperti di hari raya Idul Fitri..? Mengapa tanpa sadar selama ini kita seakan-akan menomor duakan Hari raya idul Adha..? Bukankah itu juga merupakan syiar Islam yang harus kita samput dengan penuh rasa syukur dan penuh kegembiraan..? Mengapa tidak ada takbir akbar baik di masjid maupun di alun-alun pada Hari Raya Idul Adha..? Mengapa tidak ada budaya mengirimkan kartu ucapan selamat hari Raya idul Adha yang juga dapat digabung dengan ucapan selamat tahun baru Islam pada satu muharram karena waktunya yang berhampiran..? Tanpa sadar, selama ini kita telah memperlakukan hari raya Idul Adha seperti hari libur biasa yang kadang-kadang diisi dengan kegiatan jalan-jalan, nonton film, shoping, atau rekreasi dan lain sebagainya. Inikah cara kita merayakan hari yang telah diistimewakan oleh Allah swt….?
Dalam sebuah hadis disebutkan : “ Tidak ada hari yang lebih disukai oleh Allah dan lebih dicintai untuk berbuat baik seperti sepuluh hari bulan dzulhijjah ( dari tanggal satu sampai tanggal sepuluh Dzulhijjah ). Maka oleh karena itu perbanyaklah olehmu ucapan takbir, tahmid ( puji-pujian ) dan ucapan tahlil ( membaca laa ilaaha illa Allah ). Oleh sebab itu dalam masyarakat Islam zaman dahulu, hari raya Idul Adha terasa lebih semarak daripada hari raya Idul Fitri, mengapa…? Karena sejak dari tanggal satu dzulhijjah, mereka telah mengadakan kegiatan-kegiatan ibadah seperti takbir, tahlil dan tahmid, ditambah lagi dengan proses penyembelihan hewan qurban dan takbir akbar sampai akhir hari tasyri’ tanggal tiga belas dzulhijjah. Kalau di hari raya Idul Fitri kita disunatkan membaca takbir sejak terbenam matahari di akhir ramadhan hingga selesai shalat Id; maka pada waktu Idul Adha, kita disunatkan untuk mengucapkan takbir dan mengadakan takbir akbar baik di masjid maupun di lapangan selama lima hari berturut-turut yaitu sejak dari waktu subuh di hari Arafah ( 9 Dzulhijjah ) sampai sore hari tasyri , tanggal tigabelas dzulhijjah.
Jika selama ini kita mendengar ada ceramah semalan suntuk di masjid seperti pada malam tahun baru hijrah, atau ada haflah Al Quran di bulan puasa untuk menyambut malam lailatul qadar, mengapa kita tidak mengadakan haflah takbir, tahmid dan tahlil atau pengajian akbar, dan kegiatan yang positip lainnya sejak hari Arafah sampai akhir hari tasyri …? Mengapa di hari libur idul Adha tersebut tidak kita budayakan untuk mengunjungi anak-anak yatim di panti-panti asuhan, mengunjungi saudara-saudara kita yang sedang berbaring di rumah sakit..? Alangkah indahnya jika selama lima hari tersebut ( sejak hari Arafah sampai hari tasyri’ ), masjid-masjid dan surau selalu penuh jamaah, kelompok yang mampu berlomba-lomba menyembelih qurban dan memberikannya langsung kepada faqir miskin. Di Pakistan, biasanya di hari-hari qurban tersebut, setiap orang yang mampu menyembelih hewan qurban di depan rumah masing-masing dan langsung membagi-bagikannya kepada tetangga dan faqir miskin; sehingga tanpa terasa suasana silaturrahmi antara yang kaya dan yang miskin akan lebih terasa. Dengan demikian, si empunya hewan qurban mendapat kebahagiaan pahala di akhirat dan kebahagiaan silaturrahmi di dunia. “ Sembelihlah olehmu hewan qurban, karena barangsiapa yang menyembelih qurbannya dengan menghadap qiblat, maka tanduknya, darahnya, bulunya, kulitnya, maka semuanya akan dihadirkan nanti di hari kiamat, dan pada saat darah hewan sembelihan itu sampai ke tanah, maka Allah akan memberikan ampunan. Berqorban itu adalah mudah, sedangkan pahalanya amatlah banyak “, demikian bunyi sebuah hadis.
Mari kita jiwai amal ibadah qurban kita, jangan hanya sekedar seremonial saja. Karena kadang-kadang ada yang menitipkan hewan qurbannya kepada pengurus masjid, dan dia tidak mau tau sama sekali setelah itu kapan hewan itu disembelih, kemana dibagi dan lain sebagainya. Memang dengan berqurban kita mendapat pahala; tetapi dengan menjiwai makna qurban, dan memberikannya langsung kepada faqir miskin akan mempererat tali silaturahmi. Manajemen qurban juga perlu dibenahi; jangan sampai daging qurban hanya didistribusikan kepada masyarakat sekitar masjid-masjid kota saja; bagaimana dengan penduduk muslim yang jauh dan berada di kampung-kampung..? Bukankah lebih baik jika qurban dari jamaah masjid kota dibagikan juga ke jamaah di masjid kampung-kampung terpencil..?
Mari kita sambut hari raya Idul Adha dengan ibadah puasa, paling tidak puasa Arafah. Mari kita rayakan dengan takbir sejak hari Arafah sampai hari tasyri’, paling tidak diharapkan selama lima hari berturut-turut siang dan malam gema takbir berkumandang dari menara-menara masjid. Ibnu Umar, seorang sahabat Rasul membiasakan dirinya untuk selalu bertakbir sejal awal bulan dzulhijjah baik di dalam majlis maupun dari atas tempat tidur. Demikian juga Atha’ bin Abi Rayyah dan malik bin Dinar selalu bertakbir baik di tengah perjalanan maupun di tengah pasar ( plaza ) .
Inilah budaya masyarakat terdahulu, mereka menyuarakan takbir dimana-mana , baik di rumah, di masjid, di pasar, dalam kenderaan, sejak awal bulan dzulhijjah; sehingga mereka namakan hari-hari tersebut dengan hari takbir dan zikir. Mari kita rayakan Hari Idul Adha dengan menyembelih hewan qurban, dan membagi-bagikannya langsung kepada kaum dhuafa, faqir dan miskin. Mari kita rayakan hari Idul Adha dengan mengunjungi dan memberikan perhatian dan santunan kepada anak-anak yatim, janda-janda, orang-orang tua renta, pasien yang sedang sakit, dan saudara-saudara kita yang sedang dalam penjara. Mari kita rayakan Idul Adha dengan mengadakan silaturahmi dan memberikan bantuan kepada pesantren, madrasah, panti-panti asuhan, surau dan langgar yang sudah hampir runtuh dan lain sebagainya.
Mari kita sambut Idul Adha dengan mengadakan ceramah akbar tentang fadhilah berqurban, fadhilah bersedekah, berwaqaf, dan memberikan perhatian dan bantuan kepada faqir miskin; sehingga di tengah krisis ekonomi ini mereka masih bisa tersenyum gembira, masih bisa bertakbir bersama, menyambut seruan Iman dan Islam. Mari kita sambut Hari raya Idul Adha dengan mengucapkan selamat Hari raya baik melalui kartu maupun telepon kepada saudara kita sesama muslim. Allaahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamd. Selamat Hari Raya Idul Adha; Selamat berqurban, semoga Allah Taala memberikan kepadkita kekuatan iman dan islam di tengah segala krisis yang sedang melanda serta menerima segala amal ibadah yang kita laksanakan selama ini “ Taqabbalahhau minna wa Minkum “. Allahu Akbar walillaahilhamd.
PRIBADI IDUL ADHA
“ Agar mereka dapat menyaksikan manfaat ( dari ibadah haji ) “
( QS. Al haj 28.)
Setiap peristiwa pasti mempunyai makna yang tersirat sehingga dapat kita jadikan pegangan dalam menjalani klehidupan. Demikian juga dengan segala peristiwa dan peringatan dalam budaya agama Islam. Hari Maulid Nabi Muhammad diperingati agar kita dapat menghayati nilai-nilai perjuangan Rasulullah saw sehingga dapat menjadikan beliau sebagai contoh utama kita dalam menjalani setiap langkah kehidupan. Isra’ dan Mi’raj diperingati agar kita dapat menghayati bahwa disana ada kehidupan akhirat yang lebih mulia dan lebih utama sehingga kita tidak tergiur oleh kehidupan dunia yang bersifat sementara maka kita harus selalu mendekatkan diri kepada -Nya melalui shalat dan ibadah lainnya.
Di bulan ramadhan kita dibentuk menjadi manusia yang suci, manusia yang dapat menahan diri dari segala godaan dan hawa nafsu. Dengan dapat menahan diri dari segala godaan, berarti kita berhasil menjadi pemenang dalam kehidupan. Bukan menang dengan menipu, dan korupsi, bukan dengan licik, dan dengan segala akal bulus tetapi menang dengan penuh kesucian, menang dengan kindiri fitrah, suci dalam pikiran, perbuatan dan tindakan,. Suci dalam bekerja dan suci dalam pendapatan. Suci dalam berhubungan dengan Allah dan bermuamalah dengan manusia. Inilah nilai dari Idul Fitri. Setelah kita menjadi pribadi yang suci, pribadi yang dapat menahan diri, pribadi pemenang; maka kita dituntut untuk menjadi pribadi yang siap berkorban, siap menghadapi segala tantangan. Pribadi yang sanggup berdiri tegak lurus , jujur dan istiqamah di tengah persaingan dan pertarungan. Inilah pribadi Idul Adha, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim dan keluarganya dalam proses ibadah haji.
Sebagai awal proses, jamaah haji harus memakai pakaian ihram, pakaian serba putih yang menutupi aurat, untuk menghadap kepada Allah. Ini mengingatkan kita agar dapat menjad pribadi Ihram dalam setiap kehidupan, pribadi yang selalu berpakaian yang bersih dan pakaian tersebut dapat menutup segala sifat-sifat yang tidak baik. “ Libaasuttaqwa “, pakaian taqwa -bukan baju cap taqwa- harus menjadi model pakaian ummat Islam. Sebagaimana pakaian, dia menjadi perhiasan juga menjadi standar penilaian atas seseorang. Pakaian dengan memakai dasi, menandakan dia seorang eksekutif dan lain sebagainya. Seorang muslim, harus dapat menjadipan pakaiannya ( penampilan lahiriah ) adalah penampilan yang suci. Penampilan tersebut hanya dapat diwujudkan jika dia mempunyai pribadi yang mulia, budi yang luhur dan akhlak ul karimah. Inilah makna pakaian Ihram; oleh karena itu setiap saat kita harus dalam suasana ihram, suasana yang suci dengan selalu ,menjaga dari dari hal-hal yang haram.
Kemudian setelah memakain pakaian ihram, barulah kita memulai tawaf. mengelilingi baitullah sebanyak tujuh kali dengan tetap berzikir, dan berdoa , bermunajat kepada Allah. Setelah Hari raya haji, ummat Islam diharapkan dapat menjadi pribadi tawaf, pribadi yang selalu iberzikir kepada Allah, pribadi yang selalu berdoa dan bermunajat, selalu mengharapkan bantuan , dan pengampunan dari-Nya. Dengan tawaf, berarti kita sangat dekat dengan rumah Allah, ini sebagai simbol agar kita dalam hidup selama dua pulu h empat jam , dalam bekerja mencari nafkah selama tujuh hari dalam seminggu selalu dekat kepada Allah, seperti dekatnya orang yang sedang tawaf dengan Baitullah, malah lebih dekat dari itu; karena dengan itulah kita akan mendapatkan ketenangan “ Alla bizikrillah tatmainnul qulub .....ketahuilah bahwasanya dengan zikir kepada Allah hati itu akan tenang “, demikian petunjuk dari kitab Al Quran.
Setelah hati ini dekat kepada Allah, maka kita diharapkan selalu memohon pertolongan, petunjuk kepada-Nya dalam menjalani setiap problematika kehidupan. Inilah hikmah mengapa setelah tawaf biasanya para jamaah haji melakukan doa munajat di depan multazam. Dan dalam berdoa, kita harus merasakan bahwa kita berada dekat dengan Allah, sebagaimana orang hai yang sedang berdoa di depan multazam. Untuk itu kita harus menjadi pribadi yang selalu ber “iltizam “” selalu teguh dengan pendirian, tetap dalam iman dan menjalankan seluruh ajaran syariat Islam. Kita tidak oleh menjadi Muslim plin-plan; atau muslim musiman. Seperti kalau musim ramadhan, kita jadi taat keluar ramadhan berubah lagi; kalau di masjid jadi taat; selagi di kantor korupsi lagi. Waktu di pengajian jadi taat, setelah sampai di pub melanggar lagi...Naudzubillah min dzalik.
Setelah berdoa di multazam, biasanya jamaah haji melaksanakan shalat di maqam Ibrahim; berarti sebagai muslim yang taat kita harus selalu mengerjakan shalat dan segala perintah Allah dalam Ibadah; bahkan harus dapat menjadikan segala aktivitas kita sebagai ibadah; dengan niat yang iklhas dan akhlak mulia. Setalah shalat jamaah haji minum air zamzam, ini sebagai isyarat sebagai muslim yang baik, kita diharapkan dapat memilih minuman dan makanan yang halal dan bergizi bagi tubuh kita, sebagaimana air zamzam yang suci, yang bersih dan berkah, bebas dari virus dan dosa serta mengandung mineral yang tinggi.
Dengan pakaian yang suci, dengan hati yang suci dan selalu berzikir serta dengan minuman yang suci; barulah seorang muslim menjadi pribadi yang suci, pribadi yang kuat dan tegar; serta menjadi pribadi yang selalu beribadah, bermunajat dan mengabdi kepada - Nya. Dengan pribadi yang sehat, kuat dan prima ini diharapkan kita dapat menjadi khalifah , pemimpin dan penguasa di muka bumi . Untuk itu kita diharapkan mempunyai etos dan semangat kerja yang tinggi. Pribadi yang mempunyai etos kerja tanpa mengenal lelah, dasn di saat bekerja tidak pernah lupa dengan petunjuk dan pertolongan dari yang Maha Kuasa inilah yang ditampilkan jamaah haji dalam menjalani ibadah Sa’i dari bukit Safa menuju bukit Marwa. Pribadi manusia pekerja adalah menjadi prasyarat utama untuk menjadi khalifah di muka bumi. Oleh karena itu islam sangat mencela sifat malas, sikap menganggur, dan sikap membuang-buang waktu dengan sia-sia seperti nonton sinetron di depan tivi berjam-jam, dan lain sebagainya. Rasulullah sendiri mengajarkan kita doa “ Allahumma inni a’udzubika minal kasal “, Ya Allah lindungi aku dari sifat malas.
Kalau Siti hajar sebagai seorang ewanita yang lemah dapat menundukkan dua bukit, berusaha tanpa mengenal lelah di tengah panas terik padang pasir; bagaimana dengan kita sekarang yang selalu bekerja di kantor yang memiliki AC, dan lain sebagainya...? Kalau Siti Hajar dapat mendidik anaknya Ismail menjadi anak yang shaleh, padahal mereka hidup tanpa fasilitas dan sarana pendidikan yang memadai; bagaimana dengan orangtua sekarang yang hidup dengan segala fasiliotas dan sarana modern tetapi dapatkah mereka mendidik anak mereka menjadi anak yang shaleh ..? Diantara tujuan kerja adalah agar kita mempunyai amal jariah dan keturunan yang shaleh. Sudahkah kerja kita selama ini menghasilkan amal jariah dan keturunan yang shaleh..? Inilah pribadi Sa’i.
Setelah menjadi pribadi Ihram, pribadi Thawaf, pribadi Multazam, Pribadi Zamzam, Pribadi Sai; maka kita sebagai muslim diharapkan dapat menjadi pribadi wukuf. Pribadi yang selalu dapat berdiri tegak, mengingat Allah, memohon ampunan kepada-Nya walaupun kita disibukkan oleh kegiatan bisnis atau kegiatan mencari mata pencaharian. Sesibuk apapun kita janganlah lupa untuk beribadah kepada-Nya. Sehebat apapun tantangan yang dihadapi dan godaan yang datang menyerang kita harus dapat tegak dan istiqamah. Sesibuk apapun kegiatanyang dilakukan, kita harus dapat juga menjadi pribadi Arafah, pribadi yang selalu berkomunikasi dengan orang lain, prribadi sosial dan penuh ukhuwah, pribadi yang selallu menebarkan salam dan senyum. Inilah pribadi wuquf dan Arafah, pribadi seorang pemimpin yang selalu “ wuquf “, selalu dekat kepada Allah dan pribadi “ arafah “ pemimpin yang mengenal secara dekat para pegawai bawahan dan masyarakat di sekitarnya. Inilah pribadi muslim.
Setelah menjadi pribadi wuquf dan Arafah;ita jangan lupa bahwa dalam menghadapi kehidupan ini kita pasti selalu mendapat tantangan dan hambatan, terutama godaan dari kanan dan kiri. Untuk itu kita harus selalu mawas dan membekali diri dengan senjata yang dapat mengalahkan segala musuh tersebut. Pribadi yang selalu mempersiapkan diri dengan senjata yang dapat melawan ini disimbolkan oleh Pribadi Muzdalifah, pribadi yang mengambil batu untuk melempar jumrah di Mina. Pribadi yang mempunyai bekal idalam menghadapi segala serangan inilah harus menjadi pribadi dan identitas setiap muslim; kalau tidak kita pasti mudah terpedaya oleh godaan dunia dan rayuan syetan. Dan senjata yang paling utama adalah senjata iman; disamping senjata -senjata lahiriah seperti skil dan lain sebagainya.
Setelah menjadi pribadi Muzdalifah, seorang muslim diharapkan dapat menjadi pribadi Mina, Pribadi yang siap melawan rasa ego, pribadi yang siap melawan hawa nafsu dan melawan setiap godaan syetan. Godaan tersebut datang berulang-kali; maka setiap muslim harus tetap waspada dan jangan bosan untuk melawan setiap godaan. Inilah yang ditampilkan oleh melempar jumrah berkali-kali. Bayangkan bagaimana Syetan menggoda Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, dan Siti Hawa untuk menggagalkan rencana menyembelih qurban; tapi semuanya tidak berhasil. Maka kita juga harus hati-hati, karena kadang-kadang godaan datang dari bapak, atau dari istri dan bisa jadi juga dari anak-anak di rumah. Inilah pribadi Mina; pribadi tahan terhadap setiap godaan hawa nafsu. Dan akhuirnya kita diharapkan menjadi pribadi yang siap berqurban dalam menghadapi setiap perjuangan . Inilah Pribadi Qurban. Dengan Idul Adha diharapkan kita siap mendai pribadi Idul Adha, yaitu pribadi ihram, pribadi tawaf, pribadi multazam, pribadi zamzam, pribadi sa’i, pribadi wuquf, pribadi arafah, pribadi muzdalifah, pribadi mina dan pribadi qurban. Inilah pribadi Muslim...Inilah diantara hikmah dan manfaat Idul Adha, Allaahu Akbar walillahilhamd.
MAKNA HAJI YANG MABRUR
“ Haji yang Mabrur tidak ada balasan kecuali Surga “
( Hadis Nabi Muhammad saw / Muttafaq alaihi)
Di saat-saat sekarang ini, masyarakat kita disibukkan dengan penyambutan jamaah haji yang pulang dari tanah suci. Apalagi jadwal penerbangan yang tidak mengenal waktu, kadang-kadang pagi bisa juga tengah malam, sehingga sanak keluarga kadang-kadang sibuk tidak menentu. Demikian juga jamaah haji kita disana, sibuk memikirkan kapan jadwal pemberangkatan dari setiap kloter, malah ada yang berusaha memohon segala dispensasi agar dapat berangkat pulang lebih dahulu. Mereka juga disibukkan oleh pengepakan barang-barang dan pengiriman tas dan koper yang melebihi batas melalui kargo dan lain sebagainya. Mereka juga sibuk membeli ini dan itu, hanya untuk memberikan kenang-kenangan kepada keluarga di tanah air. Inilah biasanya yang terlihat keadaan ummat Islam kita baik yang akan pulang dari tanah suci maupun yang sedang menunggu di tanah air. Setelah sampai di tanah air, si jamaahpun sibuk menerima tamu, dan masyarakat yang datang ingin mengucapkan selamat; dan si jamaah juga mulai sibuk membagi-bagikan hadiah dan oleh-oleh seperti air zamzam, buah kurma, tasbih, sajadah, batu cincin , serban, topi haji, dan lain sebagainya. Tak ketinggalan dengan cerita - cerita selama perjalanan, baik cerita yang lucu , cerita pengalaman sedih, cerita suasana, sampai pada cerita bagaimana harga barang-barang di pasar sekeliling masjid seperti pasar seng dan lain sebagainya. Biasanya, jamaah haji yang baru pulang inipun, kemana pergi tak lupa memakai topi haji atau serban dan tasbih sebagai identitas baru pulang dari Tanah suci. Alhamdulillah, kita bersyukur, jamaah haji telah menunjukkan perubahan dalam penampilan; tetapi kita berharap agar perubahan tersebut bukan hanya dalam penampilan saja tetapi juga dari sikap , kepribadian dan gaya hidup. Kita mengharapkan mereka menjadi haji yang mabrur dan hajjah yang mabruurah. Haji yang mabrur inilah oleh-oleh yang utama yang kita dambakan. Ini lebih utama dari serban, topi haji, air zam zam dan kurma.
Mabrur berasal dari kata kata-ka birr yang berarti berbuat kebaikan, kebajikan dan berbakti. Kita sering mendengar kata-kata Birrul Walidaini yang berarti berbuat baik dan berbakti kepada kedua orangtua. Kata-kata Mabrur dalam tatabahasa Arab berarti orang yang melakukan birr, yang melakukan kebaikan dan kebajikan. Oleh karena itu haji yang mabruur adalah seorang haji yang dapat menghayati makna-makna iyang tersirat dalam ibadah haji dalam sikap dan tindak tanduk sehari-hari di tengah kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat. Oleh karena itu Haji yang Mabrur merupakan sikap hidup, kepribadian, dan akhlaq yang dapat menjadi uswah hasanah, contoh teladan bagi masyarakat. Rasul bersabda : Haji yang mabrur tiada balasannya kecuali surga. Sahabat kemudian bertanya kepada Rasul : Apakah yang dimaksud dengan haji mabrur tersebut. Rasul menjawab : Ucapan yang baik dan Memberi makan. Dari hadis di atas dapat disimpulkan bahwa haji mabrur adalah sikap berbuat baik dan kebajikan kepada masyarakat. Maka haji mabrur adalah pribadi yang teladan, pribadi yang dapat menjadi rahmat , pribadi yang dalam sikap hidupnya dapat memberikan kehidupan surgawi baik kepada keluarga, kepada tetangga, kepada masyarakat. Dalam hadis lain disebutkan bahwa mereka yang baru pulang dari melaksanakan haji, bagaikan bayi yang baru lahir tanpa noda dan dosa. Berarti haji yang mabrur setelah pulang akan menampilkan kepribadian yang bersih dari cela dan noda. Kehadiran merera diharapkan laksana sabun pembersih yang dapat membersihkan segala kekotoran, kemungkaran, dan kemaksiatan di tengah masyarakat. Mengapa demikian..? Karena mereka telah menyaksikan dan mengadakan nipak tilas bagaimana perjuangan Rasulullah dan Rasul-rasul yang lain melakukan dakwah untuk amar makruf dan nahi munkar.
Jika dalam ibadah haji, ada ibadah thawaf , dimana kita selalu mendekatkan diri kepada Allah, bermunajat dan berdoa langsung kepada-Nya tanpa ada perantara, maka haji yang mabrur dalam kehidupan sehari-hari harus dapat menjadi dapat menjadi contoh bagi masyarakat dalam melaksanakan ajaran agama Islam, dalam beribadah , bertasbih, berzikir, dan berdoa tanpa sedikitpun ada unsur kemusyrikan. Haji yang mabrur harus dapat menjadi jamaah yang aktif di masjid, sebagaimana dia aktif beribadah di masjidil haram. Kalau selama musim haji dia disunatkan untuk melaksanakan jamaah arbain di masjid Nabawi; ini sebagai pendidikan dan latihan agar setelah pulang ke tanah air dia selalu melakukan shalat dengan jamaah di masjid, atau di surau ; paling tidak berjamaah dengan keluarga di rumah. Haji yang mabrur berarti pribadi yang selalu berniat suci dalam melakukan segala pekerjaan dan lebih mendahulukan urusan akhirat daripada urusan dunia. Lebih mengutamakan panggilan Allah daripada panggilan naha nafsu. Haji yang mabrur adalah pribadi yang bertauhid, pribadi yang selalu bermunajat kepada-Nya setiap saat bukan melalui segala bentuk perbuatan yang musyrik seperti percaya kepada jimat, kepada kekuatan magis, kepada dukun dan lain sebagainya. Pribadi haji yang mabrur adalah pribadi yang dapat menjadi contoh bagi masyarakat dalam melaksanakan ajaran agama, dalam beribadah, dalam shalat berjamaah, dalam memakmurkan masjid dengan berzikir, bertasbih, membaca alquran , menghadiri oengajian dan lain sebagainya. Oleh-oleh haji seperti inilah yang selalu diharapkan oleh masyarakat. Bayangkan jika seandainya para jamaah haji dapat menjadi pioneer, pelopor dan penggerak shalat jamaah saja baik di tengah masyarakat maupun di kantor-kantor dan di tengah pusat perbelanjaan; insya Allah suasana syiar Islam akan lebih indah. Setiap terdengar suara azan berkumandang, mereka segera berangkat menuju masjid dan mushalla serta mengajak kawan-kawannya yang lain untuk bersama-sama melakukan shalat jamaah. Kalau sebelum berangkat biasanya kawan-kawan kita sibuk melaksanakan acara tepungtawar haji; maka wajar jika setelah pulang haji, kita sebagai hamba yang mendapat kehormatan berangkat haji juga sibuk mengajak kawan-kawan kita untuk mendapatkan pahala dan maghfirah dari Allah subhana wataala, minimal dengan mengajak mereka untuk melakukan ibadah shalat.
Sewaktu di tanah Suci kita diberi Allah kesempatan untuk menyaksikan tempat-tempat bersejarah para rasul. Kita menyaksikan maqam Ibrahim, tempat berpijak Nabi Ibrahim sewaktu mendirikan Kabah. Kita menyaksikan Safa dan Marwa saksi dari perjuangan Siti Hajar dalam mendidik Ismail menjadi seorang anak yang shaleh. Kita menyaksikan Jabal Rahmah di Arafah sebagai bukti perjuangan nabi Adam dan Siti Hawa dalam membina masyarakat dunia yang penuh rasa persaudaraan. Kita menyaksikan Mina tempat dimana Nabi Ibrahim menjalankan perintah Allah untuk mengorbankan anaknya Ismail. Kemudian kita menyaksikan Gua Hira, dimana Nabi Muhammad menerima wahyu pertama kali. Kita menyaksikan kota Madinah, kota yang dibangun oleh rasulullah menjadi kota masyarakat Islam. Kita menyaksikan Jabal Uhud tempat perjuangan para sahabat dalam menegakkan kebenaran melawan kekafiran dan kebatilan. Kita menyaksikan Lembah khandaq tempat dimana rasul melakukan taktik dan strategi dan manajemen perang yang paling hebat. Terakhir kita menziarahi maqam rasulullah saw dan masjid nabawi, masjid yang dibina oleh Rasulullah saw. Setelah kita menyaksikan semuanya itu; tergerakkah hati kita untuk mengikuti perjuangan dan pengorbanan beliau para Nabi dan para sahabat tersebut.
Jika kita dapat menceritakan kepada anak-anak kita di rumah; kepada tetamu dan tetangga serta kawan-kawan kita bagaimana perjuangan para nabi dan para sahabat dalam memperjuangkan Islam, dam berjihad fi sabilillah; sehingga semuanya berusaha untuk mengikuti sepak terjang para anbiya, para syuhada dan shalihin tersebut inilah baru oleh-oleh dari tanah suci. Jika kita yang baru pulang dari tanah suci dapat mencontoh sedikit saja pengorbanan dan perjuangan para anbiya dan syuhada tersebut inilah baru haji mabrur. Kalau para anbiya dan para sahabat dengan darah, harta, dan jiwa mereka telah berkorban demi menegakkan agama Islam; apakah yang sudah kita perbuat, berapa banyak harta kita yang telah kita sumabngkan, berapa banyak waktu dan kesempatan yang telah kita korbankan demi memperjuangkan agama Islam, demi membantu ummat Islam. Jika Rasulullah saw sebelum ajal menjemput, beliau masih menyebutkan : Ummatii, Ummatii; Umatku, ummatku. Beliau masih memikirkan keadaan ummat Islam setelah kepergian beliau. Sekarang, masihkan ada dalam hidup kita setiap hari waktu dan kesempatan untuk memikirkan ummat Islam, untuk membantu perjuangan Islam. Sudah berapa persenkah dari harta kekayaan kita yang telah kita sumbangkan untuk perjuangan Islam. Ataukah selama ini kita terlalu mementingkan diri kita masing-masing, kita bersikap egois. Yang kita pikirkan hanyalah hartaku, jabatanku, kedudukanku, posisiku, kursiku, tanpa pernah memikirkan nasib ummat islam yang sekian banyak sedang terlantar.
Kalau Nabi Ibrahim dan Siti Hajar tanpa fasilitas dan sarana yang canggih telah dapat mendidik anaknya menjadi anak yang shaleh; dapatkan kita dengan segala bentuk fasilitas seperti rumah, kenderaan, tivi, telepon, video dan lain sebagainya memdidik anak-anak kita menjadi anak yang beriman; membentuk keluarga kita menjadi keluarga yang beriman, membentuk masyarakat kita menjadi masyarakat yang beriman. Kalau Rasulullah saw telah dapat membangun masyarakat madinah ; sebagai haji yang mabrur apakah yang dapat kita bangun bagi membina keimanan masyarakat kita. Rasulullah telah memberikan gambaran kepada kita tentang cara kerja yang rapi dengan stategi dan manajemen yang tepat, bagaimanakah cara kerja kita selama ini di dalam masyarakat. Jika seorang yang baru pulang haji dapat mencontoh dan menjadi pelopor dalam bekerja dan beramal, dalam manajemen dan berorganisasi, dalam berjuang dan berkorban demi menegakkan ajaran agama Islam seperti membantu madrasah, pesantren, masjid, surau, anak yatim, faqir miskin, janda-janda; dan membantu segala bentuk perjuangan dakwah Islam; inilah oleh-oleh dari tanah suci yang lebih utama daripada serban dan korma. Selamat datang jamaah haji , semoga menjadi haji yang mabrur. Tugas ummat menanti di hadapan kita . Fastabiqul khairaat. *********
RENUNGAN DI AKHIR TAHUN
“ Kamu adalah ummat terbaik yang dimunculkan ditengah manusia,
yang selalu menyuruh manusia berbuat makruf dan mencegah mereka
dari kemungkaran serta beriman kepada Allah “ ( QS. Ali Imran : 110 )
Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa : “Tidak ada satu haripun jika matahari telah terbit di ufuq timur kecuali disana bergema suatu seruan : Hai anak cucu Adam, aku ini ( yaitu hari ) adalah makhluk yang baru…dan amal pekerjaanmu semua akan menjadi saksi..oleh karena itu rebutlah aku ( pergunakan hari ini sebaik-baiknya ) karena aku tidak akan kembali sampai hari kiamat”. Dari hadis tersebut diatas, dapat kita simpulkan bahwa setiap muslim harus dapat mempergunakan setiap detik, setiap menit, setiap jam, setiap hari yang dilaluinya. Mengapa demikian, karena waktu itu diciptakan agar manusia dapat mempergunakannya sebaik mungkin. Mempergunakan waktu sebaik mungkin adalah tugas dan kewajiban utama setiap hamba. Begitu mahalnya harga waktu sehingga dalam Al Quran disebutkan : Demi waktu, sesungguhnya manusia itu semuanya akan ditimpa kerugian, kecuali mereka yang dapat mempergunakan waktu mereka sebaik-baiknya dengan cara beriman kepada Allah, beramal shaleh, saling memberi nasehat dalam kebaikan dan dalam kesabaran. Sudahkan setiap detik dan menit yang kita lalui setiap hari penuh dengan iman dan amal shaleh…? Mari kita adakan cheklist atas waktu kita selama duapuluh empat jam sehari semalam..Berapa banyak yang kita pakai untuk beramal, beribadah, berbuat positip…? Ataukah selama ini waktu kita lebih banyak terbuang percuma tanpa nilai apalagi pahala..? Berapa banyak waktu kita hilang untuk nonton tivi, ngobrol sana dan sini, nongkrong di warung kopi, berjalan-jalan di plaza, diskotik, mall, dan lain sebagainya.
Tanpa sadar kita selama ini telah dijajah oleh penjajahan waktu, artinya waktu kita lebih banyak terbuang percuma daripada bernilai positip dan menjadi amal shaleh. Inilah kerugian ummat Islam terbesar di dalam kehidupan modern sekarang. Hebatnya lagi gejala ini bukan hanya menyerang sekelompok ummat tapi telah menjadi budaya masyarakat tua dan muda, besar dan kecil. Kaum bapak membuang waktunya dengan ngobrol di warung kopi, di kantin kantor, atau disela-sela bekerja yang kadang-kadang kalau dihitung antara waktu bekerja dan waktu ngobrol lebih banyak waktu ngobrol. Kaum ibu menghabiskan waktu berjam-jam di depan ltivi nonton sinetron, atau mengobrol dengan tetangga dan kawan. Para gadis sibuk dengan jalan-jalan di plaza, ngrumpi kesana dan kemari, mejeng di sana dan sini. Remaja dan pemuda disibukkan dengan merokok, minum bir, main video game, main judi, dan lain sebagainya. Anak-anakpun disibukkan dengan bermain kartu dan permainan lain yang tidak bersifat mendidik. Para pemimpin masyarakat disibukkan dengan mencari kedudukan dan kursi, bukan mengurus ummat. Pemimpin ummat dan agama disibukkan dengan perselisihan pendapat dan masalah khilafiyah. Kalau sudah demikian, kapan lagi kita akan bekerja secara produktif, kapan lagi ibu-ibu akan menjadi ibu yang shalihah bagi anak-anaknya, kapan lagi waktu generasi muda untuk belajar dan membaca, dan kapan lagi para pemimpin duduk bersama membicarakan permasalahan ummat dan bekerjasama membangun ummat dengan manajemen dan organisasi yang rapi…?
Akibatnya, kita menjadi masyarakat pemalas padahal Rasul setiap hari berdoa : “Allaahumma inni auudzubika minal kasal, Ya Allah aku berlindung kepadaMu daripada sifat malas “. Kita menjadi masyarakat konsumtif, dan senang berfoya-foya (mubazir ), padahal mubabzir itu adalah kawannya syetan. Kita dilanda krisis moral dan akhlaq padahal rasul diutus untuk menyempurnakan akhlak…dan akhirnya kita menjadi ummat yang mudah digoyang oleh kondisi, ummat yang tidak punya jati diri, ummat yang tidak memiliki kekuatan; baik kekuatan jasmani, kekuatan intelektual, kekuatan ekonomi, kekuatan budaya dan lain sebagainya.
Lihatlah hari ini ummat Islam telah menjadi ummat yang kehilangan jati diri. Namanya memang masih berlabel Islam seperti Ahmad, Fatimah dan lain sebagainya; tapi pribadinya tidak mencerminkan nilai-nilai iIslam. Ibadahnya kalau teringat saja; akhlaknya lebih rusak daripada non muslim; muamalah ( hubungan sosialnya ) kalah dengan ummat lain; dalam ekonomi kita menjadi pangsa pasar yang mudah digoyang; harga mereka yang menentukan kita tinggal mengeluh dan sabar; kita belum menjadi penentu kebijakan ekonomi; padahal Nabi Muhammad adalah pedagang yang paling hebat; tapi sayang ummatnya sekarang hanya menjadi pembeli yang paling rakus.
Dalam budaya, kita telah kehilangan identitas. Lihat saja dari seni, acara tivi, film, musik, pakaian, gaya hidup semuanya telah berubah , bergeser dari nilai-nilai Islam, dan mengikuti budaya barat. Kita dijajah bukan dalam politik; tapi dijajah dalam budaya, dalam ekonomi, dalam cara berpikir, dalam kehidupan sehari-hari. Padahal kita ummat yang memiliki identitas, memiliki karakteristik dalam segala bidang dan mempunyai rujukan yaitu Rasulullah beserta para sahabat. Kita memiliki segala potensi, kita memiliki khazanah intelektual para ulama dalam berbagai bidang; , kita memiliki sumber alam yang banyak, kita merupakan ummat yang terbesar. Tapi mengapa kita tidak dapat mempergunakan segala potensi yang telah diberikan oleh Allah tersebut..? Mengapa kita menjadi “ Fii Khusriin “, masyarakat yang terus dalam kerugian sebagaimana yang disinyalir dalam surat Al Ashr. ..?
Mungkin selama ini kita telah lupa..bahwa kita mempunyai suatu tugas dan tanggung jawab untuk menjadi “ Khairu Ummah “, ummat yang harus dapat tampil sebagai teladan dalam segala bidang. Teladan dalam ekonomi sebagai pelaku produser bukan konsumer. Teladan dalam politik sebagai pengambil dan penentu segala kebijaksanaan bermasyarakat. Teladan dalam kerja dengan etos kerja yang tinggi. Teladan dalam masyarakat dalam bermuamalah dan berkomunikasi. Teladan dalam manajemen dan berorganisasi. Teladan dalam budaya sebagai masyarakat yang menjadi rahmat bagi sekalian alam. …Ini semua dengan satu cara yaitu dapat mempergunakan waktu dengan sebaik mungkin, dengan iman dan amal shaleh.
Kalau ummat Islam tidak dapat mempergunakan nikmat waktu , tidak dapat mensyukuri nikmat waktu dengan sebaik mungkin, maka inilah akibatnya; kita menjadi ummat yang tidak berharga. Kita juga harus waspada dengan strategi musuh yang selalu mencari celah dan titik kelemahan kita, selalu membuat kita bertengkar, membuat kita sibuk dengan pekerjaan rumah, padahal masalah yang lebih utama, masalah akidah, masalah ekonomi, masalah akhlak, masalah pendidikan, masalah rumah tangga, masalah identitas dan budaya masih lebih banyak; tetapi sayangnya itu semua kurang menjadi perhatian kita.
Sudah saatnya di akhir tahun 1418 hijriah ini kita melakukan intropeksi diri, semoga di tahun mendatang ummat Islam dapat merencanakan langkah-langkah dan program yang lebih konkrit dengan serius. Semoga setiap keluarga mempunyai rencana dan program untuk membina keluarga sakinah , mawaddah dan rahmah. Semoga setiap organisasi massa , pengajian dan lain sebagainya dapat bekerjasama membangun ummat dan berbagi bidang. Ada yang menekuni pendidikan, ada ekonomi, ada budaya dan lain sebagainya. Semuanya harus lebih serius bukan sekedar formalitas ataupun sekedar show dengan jumlah jamaah yang banyak. Biasanya dalam menyongsong tahun baru hijrah, banyak dilakukan tabligh akbar disana sini. Kita berharap agar tabligh akbar tersebut mempunyai tema yang jelas, sasaran yang jelas, sehingga moment hijrah tersebut benar-benar dapat memberikan kesadaran kepada seluruh ummat untuk segera bangkit, segera menata diri demi menghadapi tantangan yang bertambah hebat dimasa mendatang.
Mari kita optimalkan fungsi masjid, sehingga dapat menjadi tempat pembinaan ummat, bukan hanya tempat shalat semata. Kuatkan akidah dan ukhuwah antar kita, jalin kerjasama antar organisasi dan lembaga,hilangkan fanatisme kelompok dan firqah. Tingkatkan semangat zakat, waqaf, infaq dan sedekah di tengah ummat. Tingkatkan ibadah sosial di tengah masyarakat. Bina dan didik serta tuntun generasi muda dengan iman dan ilmu sehingga dapat menjadi generasi teladan di masa mendatang. Orangtua dan pemimpin harus dapat menjadi contoh dan panutan.
Mari kita bersama-sama berusaha untuk berdakwah, mencegah kemungkaran -paling tidak diri- bermula dari pribadi , dan keluarga kita masing-masing. Bersihkan niat kita dalam segala hal. Jadikanlah tujuan kita dalam berusaha dan beramal hanya mencari ridha-Nya. Karena niat dan amal menjadi ukuran penilaian disisi Allah. Mari kita serius dalam segala hal, serius dalam bekerja, serius dalam mengurus keluarga, serius dalam berorganisasi, serius dalam berjamaah, dalam berdakwah dan lain sebagainya. Tinggalkan formalitas dan lips service. Tingkatkan etos kerja dan kualitas. Kita dituntut untuk berbuat, bekerja, beramal. Tinggalkan gaya hidup santai, sikap malas, dan sikap membuang-buang waktu. Ingatlah waktu adalah nikmat dan amanat dari Allah yang harus kita pertanggungjawabkan walaupun satu menit di depan pengadilan Allah . “Time is duty and responsibility “.
Mungkin kita telah lupa untuk menjadikan Islam sebagai cara hidup kita, karena ajaran Islam hanya kita laksanakan sepotong-potong atau bersifat temporal saja seperti kalau masuk masjid atau dikala bulan ramadhan , waktu khitan , nikah dan pemakaman. Kita telah lupa untuk menjadikan iman dan tauhid serta ikhlas sebagai motivasi kita dalam bersikap. Jika kita melupakan Allah, maka Allah akan melupakan kita terhadap diri kita, kita lupa akan terhadap identitas kita , terhadap jati diri kita : “ Janganlah kamu menjadi seperti mereka yang lupa kepada Allah maka Allah melupakan mereka dari diri mereka sendiri “ ( QS. Al hasyr : 9 ) .
Sayyidina Umar bin Khattab berkata : “ Sebelum Islam, kami adalah bangsa yang hina; maka Allah memuliakan kami dengan Islam. Maka jika kami masih mencari kemuliaan dengan cara yang tidak islami, maka kami akan dihinakan Allah kembali “. Selamat Tahun Baru Hijrah, Semoga Allah mengampuni segala kesalahan kita dimasa yang lalu, dan memberi kita kekuatan, kesuksesan dan kemenangan di masa mendatang..Taqabbalahhu Minna wa minkum, fii kulli Amin wa antum bii khairin….Ya Allah jadikanlah tahun mendatang , tahun yang penuh keberkatan, dan berilah kami petunjuk_dan kekuatan agar kami dapat menjadi “ Khairu Ummah “ sebagaimana yang telah Engkau tetapkan dalam Kitab-Mu. Amin…Ya Rabbal Alamin. ( ABU RAYYAN ).
HIJRAH NIAT DAN MOTIVASI
“ Sesungguhnya setiap pekerjaan itu akan dinilai
sesuai dengan niat yang melakukannya “
( Hadis Muttafaq alaihi )
Secara harfiyah, hijrah berasal dari kata-kata “ ha-ja-ra ” yang berarti berpindah dari suatu tempat ke tempat yang lain atau dari suatu keadaan kepada keadaan yang lebih baik. Secara historis hijrah bagi ummat Islam adalah peristiwa yang sangat mulia dimana nabi Muhammad saw berpindah dari kota kelahirannya Makkah al Mukarramah ke sebuah kota yang bernama Yatsrib yang terjadi pada tanggal 24 September 622 . Dalam sejarah ummat manusia kita dapat melihat bahwa hijrah merupakan untaian sejarah dimana Nabi Adam berhijrah dari Surga ke atas permukaan bumi untuk mengemban amanat khalifah fil ardh. Nabi Nuh berhijrah dengan kapal yang menyelamatkan beliau dan pengikutnya dari bencana banjir. Nabi Ibrahim berhijrah dari negeri Babilonia ke negeri Mesir dan negeri Palestina. Nabi Ismail hijrah dari negeri Palestina ke kota Makkah. Nabi Musa hijrah dari Mesir ke negeri Palestina. Nabi Yusuf hijrah dari Palestina ke negeri Mesir.
Dalam al Quran kita dapati sekian banyak kata-kata hijrah . “ Bangunlah orang yang berselimut, lalu berilah peringatan dan agungkanlah Tuhanmu, bersihkanlah pakaianmu dan tinggalkan segala perbuatan dosa “ ( QS.Al Muddasir : 1-5). Dari ayat ini dapat kita simpilkan bahwa hijrah berarti meninggalkan perbuatan dosa. Di ayat yang lain “ Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ( orang kafir ) ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik “ ( Qs.AlMuzammil: 10 ) . Dari ayat ini hijrah berarti kita harus menjauhi kawan dan lingkungan yang tidak baik dan mencari lingkungan yang lebih baik dengan cara yang baik dan bijaksana. Dalam surat Al Ankabut, Nabi Ibrahim berkata : “Sesungguhnya aku akan berpindah ke tempat yang diperintahkan Tuhanku “(QS.Ankabut : 26 ).
Dari ayat ini jelas bahwa hijrah adalah suatu usaha untuk melakukan sesuatu yang diperintahkan oleh Tuhan. Dalam ayat yang lain disebutkan : “ Mereka (orang kafir ) ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, dan kamu akan sama dengan mereka. Maka janganlah kamu menjadikan mereka sebagai penolongmu hingga mereka berhijrah pada jalan Allah “ ( QS. Annisa : 89 ). Dari ayat ini jelas disebutkan orang kafir akan selalu berusaha menjadikan ummat Islam agar mempunyai sikap hidup, tradisi, budaya, cara berpikir, cara bekerja, cara berdagang, cara berpakaian, cara hidup yang sama dengan cara dan pola mereka.
Lihat saja pada saat sekarang ini, bagaimana negara barat berusaha agar seluruh negara ummat Islam tunduk di bawah kekuasaan dan kebijaksanaan mereka. Mereka menginginkan agar cara berpikir ummat Islam sama dengan cara berpikir mereka. Mereka disibukkan dengan hidup keduniaan dengan gaya hidup materialis ( hanya mementingkan materi ) , gaya hidup hedonis ( berbuat sesuai dengan hawa nafsu ) dan tidak pernah memikirkan bahwa di akhirat nanti masih ada kehidupan yang lebih abadi. Hidup mereka dalam sehari-hari terpisah dari nilai - nilai agama ( hidup sekular ) dan bagi mereka agama hanyalah urusan individu belaka. Mereka berekonomi dengan gaya kapitalis yang penuh dengan unsur riba, dan tanpa memperdulikan nilai-nilai moral dalam berdagang. Yang kaya terus kaya dan yang miskin biarkan miskin; tidak ada perhatian si kaya kepada si miskin. Harta adalah milik mutlak pribadi dan tidak unsur sosial apalagi unsur ibadah di dalamnya. Nilai-nilai akhlak dan moral tidak menjadi dasar dalam bertindak, tetapi yang menjadi dasar adalah nilai keuntungan dan manfaat.
Dalam bekerja yang menjadi tujuan utama adalah uang, karier, populeritas. Mencari ilmu juga dengan tujuan sekular, agar nanti dapat kerja, kedudukan, titel dan lain sebagainya. Hubungan keluarga, antara anak dan bapak hanya hubungan darah dan hukum kekeluargaan tidak ada nilai-nilai spiritual , sehingga boleh jadi seorang anak tidak akan peduli dengan kematian orangtuanya, dan seorang bapak tidak peduli dengan kemaksiatan yang dilakukan oleh anak-anaknya. Dalam perpakaian mereka tidak memperdulikan masalah aurat, atau malu.. Busana bagi mereka hanyalah hiasan bukan penutup aurat. Dalam makanan mereka memakan apa saja yang penting enak dan bermanfaat tanpa memikirkan apakah ini halal atau haram. Dalam bermasyarakat mereka menjadi insan individualis, sehingga boleh jadi seorang kaya tidak lagi mengenal siapa nama dan bagaimana keadaan tetangga disamping rumahnya. Yang dia kenal hanyalah teman bisnis atau orang-orang tertentu yang dapat menunjang karier dan bisnisnya. Tetangga sebelah rumahnyapun tidak dapat datang bersilaturrahmi ke rumahnya karena disana ada anjing galak atau satpam dengan penampilan yang seram. Ini adalah beberapa bentuk sikap hidup orang kafir yang tanpa sadar telah banyak mempengaruhi sikap hidup ummat Islam.
..Tanpa sadar kita telah sama dengan mereka, walaupun agama dan aqidah kita berlainan. Kita harus waspada karena mereka akan terus berusaha menjadikan gaya hidup kita sama dengan gaya hidup mereka, inilah yang mereka sebut globalisasi . Maka Allah menyuruh kita untuk hijrah..hijrah…dan hijrah. Hijrah bukan berarti pindah tempat, tetapi hijrah dalam arti kita mempunyai niat, motivasi, sikap , penampilan, gaya hidup, cara berpikir yang tidak sama dengan mereka. Mengapa…? Karena mereka tidak beriman kepada Tuhan, apalagi kepada nabi Muhammad sedangkan kita manusia yang beriman kepada Allah dan Rasulullah; maka gaya hidup dan cara berpikir kita harus sesuai dengan petunjuk kehidupan yang telah Allah berikan dan dipraktekkan oleh Rasulullah saw… Kita mempunyai Kitab Suci Al Quran, kita mempunyai Hadis dan Sunnah, maka hidup kita harus sesuai dengan kedua pedoman tersebut; bukan sesuai dengan kehidupan dan gaya mereka yang kafir. Hidup di atas “ Shiraatal Mustaqim “ hidup berdasarkan petunjuk Ilahi, bukan mengikut cara hidup orang kafir yang sudah jelas mendapat predikat “ Maghduub alaihim “ dan cara hidup mereka yang “ Dhaaallin “.
Inilah makna hijrah . Hijrah dari kondisi yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam kepada “ Shiraatal Mustaqim “ cara dan pola hidup yang lurus dengan niat hanya mencari keridhaan Ilahi. Hijrah berarti juga usaha untuk mengembangkan potensi diri agar diri lebih baik sehingga dapat mengemban amanat khalifah di muka bumi. Hijrah dalam karier berarti berusaha untuk meningkatkan karier . Hijrah dalam ilmu juga berarti berusaha untuk mencari ilmu yang lebih banyak. Hijrah dalam harta berarti berusaha mencari kekayaan yang lebih banyak. Tetapi itu semua harus dilakukan dengan motivasi yang suci, yaitu motivasi dan niat untuk mencari keridhaan Ilahi. Niat untuk dapat mengemban khalifah dan untuk beribadah kepada-Nya. Peranan dan kedudukan niat dalammengadakan suatu perubahan sikap dan pengembangan diri inilah yang sangat penting dalam pandangan Ilahi. Oleh karena itu mengapa rasulullah sejak awal sudah memperingati kita dengan sebuah hadis tentang niat berhijrah. Mengapa ini penting..? Karena banyak orang melakukan perubahan sikap , meningkatkan karier ( agar kedudukannya lebih baik ), mencari kekayaan ( agar hartanya lebih banyak ) atau mencari dan menambah ilmu bukan dengan niat “ untuk Allah dan rasul-Nya” tetapi dengan niat untuk memuaskan hawa nafsu atau untuk kesenangan dunia. Inilah yang dijelaskan Nabi dalam hadis beliau.“ Sesungguhnya setiap pekerjaan itu akan dinilai sesuai dengan niat dan motivasi dalam melakukannya. Oleh karena itu setiap orang akan mendapat balasan ataupun hasil sesuai dengan niat dan motivasinya tersebut. Maka barangsiapa yang berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya akan sampai kepada Allah dan rasul-Nya. Dan barangsiapa yang melakukan hijrah karena mencari dunia atau mencari wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya akan sesuai dengan niat dan motivasi tersebut ( mendapat dunia atau wanita ) “.
Menurut Ibnu Daqiq, hadis ini terjadi disebabkan ada seorang sahabat yang berhijrah ke Madinah disebabkan oleh wanita yang bernama Ummu Qais…Dari hadis ini dapat disimpulkan bahwa niat dan motivasi berbuat adalah ukuran dari segalanya. Niat dan motivasi tersebut biasanya berdasarkan pada tiga hal . Pertama hidup dan berbuat sesuatu dengan niat dan tujuan mencari kepuasaan keduniaan seperti mencari populeritas, mencari kedudukan, mencari kekayaan, dan lain sebagainya. Inilah sikap seorang materialis. Kedua, ada lagi manusia berbuat bukan mencari populeritas, kedudukan atau pangkat tetapi mencari kepuasan hawa nafsu, seperti untuk bersenang-senang , berfoya-foya, dan lain sebagainya. Inilah yang dinamakan hidup hedonis, yaitu hidup hanya untuk mencari kesenangan dan kepuasan belaka. Yang ketiga adalah hidup dan bekerja dengan niat mencari keridhaan Allah dengan cara menjalani petunjuk-Nya dan mengikuti cara hidup yang telah dicontohkan oleh rasul-Nya Muhammad saw. Inilah cara hidup seorang muslim.
Dari keterangan di atas, mari kita teliti cara hidup kita selama ini. Sudahkah kita hidup, bekerja, berkeluarga, mendidik anak, memberi makan anak, berdagang, berkarya, berkarier, belajar, mencari ilmu, menjadi guru, mengajarkan ilmu, menjadi ustadz, menjadi da’I, menjadi direktur, menjadi ayah, menjadi ibu, menjadi isteri, menjadi pemimpin, pemjadi pengurus, menjalankan ibadah shalat, menunaikan zakat, menunaikan rukun haji, mendatangi majlis pengajian, menjadi dosen, menikah, berpakaian, berpenampilan, benar-benar dengan niat mencari keridhaan Allah, dengan niat menjalankan sunnah Rasulullah, dengan niat ibadah ataukah sewaktu kita melakukan itu semua masih tersisa disana niat-niat keduniaan dan hawa nafsu….? Apakah kita bekerja karena perintah Allah atau karena ingin mencari kekayaan dunia..Apakah kita mendidik anak karena perintah Allah atau karena agar anak tersebut nanti menjadi orang hebat, orang pintar, bukan orang shaleh..? Apakah kita nikah dan berkeluarga karena ingin mencari kepuasan hawa nafsu bukan karena menjalankan perintah Allah..? Apakah kita belajar untuk mendapat titel, gelar, dan agar menjadi seorang cendikiawan bukan karena perintah Allah..? Apakah kita membantu orang karena ada kepentingan tertentu , apakah kita berkawan dan bersilaturrahmi karena ada kepentingan duniawi ..? Sudah selayaknya kita masuki bulan Muharram di tahun baru ini dengan mengadakan hijrah dalam niat dan motivasi kita dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari. Karena ini adalah yang utama; tetapi sayang banyak manusia yang terlupa. Selamat berhijrah..!
HIKMAH HARI ‘ASYUURA
“ Dan kemudian Kami selamatkan para rasul dan mereka yang beriman “
( QS. Yunus : 103 )
Tanggal sepuluh Muharram dikenal dengan nama hari Asyuuraa. Kata-kata Asyura berasal dari kata-kata Asyarah yang bermakna sepuluh. Maka arti Hari Asyura adalah hari yang kesepuluh di bulan Muharram, bulan pertama dalam penanggalan hijriyah. Di hari Asyura tersebut menurut kajian sejarah merupakan hari yang sangat bersejarah. Dalam kitab “ Nuzhatul Majalis wa Muntakhabul al Nafais “ karangan Syekh Abdurrahman Safuri Assyafii disebutkan bahwa pada hari tersebut telah terjadi beberapa peristiwa penting dalam perjalanan sejarah para nabi dan rasul. Pada hari tersebut nabi Adam alaihissalam diberi ampunan oleh Allah. Pada hari Asyura kapal Nabi Nuh mendarat di bukit Judiy ( daerah Iraq sekarang ) setelah kapal itu berada di atas air bah selama seratus lima puluh hari. Pada tanggal sepuluh Muharram tersebut Nabi Ibrahim alaihissalam diselamatkan dari panasnya nyala api yang dibuat oleh raja Namrud. Di hari Asyura Nabi Ayyub disembuhkan Allah dari penyakit yang di deritanya, dan Nabi Yunus keluar dengan selamat dari perut ikan setelah berada di dalamnya selama empat puluh hari. Pada hari Asyura Nabi Ya’qub bertemu kembali dengan Nabi Yusuf setelah anak dan ayah tersebut berpisah selama empat puluh tahun. Pada hari Asyura tersebut Nabi Isa alaihissalam dilahirkan dan juga pada tanggal sepuluh Muharram Nabi Muhammad saw melangsungkan aqad nikah dengan Khadijah binti Khawalid. Menurut sebagian kitab sejarah, pada hari itu juga Nabi Adam dan Hawa diciptakan oleh Allah subhana wa taala. Wallahu A’lam bisshawab. Hanya Allah yang maha Mengetahui atas segala peristiwa yang terjadi.
Begitu banyaknya peristiwa bersejarah yang terjadi pada tanggal sepuluh Muharam ( hari Asyura ), maka masyarakat yahudi di kota Madinah biasanya menyambut hari tersebut dengan penuh kegembiraan. Sewaktu ditanya mengapa mereka sangat gembira dan merayakan hari tersebut..? Mereka menjawab karena pada hari itu Nabi Musa diselamatkan dari kejaran Fir’aun yang zalim. Mendengar keterangan demikian, maka rasulullah saw menjawab : kalau begitu kami lebih berhak untuk merayakan hari bersejarah tersebut, insya Allah pada tanggal sepuluh Muharram di tahun mendatang aku akan merayakannya dengan berpuasa. Sayangnya , Nabi Muhammad saw tidak sempat berpuasa Asyura di tahun selanjutnya, karena beliau menghadap kepada Malikul Mannan, Allah swt sebelum tanggal sepuluh Muharram tahun berikutnya. Walaupun Rasulullah saw tidak sempat berpuasa pada Hari Asyura, tetapi beliau telah berniat untuk melaksanakan puasa sunat di hari Asyura. Oleh karena itu para ulama berijtihad tentang hukum sunat untuk berpuasa di hari Asyura.
Dari keterangan di atas dapat kita lihat bagaimana Rasulullah saw mengajarkan kita cara merayakan suatu hari bersejarah. Jika kaum Yahudi merayakan hari bersejarah tersebut dengan bersenang-senang dan bersuka ria, maka ummat Islam merayakannya bukan dengan cara demikian, tetapi dengan cara mendekatkan diri kepada Allah. Jika kaum yahudi ( dan juga masyarakat modern jaman sekarang ) merayakan hari bersejarah tersebut dengan mengadakan pesta, menari-nari, menyanyi dan melampiaskan segala keinginan dan hawa nafsu dengan makan yang enak, minum minuman keras dan lain sebagainya; maka Rasulullah mengajarkan kita untuk merayakannya dengan menahan diri dari segala keinginan hawa nafsu, yaitu dengan berpuasa dan memperbanyak amal. Budaya masyarakat yahudi yaitu merayakan sesuatu dan memperingati sesuatu hari dengan suasana sukaria melalui pesta makanan dan minuman serta segala yang enak tanpa disadari telah melanda masyarakat dunia.
Lihat saja dalam kehidupan kita sekarang ini, hari ulang tahun kelahiran diperingati dengan pesta yang penuh dengan makanan dan minuman yang mubazir, malah kadang-kadang dipenuhi dengan cara-cara yang penuh dengan dosa seperti acara dansa , acara pesta seks , dan lain sebagainya. Acara ulangtahun perkawinan demikian juga, entah itu perkawinan emas atau perkawinan perak, semuanya diperingati dengan cara menghambur-hamburkan uang yang kadang-kadang terkesan mubazir.
Budaya ini bukan saja bersifat individual, tetapi sudah bersifat kolektif dan regional. Lihat saja kita juga masih membudayakan untuk memperingati hari-hari tertentu yang bersejarah dengan cara mengadakan panggung gembira atau pentas musik semalam suntuk, atau mengadakan pertunjukan wayang kulit semalam suntuk yang kadang-kadang menghabiskan dana sampai jutaan rupiah. Kita ingin memperingati hari tersebut karena ada beberapa peristiwa penting di dalamnya; ternyata yang kita lakukan adalah menyia-nyiakan waktu di hari tersebut dengan acara-acara yang tidak bernilai sama sekali. Ini bukan budaya Islam, ini bukan budaya timur, tetapi ini adalah budaya barat yang mempunyai prinsip nbahwa hidup ini hanya untuk bersenang-senang dan berfoya-foya. Bagi seorang muslim, hidup ini adalah untuk ibadah, maka segala bentuk acara yang dilakukan harus bernilai ibadah kepada-Nya.
Mari kita lihat beberapa ijtihad yang telah dibuat oleh para ulama kita agar dalam memperingati acara tersebut bernilai ibadah, penuh dengan zikir, tasbih, dan doa. Sebagai contoh, masyarakat dulu dalam memperingati sesuatu biasanya diperingati dengan mengadakan acara tahlilan ( membaca kalimah tauhid, tasbih, tahmid ), acara membaca yasin, acara samadiyah ( membaca Surat alikhlas ) , membaca Marhaban, dan lain sebagainya. Ini semua dilakukan untuk mengantisipasi agar masyarakat pada hari-hari yang diperingati tersebut tidak terpengaruh dengan budaya foya-foya atau budaya barat .
Mari kita bayangkan, seandainya acara memperingati hari ulang tahun kelahiran atau ulang tahun perkawinan, atau hari jadi sebuah perusahaan dan lain sebagainya diisi dengan acara membaca surat-surat pendek dari Al Quran atau membaca surat Yasin, atau membaca tahlil, tasbih dan tahmid kemudian ditutup dengan doa bersama. Apalagi jika diikuti dengan amal sosial seperti membantu faqir miskin, anak yatim dan lain sebagainya. Cara memperingati hari bersejarah tersebut akan lebih indah dan bermakna daripada hanya diisi dengan acara pesta dan dansa, dan lain sebagainya.
Kadang-kadang masyarakat juga terperangkap dengan budaya syirik yang sering dilakukan oleh kaum kafir dan musyrik. Sampai saat ini masih kita lihat atau kita dengar mereka yang merayakan sesuatu dengan menganggap bahwa hari itu keramat, hari itu begitu sakral sehingga mereka mengadakan kegiatan yang mengandung unsur syirik. Seperti pada hari Asyura yang lebih dikenal oleh masyarakat jawa dengan bulan Suro sekarang ini di beberapa tempat biasanya ada yang memperingatinya dengan acara mandi di laut atau di bawah air terjun dengan tujuan untuk menolak bala. Ada lagi yang mengadakan acara bergadang semalam suntuk dengan keyakinan bahwa barangsiapa yang tidak tidur di malam Asyura akan awet muda. Ini semua bukan ajaran Islam…, karena walaupun hari itu mempunyai nilai sejarah; tetapi hari tersebut tidak harus dimuliakan atau dikultuskan dan dianggap dapat mendatangkan manfaat atau mudharat. Yang harus disyukuri dan dikultuskan bukan hari atau waktu sehingga harus mengadakan ini dan itu, tetapi yang harus dimuliakan adalah Allah subhana wataala, maka cara memperingatinya bukan dengan cara mengkultuskan hari tetapi dengan cara mendekatkan diri kepada Allah, dengan cara berzikir, beribadah, atau memperbanyak amal ibadah sosial seperti bersedekah, membatu faqir miskin dan lain sebagainya.
Itulah sebabnya mengapa Rasulullah menyuruh kita agar merayakan hari Asyura tidak dengan cara - cara yahudi seperti pesta pora dan berfoya-foya dan juga tidak dengan mengkultuskan hari tersebut; tetapi beliau menyuruh kita untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan menjalankan puasa, dan memperbanyak sedekah. Agar ummat Islam terhindar dari cara-cara yang duniawi atau bersifat syirik, maka disana terdapat beberapa hadis motivasi agar kita melakukan puasa di hari tersebut. Sebagai contoh dalam kitab “ Nuzhatul majlis “ tersebut dijelaskan bahwa : “ Barang siapa yang berpuasa di hari Asyura, maka Allah akan menuliskan baginya pahala sebagaimana mereka yang melakukan seribu kali haji, seribu kali umrah, dan diberikan padanya pahala seribu kali syahid, dan dibangunkan baginya seribu istana di dalam surga dan diharamkan tubuhnya dari api neraka “. Dalam riwayat yang lain dijelaskan bahwa : “ Barangsiapa yang memudahkan urusan orang lain terutama keluarga dan sanak saudaranya di hari Asyura maka Allah akan memudahkan urusannya selama setahun kemudian “. Yang jelas ini semua mengajarkan kita agar kita dalam merayakan sesuatu harus dengan niat ikhlas kepada Allah, hanya ingin mensyukuri nikmat dan karunia-Nya tapi tidak dengan cara-cara yang “ maghdub alaihim “ seperti cara-cara yahudi dan nasrani yaitu dengan berpesta pora, bergadang semalam suntuk tanpa makna atau cara-cara yang mubazir; dan juga bukan dengan cara-cara yang “ dhallin “ seperti cara-cara yang berunsur syirik, tetapi dengan cara yang islami, cara yang mulia, cara yang suci yaitu dengan cara taqarrub kepada-Nya, berzikir, bertasbih, beribadah , berdoa , beristighfar dan beramal sosial. Kalau di hari Asyura sekian banyak Para nabi dan rasul beramal dan memohon ampun kepada Allah sehingga mereka diselamatkan oleh-Nya ; maka dihari Asyura ini, mari kita renungkan : sudahkah kita penuhi hidup kita dengan iman, dengan beristighfar dan beribadah kepada-Nya agar kita selamat . Allah telah berjanji bahwa kita selamat jika kita beriman kepada-Nya, itulah yang telah dicatat oleh sejarah para rasul. Bisa jadi, jika selama ini kita selalu menderita , mungkin karena kita telah lupa kepada-Nya atau kita telah terlalu banyak memakai nikmat dan karunia yang telah diberikan Tuhan dijalan yang tidak diridhai-Nya. Astaghfirullah….Fastaghfiruuu Ya ulil absaar……..!!!
ISLAM : AGAMA KEDAMAIAN
“ Allah mengajak kamu sekalian kepada Daarussalam, negeri yang aman“
( QS. Yunus : 25 )
Seorang Arab baduy bertanya kepada Rasulullah saw : Ya Muhammad, apakah arti Islam..? Rasul menjawab : “ Al Muslim man salimal muslimuna bilisanihi wa yadihi “, seorang muslim adalah siapa yang dapat menyelamatkan orang muslim yang lain baik dengan lisannya maupun dengan tangannya. Kemudian orang itu bertanya lagi : Ya Muhammad apa arti Iman..? Rasulpun menjawab : “ Al Mu’min man amanal mukminina ‘an daamihi wa maalihi “, orang mukmin itu adalah orang yang dapat menjamin keselamatan darah ( nyawa ) dan harta kekayaan orang mukmin yang lain . Dari hadis ini dapat kita petik beberapa pelajaran.
Dalam hadis di atas, kita lihat bahwa rasulullah tidak menjawab langsung apa definisi islam dan iman sebagaimana yang ditanyakan, tetapi langsung memberikan identitas seorang muslim dan seorang mukmin. Berarti masalah iman dan islam bukan hanya masalah teori tetapi merupakan suatu sikap hidup yang harus dapat menjadi kepribadian dalam kehidupan sehari-hari. Kalau seseorang mengaku sebagai seorang muslim maka dia harus dapat memberikan bukti berupa jaminan keselamatan dan kedamaian bagi orang yang lain; dan kalau dia seorang mukmin, maka dia harus dapat memberikan jaminan keamanan bagi orang mukmin yang lain.
Islam adalah agama kedamaian yang menjamin keselamatan bagi segenap manusia. Barangsiapa masuk agama Islam maka dia akan selamat dunia akhirat, dia akan masuk ke negeri Darussalam, negeri yang aman. Dia juga harus dapat memberikan jaminan keselamatan bagi manusia, masyarakat dan lingkungan di sekitarnya. Barangsiapa benar-benar beriman kepada Allah, maka keamanan dirinya telah dijamin , karena dia berada dalam pengawasan dan lindungan Allah; dan dia juga harus dapat memberikan keamanan jiwa dan harta bagi masyarakat dan lingkungan di sekitarnya. Oleh karena itu seorang yang beriman, tidak boleh merusak hak milik orang lain, tidak boleh melukai tubuh atau membunuh orang lain, tidak boleh menganggu harta milik orang lain dengan mencuri, merampok dan lain sebagainya.
Menjaga keselamatan orang lain adalah kewajiban setiap muslim, oleh karena itu ajaran Islam menyatakan bahwa pembunuhan merupakan dosa besar. Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa seorang sahabat nabi bernama Usamah berada dalam peperangan berhadapan dengan seorang musyrk. Kami , kata Usamah sedang berhadapan dengan seorang kafir; dan di sat dia terdesak akan terbunuh , si kafir tersebut langsung mengucapkan dua kalimah syahadat. Sebagian sahabat mendengar ucapan tersebut menghentikan penyerangan; tetapi aku , kata Usamah terus saja membunuhnya. Hal tersebut disampaikan kepada rasulullah, lalu rasul berkata : Ya Usamah, apakah engkau membunuh seorang yang telah mengucapkan kalimah syahadat..? Aku menjawab, kata Usamah : Ya rasulullah, dia mengucapkan demikian itu karena terpaksa dan dengan niat agar dia tidak dibunuh. Rasul tetap mengulangi kata-kata apakah engkau membunuh orang yang telah mengucapkan kalimah shahadat berkali-kali, sehingga aku , kata Usamah, merasa seakan-akan aku sudah tidak Islam lagi, dan sejak itu aku berjanji tidak akan membunuh siapa saja yang telah mengucapkan kalimat syahadat.
Seorang muslim identik dengan seorang yang selalu memberikan keamanan, menjamin keselamatan dan kedamaian. Itulah sebabnya jika seorang muslim bertemu dengan orang lain ; maka kewajiban pertama yang harus dilakukannya adalah memberikan ucapan salam “ Assalaamu alikum “ bukan “ Selamat pagi “, atau “Good morning “, atau ucapan lainnya tetapi ucapan salam yang mengandung unsur doa bagi keselamatan orang yang dijumpainya. Ucapan “Assalamualaikum warahmatullah “ bermakna bagimu keselamatan dan rahmat dari Allah. Ucapan salam tersebut juga menajadi ucapan terakhir dalam ibadah shalat. Hal tersebut seakan-akan merupakan pendidikan kepada orang Islam, bahwa jika kamu benar-benar seorang hamba Allah, seorang muslim yang taat kepada Allah, maka berikanlah jaminan keselamatan dan kedamaian bagi seluruh penghuni yang berada di atas bumi.
Dalam riwayat lain juga disebutkan bahwa sewaktu Rasulullah mengirim surat kepada raja Romawi , beliau menulis : “ Bismillahirrahmaanirahim… Dari Muhammad bin Abdullah kepada Kaisar Rom yang Agung…. Salam dan Sejahtera bagi mereka yang mengikuti petunjuk, “ Aslim.. Taslam “, masuklah kamu kepada agama Islam maka kamu akan selamat. Dari surat ini terlihat bahwa agama Islam adalah agama yang menjamin keselamatan dan kedamaian bagi kehidupan manusia baik di dunia maupun di akhirat. Sejarah juga telah membuktikan bahwa agama Islam tersebar sampai ke Spanyol, Albania, Bosnia, Rusia, Malaysia dan ke Indonesia, bukan dengan perang atau dengan kekerasan tetapi dengan budaya salam, budaya damai yang ditampilkan oleh para juru dakwah , para ulama dan masyarakat Islam terdahulu.
Agama Islam sangat mengutamakan jaminan keamanan dan kedamaian, sampai dalam kondisi peperangan . Dalam perang, Islam mempunyai aturan sehingga seorang tentera muslim di dalam kancah peperangan tetap tidak boleh membunuh anak-anak, wanita, dan rakyat sipil; demikian juga mereka tidak boleh merusak alam lingkungan, merusak , dan menghancurkan bangunan apalagi rumah ibadat agama lain. Begitu hebatnya Islam menjaga keselamatan masyarakat. Tetapi sayangnya, akhir-akhir ini, masyarakat sudah terpengaruh dengan gaya barat dalam berperang. Lihat saja, orang barat yang dipengaruhi oleh budaya hedonisme, yaitu budaya hidup hanya untuk mencari kepuasan hawa nafsu belaka, sehingga dalam berperang mereka tidak memakai adab dan aturan sama sekali. Dalam perang dunia kedua, kota Hiroshima di serang dengan bom atom, sehingga bukan saja menghancurkan bangunan kota tetapi juga menghancurkan kehidupan ummat manusia sampai bertahun dan berabad kemudian. Dalam perang teluk, Amerika menyerang dan membumihanguskan negara Iraq. Demikian pula Serbia telah menghancurkan kehidupan masyarakat muslim di Bosnia. Mereka bukan saja menyerang pasukan militer tetapi juga menghancurkan bangunan , dan memperkosa para wanita dan membunuh anak-anak kecil . Beberapa waktu yang lalu , Amerika hanya dengan alasan melawan terorisme, dengan seenaknya melakukan teror menyerang Afghanistan dan Sudan. Inilah budaya perang di barat yang penuh dengan kekejaman , kekerasan, pembunuhan, penganiayaan. Ini semua menandakan bahwa budaya masyarakat barat, adalah budaya masyarakat yang tidak beradab, yang tidak dapat menjamin keselamatan bagi ummat manusia.
Karena masyarakat barat adalah masyarakat yang tidak dapat menjamin kedamaian, maka gambaran ajaran Islam yang penuh rahmat dan damai tersebut sangat tidak disenangi oleh dunia barat. Karena takut jika budaya Islam yang penuh damai ini terlihat dengan jelas maka agama Islam akan menjadi budaya alternatif bagi kehidupan masyarakat dunia. Oleh karena itu mereka selalu berusaha untuk membuat gambaran ( opini ) kepada dunia bahwa Islam itu adalah perang, ummat Islam adalah ummat yang suka pada peperangan, kekacauan, kekerasan. Ummat Islam identik dengan terorisme, pembunuhan, pembantaian dan lain sebagainya. Mereka tidak senang jika melihat masyarakat Islam hidup sejahtera, hidup aman dan tenteram; oleh karena itu mereka selalu berusaha memancing agar umat Islam untuk melakukan tindakan kekerasan dalam segala hal. Dan jika ada negara muslim yang mengadakan demontrasi, pembantaian, atau kegiatan terorisme, dengan secepat mungkin berita itu mereka sebarkan ke seluruh dunia , berulang kali, dan gambar-gambar mereka ( biasanya dicari gambar-gambar yang mempunyai identitas islam seperti jenggot, jubah, jilbab dan lain sebagainya) ditayangkan di seluruh layar televisi .
Pada saat yang sama kita tidak pernah melihat atau jarang mendengar tentang pembantaian Barat terhadap ummat Islam di Kosovo ( Albania ), di Kashmir, di Cambodia, di beberapa negara Afrika, di Palestine.dan lain sebagainya. Bayangkan pada saat sekarang ini ribuan masyarakat muslim di Kosovo sedang dibunuh; tetapi adakah media massa barat yang memberitakan hal tersebut..? Sebaliknya media Barat selalu menyiarkan tentang kebaikan dunia barat dan membesar-besarkan tentang bantuan kemanusiaan yang mereka lakukan disana sini terutama kepada negara yang sedang dilanda kegawatan ekonomi atau yang mendapat bencana. Padahal itu semua bukan bantuan murni tetapi merupakan hutang bersyarat yang akan mencekik masyarakat negara berkembang, karena harus dipulangkan dengan interes yang besar.
Baru-baru ini majalah Times mencari tokoh-tokoh pemimpin di abad 20. Diantara 200 tokoh tersebut dari masyarakat muslim hanya Pemimpin Revolusi Iran Ayatullah Khomeini.. Begitu lihainya mereka dalam memilih tokoh sehingga yang mereka tonjolkan adalah tokoh revolusi Iran, padahal sekian banyak tokoh-tokoh muslim dalam abad 20 yang lain. Dengan demikian mereka berharap agar opini masyarakat dunia dan generasi mendatang hanya melihat Islam dari kacamata revolusi, kekerasan, dan lain sebagainya ; bukan dari sikap Islam yang penuh dengan kedamaian.
Oleh karena itu masyarakat Islam dalam situasi krisis sekarang ini harus dapat bersikap arif, bijaksana dan tidak mudah terpancing atau tertipu, apalagi ikut-ikutan terhadap sesuatu yang tidak jelas. Sebagai seorang muslim kita harus selalu waspada, Allah berfirman : “ Hai orang yang beriman jika datang kepada kamu khabar dari orang fasiq, maka bersikap tabayyun, periksalah berita itu terlebih dahulu ( QS. AlHujurat :6 ). Jika ada berita atau isu, maka umat Islam harus waspada dan berhati-hati sebelum mengambil sikap. Jangan sampai nanti kita hanya menjadi tukang dorong mobil mogok, setelah mobilnya hidup, kita ditinggal; orang lain yang naik; atau kita hanya menjadi tukang bangunan , setelah bangunan selesai, kita disuruh pulang dan orang lain yang akan menempati bangunan yang telah kita bangun tersebut.
Oleh karena itu dalam bersikap , ummat Islam harus dapat menjadi ummat yang selalu dapat menjaga keselamatan, kedamaian, dimanapun dia berada; bukan ummat yang sibuk dengan kekerasan, atau kekacauan; karena itu memang pekerjaan rumah yang kadang-kadang sengaja dibuat oleh dunia barat; sehingga memberikan gambaran kepada masyarakat dunia bahwa ummat islam itu adalah masyarakat yang selalu membuat kekacauan. Semoga dalam suasana bagaimanapun kita tidak lupa untuk selalu berdoa kepada Allah agar kita selamat dan terhindar dari segala fitnah dan bala. Amien ya rabbal Alamien.
SUARA HATI SEORANG MUKMIN
“ Dan pada hari kiamat, Kami akan tegakkan neraca yang adil
sehingga tidak ada seorangpun yang akan dirugikan sedikitpun “
( QS. Al Anbiya : 47 )
Dalam lubuk hati manusia ada suatu kekuatan yang tersembunyi. Tidak dapat dilihat dengan mata, walaupun dengan pertolongan kaca pembesar; dan tidak dapat diketahui oleh ilmu fisiology. Kekuatannya tidak dapat diraba dan diterka oleh panca indera; tetapi bisikannya dapat dirasakan oleh manusia yang selalu menyuruhnya untuk melakukan kewajiban dan kebaikan. Dia seolah-olah pemandu yang menunjuki jalan kehidupan, mengajak dan mengarahkan manusia kepada perbuatan yang baik sebagaimana jarum magnet yang selalu mengarah ke arah utara. Dia mencegah manusia dari berbuat kejahatan bagaikan suara seorang bapak yang selalu menasehati anaknya, atau bagaikan nasehat seorang guru kepada murid-muridnya. Apabila seseorang telah melakukan apa yang diperintahkannya, maka kekuatan batin ini akan memberikan ketenangan, kegembiraan dan kepuasan bagi manusia; tetapi jika orang tersebut melanggar apa yang dikatakannya, maka kekuatan batin ini akan memberikan tekanan dan desakan sehingga manusia akan merasa gelisah, dan tidak tenang.
Kekuatan batin tersebut ada dalam lubuk hati setiap manusia dan selalu dinamakan orang dengan istilah hati nurani, atau “ dhamir “ alias perasaan hati. Islam menamakannya dengan “ qalbu “; sehingga sewaktu rasulullah saw ditanya tentang kebaikan dan kejahatan , Rasulullah menjawab : “ AlBirru maa sakanat ilaihinnafsu wat ma’anna ilaihi qalbu wal ismu maalam taskunu ilaihin nafsu walam yatmainnu ilaihil qalbu “ , Kebaikan itu adalah apa-apa yang dengannya perasaan akan menjadi lapang dan hati menjadi tenang; sedangkan kejahatan itu adalah sesuatu yang jika dikerjakan maka perasaan akan menjadi gelisah dan hatipun tidak tenang “. Maka dalam mengerjakan sesuatu perkara atau dalam menilai suatu urusan tanyalah hati nurani kita , apakah itu baik atau tidak; karena hati nurani pasti dapat mengetahui mana yang benar dan mana yang salah. Oleh karena itu dalam hadis yang lain Rasulullah juga bersabda : “ Istafti qalbak “, tanyalah hati nuranimu.
Suara hati nurani ini merupakan kekuatan hakim yang dapat menilai setiap perbuatan, oleh karena itu dia selalu mendahului setiap pekerjaan manusia dengan memberikan petunjuk kepada kebenaran ataupun memberi peringatan atas setiap kejahatan dan maksiat. Dia juga selalu mendorong manusia untuk menyelesaikan pekerjaan yang baik dan menghentikan setiap kemunkaran. Oleh karena itu dia selalu memberikan ketenangan kepada setiap kebaikan dan menimbulkan perasaan tidak tetang jika kita melakukan kemaksiatan. Hati nurani inilah yang menjadi dasar utama dalam pembentukan moral dan akhlak., dia juga merupakan standar masyarakat dalam menilai keadilan. Oleh karena itu keadilan , dan ketertiban akan terjadi di dalam masyarakat jika keadaan suatu pemerintahan sesuai dengan hati nurani mereka. Seorang filosof pernah berkata : “ Keadilan bukan terletak dalam pasal dan ayat undang-undang tetapi terletak dalam hati nurani hakim dan penguasa yang melaksanakannya “. Maka hati nurani yang bersih atau “ qalbun salim “ merupakan unsur utama bagi masyarakat baik mereka yang memerintah juga bagi rakya yang diperintah.
Bagi seorang mukmin, maka suara hati nuraninya haruslah berdasarkan pada kekuatan iman kepada Allah subhana wataala. Dengan iman, maka hati akan menjadi kuat, bersih dan mempunyai pandangan yang lebih terang. Dengan iman, berarti Allah selalu berada di dekat hamba-Nya, sehingga hati seorang hamba selalu mendapat hidayah dan nur dari Ilahi. Allah akan berada selalu disampingnya, dimanapun dia berada. Tidak ada sesuatu yang tersembunyi dari pengawasan Tuhan : “ Tidakkah kamu mengetahui bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi..? Setiap pembicaraan rahasia antara tiga orang, maka Allah akan menjadi yang keempat. Demikian pula jika terjadi pembicaraan antara lima orang, maka Allah adalah yang keenam. Kurang atau lebih dari bilangan itu, maka Allah bersama mereka, dimana saja mereka berada. Kemudian dari itu di hari kiamat nanti, Allah akan memberitakan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan, sesungguhnya Allah itu Maha Mengetahui atas segala sesuatu “ ( QS. Al Mujadalah : 7 ). Dalam ayat lain juga disebutkan bahwa : “ Apa saja yang menjadi urusan engkau, apa saja yang engkau baca dari Kitab Suci Al Qur’an dan apa saja pekerjaan yang engkau kerjakan, Kami ( Allah ) menjadi saksi bagimu ketika kamu melakukan pekerjaan itu. Tiada sesuatupun yang hilang dari pengetahuan Alllah terhadap apa yang terjadi di bumi dan di langit walaupun hal sebesar atom , atau yang lebih kecil atau yang lebih besar daripada itu. Semuanya akan tercatat dalam kitab yang jelas “ ( QS. Yunus : 61 ) .
Sewaktu Kaum musyrikin kota Makkah mengadakan perundingan untuk membunuh Rasulullah , maka dalam pertemuan itu satu sama lain membisikkan : “ Rendahkan suaramu, supaya jangan kedengaran oleh Tuhan Muhammad “. Dengan kejadian tersebut turunlah ayat : “ Boleh jadi kamu rahasiakan ( sembunyikan dalam hati ) perkataanmu atau kamu lahirkan dengan terang-terangan, maka Dia ( Allah ) akan mengetahui segala isi hatimu “(QS. Al Mulk:13). Mereka mengira bahwa pembicaraan mereka sangat rahasia sehinga Tuhan Muhammad tidak mengetahuinya “ Adakah mereka mengira bahwa Kami tiada mendengar rahasia dan pembicaraan mereka dalam sidang tertutup itu..? ya, sebenarnya utusan-utusan kami berada di dekat mereka menulis apa yang mereka katakan ( QS. Zukhruf : 80 ).Padahal Allah akan mengetahui segala pembicaraan dan perbuatan setiap hamba baik yang lahir maupun yang batin, dan semuanya akan tercatat dengan lengkap dan jelas “ Ketika dua malaikat duduk di sebelah kanan dan di sebelah kiri untuk mencatat perbuatan seseorang . Oleh karena itu setiap perkataan yang diucapkan oleh seseorang, niscaya di dekatnya ada pengawas yang selalu siap sedia “ (QS. Qaf :17-18) “ Sesunguhnya untuk kamu ada beberapa penjaga dan penulis yang mulia. Mereka mengetahui apa yang kamu perbuat “ ( QS. Al Infitar : 10-12 ).
Hati nurani dan perasaan yang dibina oleh iman dengan merasa selalu dibawah pengawasan Allah dan perasaan akan sebuah pertanggungjawaban di depan Alah inilah hati nurani seorang mukmin. Hati nurani yang akan peka dengan segala keadaan , bukan berdasarkan hawa nafsu, bukan berdasarkan bisikan syetan, tetapi berdasarkan sebuah amanat yang harus dipertanggungjawabkan di depan Allah di pengadilan Ilahi nanti. Hati nurani ini akan selalu berkata : Apa yang engkau kerjakan, untuk apa engkau mengerjakannya, untuk siapa engkau melakukannya, bagaimana engkau melakukannya. Hasan al Basri , seorang tokoh ulama salaf berkata : Seorang mukmin akan selalu bertanya kepada dirinya : Apa yang akan aku ucapkan, apa yang akan aku makan, dan apa yang akan aku minum..; sedangkan seorang fasiq biasanya akan mengerjakan semuanya itu dengan se-enaknya “.
Dalam keadaan sekarang ini, dalam suasana kehidupan yang katanya global dan modern tetapi nyatanya banyak menimbulkan krisisi disana sini, maka kita sering lupa bahwa sebagai muslim kita harus selalu bertanya kepada hati nurani, kita harus mempertanyakan tujuan dan landasan setiap ucapan dan langkah, karena kita harus merasa bahwa disana ada suatu pengawasan, sikap nanti ada sebuah pertanggungjawaban. Sering kali landasan kita dalam berbuat dan bersikap bukan lagi landasan hati nurani, atau landasan iman kepada Allah, landasan ibadah dan landasan untuk melaksanakan amanah Allah tetapi telah betukar dengan landasan bersifat keduniaan, seperti landasan ingin mencari kepuasaan hawa nafsu, kepuasan materi, kepuasan kekuasaan, atau ingin mencari ketenaran, kepopuleran , pujian dan sanjungan dari masyarakat dan lain sebagainya. Kita seakan-akan lupa bahwa nanti kita akan diminta pertanggungjawaban, dan yang menjadi ukuran adalah landasan serta niat kita dalam melakukannya.
Kita masih ingat ada cerita dalam hadis yang mengatakan bahwa nanti di akhirat ada seorang yang mati dalam perjuangan dan menjadi pahlawan tetapi akhirnya dia dimasukkan ke dalam neraka, karena dia mati dalam membela kebenaran bukan karena niat yang suci, bukan karena Allah tetapi untuk populeritas diri, agar dia dikenal sebagai pahlawanuntuk populeritas diri. Demikian juga ada seorang kaya yang sangat suka menolong, bersedekah dan berderma. Ternyata di akhir hayatnya dia juga masuk neraka karena dia berbuat demikian bukan dengan landasan iman, bukan karena Allah tapi agar dia dianggap orang yang paling baik dan dermawan. Kemudian ada seorang sarjana, cendekiawan dan sangat alim yang selalu mengajarkan ilmunya kepada masyarakat; tetapi di akhir hayatnya dia juga masuk neraka, mengapa..? Rupanya dia memberikan ilmu dan pemikirannya kepada masyarakat agar dirinya diakui sebagai seorang genius, seorang yang pintar; bukan karena amanah dan perintah Allah, bukan karena landasan iman kepada Allah.
Dari kisah di atas dapat disimpulkan bahwa yang menjadi standar dan ukuran adalah suara hati nurani yang berlandaskan iman kepada Allah, bukan suara hati karena emosi, atau hawa nafsu apalagi untuk mencari kepuasan materi, kedudukan, atau populeritas. Inilah suara hati nurani seorang mukmin, yang membedakannya dengan seorang non-mukmin. Inilah suara “ qalbun salim “, yang keluar darijiwa yang suci “ nafsun mtmainnah “, bukan dari “ nafsul ammarah “ , dan bukan dari “ nafsu lawwaamah “. Sudahkah selama ini kita berbuat sesuai dengan hati nurani dengan penuh keikhlasan, berlandaskan iman kepada Allah….Wallahu A’lam.
R E F O R M A S I
KHALIFAH ‘UMAR BIN ‘ABDUL ‘AZIZ
Setelah Rasulullah saw wafat, maka kepemimpinan ummat islam -berdasarkan kesepakatan kaum muslimin- diserahkan kepada Abubakar Asshiddiq, yang terkenal sebagai pemimpin yang jujur. Sebelum mengakhiri kepemimpinannya, beliau memberikan amanah kepemimpinan -dengan persetujuan para sahabat dan seluruh kaum muslimin- kepada Umar bin Khattab, yang terkenal sebagai khalifah yang adil dan tegas. Setelah Umar syahid dalam sebuah pembunuhan, pemerintahan diserahkan kepada Usman bin Affan berdasarkan hasil musyawarah tokoh-tokoh sahabat yang ditunjuk oleh Sayyidina Umar . Setelah Khalifah Usman terbunuh ; pemerintahan dipegang oleh Ali bin Abi Thalib yang bijaksana. Setelah khalifah yang keempat ini wafat, maka pemerintahan dipegang oleh Hasan bin Ali dalam enam bulan kemudian demi untuk menjaga kemaslahatan ummat, dan agar tidak terjadi kerusuhan dan pertumpahan darah; cucu Nabi tersebut menyerahkan kekuasaannya kepada Muawiyah bin Abi Sofyan.
Umayyah segera menjalankan kekuasaannya dengan sistem kerajaan; mengikuti sistem pemerintahan Parsi dan Romawi. Setelah beliau wafat, pemerintahan diserahkannya kepada anaknya Yazid yang sangat terkenal dengan kekejaman dan kezalilamnya. Di masa pemerintahannya tersebut terjadi peristiwa Karbela dimana cucu Nabi Husen bin Ali beserta enam belas keluarga rasulullah terbunuh. Setelah memerintah selama empat tahun, Yazid diserang penyakit dan segera menyerahkan kekuasaan kepada anaknya Muawiyah bin Yazid yang dikenal sebagai seorang yang shaleh dan taqwa. Karena ketaqwaannya dia hanya memerintah selama empat puluh hari, kemudian beliau menyerahkan kekuasaannya kepada kaum muslimin . Di depan kaum muslimin dia berkata :” Nenekku Muawiyah merampas kekuasaan dari orang yang lebih berhak; yaitu keluarga Rasulullah. Kemudian dia menyerahkan kekuasaan kepada bapakku Yazid bin Muawiyah yang tidak layak dan punya keahlian sehingga dia memerintah dengan hawa nafsunya, membunuh keluarga rasulullah dan menghalalkan yang haram. Sekarang saya diserahi kekuasaan ; sedangkan saya hanyalah orang yang yang akan mengikuti apa kehendakmu ; oleh karena itu sekarang kamu semua bebas untuk memilih pemimpin yang akan mengurusi segala urusan kalian”.
Ummat Islam memilih Abdullah bin Zubair sebagai pemimpin , tetapi tidak beberapa lama kemudian, muncul Marwan bin Hakam, yang menentang kepemimpinan Abdullah serta mengambil kekuasaan secara paksa dan memaksa masyarakat untuk mengakui kekuasaannya. Setelah memerintah selama sepuluh bulan, Marwan menyerahkan kekuasaan kepada anaknya Abdul Malik. Setelah itu, pemerintahan dipegang oleh anaknya Walid bin Abdul Malik. Dalam pemerintahan Bani Marwan tersebut, kekuasaan Islam bertambah luas sampai ke Afrika, Andalusia, Bukhara dan Rusia. Walaupun demikian ; masyarakat dilanda krisis moral dan akhlaq. Masyarakat dilanda perasaan takut menyatakan kebenaran karena kezaliman, penindasan, intimidasi dan pembunuhan terjadi dimana-mana. Korupsi, Kolusi dan Nepotisme sudah menjadi budaya. Para pejabat dan pemegang kekuasaan selalu hidup dengan kemewahan. Di tengah-tengah kerusakan masyarakat dan birokrat demikian muncul Umar bin Abdul Aziz, seorang pemuda yang taqwa dan shaleh, dan masih punya hubungan kekeluargaan dengan Marwan, diangkat menjadi gubernur Madinah . Walaupun dia mempunyai hubungan keluarga dengan istana; tetapi dia mampu menjalankan pemerintahan di daerah kekuasaannya dengan penuh keadilan. Dia membenci segala tindakan kezaliman yang dilakukan oleh kerajaan; tetapi dia hanya bisa memberikan nasehat dan kritik; serta memberikan contoh keadilan dalam daerah kekuasaannya yaitu daerah Hijaz. Setelah melaksaanakan tugas selama tujuh tahun dan menjadikan daerah kekuasaannya sebagai daerah teladan dalam menegakkan keadilan dan memberikan kesejahteraan kepada masyarakat ; diapun mengundurkan diri dari jabatan gubernur.
Setelah Walid bin Abdul Malik wafat, pemerintahan dipegang oleh anaknya Sulaiman bin Abdul Malik. Setelah memerintah selama tiga tahun yang juga dihiasi dengan krisis moral dan ekonomi sehingga negeri Iraq yang kaya raya tersebut hanya mempunyai kekayaan sebanyak dua puluh lima ribu dirham padahal sebelumnya -dalam pemerintahan Muawiyah- negeri itu mempunyai cadangan devisa sebanyak seratus duapuluh juta dirham. Tak lama kemudian Walid sakit, dan dia segera memanggil sekretarisnya yang bernama Rajah bin Haywah dan menyatakan tentang kegelisahannya atas penggantinya jika dia telah tiada. Rajah, sekretaris yang bijaksana berkata : “ Wahai Baginda Raja, ketahuilah bahwa yang akan memeliharamu nanti di dalam kubur dan memberimu pertolongan di hari akhirat adalah jika engkau menyerahkan kepemimpinan kepada orang yang shaleh” . Kemudian Walid bertanya: “Menurut penilaianmu siapakah orang yang shaleh pada saat sekarang ini..? Rajah menjawab : Yang dianggap masyarakat sebagai orang yang shaleh pada saat sekarang ini adalah Umar bin Abdul Aziz..? Kemudian Walid segera menulis surat wasiat : Bismillahirrahmanirrahim. . Ini surat dari Sulaiman bin Abdul Malik, Amirul Mukminin kepada Umar bin Abdul Aziz menyatakan bahwa aku menyerahkan kekuasaan sepeninggalku kepadanya; makakepada seluruh rakyat agar mendengarkannya, mentaatinya dan bertaqwa kepada Allah.
Sebelum mayat Sulaiman dikebumikan , Sekretaris Raja bin Haywah membacakan wasiat tersebut dan kekhalifahanpun jatuh ke tangan Umar bin Abdul Aziz, bukan ke tangan putra mahkota Yazid bin Abdul Malik, atau anak-anak keturunan Sulaiman. Umar benar-benar tidak menyangka dia akan mendapat kedudukan sebagai khalifah. Dalam pidato pelantikannya dia berkata :”Aku bukanlah seorang yang penentu hukum ; tetapi aku hanyalah orang yang melaksanakan perintah dan larangan Allah . Aku bukanlah seorang pembaharu, tetapi seorang pengikut yang mengikuti aspirasi ummat . Aku bukanlah yang terbaik diantara kamu , karena aku hanyalah manusia biasa hanya saja aku mempunyai beban yang lebih berat daripada kamu sekalian. Belum lagi subuh menjelang di pagi hari, Umar segera memanggil sekretaris untuk menuliskan beberapa surat perintah .
Surat pertama kepada Musallamah bin Abdil Malik agar segera mengundurkan diri bersama seluruh pasukannya dari Kota Konstantinopel. Surat kedua berisi pemecatan Usamah Tanukhi dari kedudukannya sebagai gubernur Mesir dan segera menghadap ke Mahkamah untuk diadili atas segala tindakannya selama berkuasa. Surat yang ketiga pemecatan yang ditujukan kepada Yazid bin Abi Muslim, penguasa daerah Afrika dan segera menghadap ke pengadilan atas kelaliman dan korupsi yang dilakukan selama ini. Di masa pemerintahan Sulaiman, Musallamah diutus beserta seluruh pasukan untuk menguasai Kota Konstantinopel , Ibukota Kerajaan Romawi Timur. Sebenarnya pasukan Usamah sudah tidak bisa bertahan lagi dipukul oleh pasukan Romawi; karena kesombongan Sulaiman, dia menyuruh tetap bertahan dan pasukan tersebut dibiarkannya hancur disana. Usamah adalah penguasa Mesir yang zalim, hidup foya-foya dengan hasil korupsi, dan memerintah dengan kejam. Maka sebaik Umar mendapat wewenang, dia segera memecat Usamah dan dihadapkan ke depan pengadilan. Demikian juga dengan Yazid bin Abi Muslim, dia juga seorang penguasa di Afrika yang korup, kejam dan lalim. Maka diapun harus dicopot dan dihadapkan ke pengadilan.
Setelah acara pelantikan, maka sebagaimana biasa sebagai seorang khalifah, dia segera mendapat kenderaan, rumah kediaman, dan seluruh fasilitas kenegaraan. Umar kaget dengan itu semua dan segera memerintahkan agar seluruh fasilitas tersebut dimasukkan dalam Baitul Maal; dia cukup dengan fasilitas pribadi yang dimilikinya selama ini sebagaimana yang dimiliki oleh masyarakat kebanyakan. Segala keperluan hidupnya dan keluarganya dicukupkannya dari uang gaji yang didapatnya sebagai khalifah sebanyak dua ratus dinar pertahun. Pada hari pertama pelantikannya, dia segera memanggil isteri dan seluruh keluarganya menerangkan kepada mereka tentang tanggungjawab dan amanah yang dibeban kepadanya dan mengajak semuanya untuk dapat menjadi contoh dan siap menghadapi hidup dengan penuh prihatin. Kepada isterinya, selepas dibai’at sebagai khalifah dia berkata : “ Jika anda ingin tetap menemaniku , maka segera kembalikan seluruh harta kekayaan, perhiasan , dan segala pemberian raja terdahulu kepada baitul maal.” Menurut riwayat, Umar bin Abdil Aziz mengembalikan segala harta miliknya kepada Baitul Maal, sampai pada sebuah cincin yang sedang dipakainya sambil berkata : Ini aku dapat dari pemberian Raja Walid bin Abdul Malik sewaktu dia mendapat harta dari negeri Marokko “. Dia juga memerintahkan kepada seluruh pejabat, dan seluruh keluarga istana ( sanak-saudara dinasti Marwan ) agar segera mengembalikan seluruh harta kekayaan yang mereka dapat dari hasil korupsi; sehingga sampai ada yang bertanya kepadanya : “ Apakah engkau tidak takut dengan pembalasan keluarga istana .?” Dia menjawab : “ Tidak ada yang aku takuti selain dari perhitungan di hari kiamat nanti “.
Untuk mengembalikan kepercayan masyarakat, Umar segera memecat seluruh gubernur yang selama ini diangkat berdasarkan nepotisme dan menggantikan kedudukan mereka dengan mereka yang lebih pantas berdasarkan profesionalisme dan akhlak serta ketaqwaan dalam melaksanakan ajaran agama, sehingga pemerintahan Umar disebut juga dengan pemerintahan ulama intelektual “ ulama wal fuqaha “. Dia mengangkat Ayyub bin Sarhabil sebagai gubernur Mesir, Addi bin Artah sebagai gubernur Basrah, Jarrah bin Abdullah al hakam sebagai gubernur Khurasan, Umar bin Muslim sebagai gubernur Sind ( India ), Abdulhamid bin Abdurrahman sebagai gubernur Kufah, Ismail bin Abdullah sebagai gubernur di Afrika, Samh bin malik gubernur di Andalusia, dan Umar bin Abirah sebagai gubernur Jazirah Arab. Para gubernur terdahulu segera diadili dan disuruh mengganti harta kekayaan yang telah dikorupsi. Sebagai contoh, mencopot Yazid bin Muhallib sebagai gubernur Kufah dan kemudian diadili sehingga dia dipenjara sampai seluruh harta negara yang dikorupsi dapat dikembalikan lagi.
Dia juga segera mengumpulkan para ulama, dan intelektual untuk meminta bimbingan, petuah dan nasehat mereka dalam memimpin masyarakat dan menjadikan mereka sebagai penasehat kerajaan. Sebaik dilantik jadi khalifah dia segera mengirim surat kepada seorang ulama yang sangat alim, Haan Al Basri, menanyakan apakah kriteria seorang pemimpin yang adil dan apakah yang harus diperbuatnya untuk menjadi seorang pemimpin yang diridhai oleh Allah swt. Dia bermusyawarah bukan saja dengan ulama dan kaum intelektual tetapi dia juga mengajak seluruh tokoh oposisi dari kelompok Qadiriyah, Khawarij, Alawiyin, Abbasiyin untuk berdialog dan berdiskusi serta adu argumentasi tentang sistem politik dan pemahaman terhadap ajaran Islam. Disamping itu dia juga memerintahkan kepada panglima militer untuk membebaskan segala tahanan politik dan mereka yang ditahan tanpa bukti yang sah.
Itulah langkah pertama Umar bin Abdul Aziz dalam melakukan reformasi total di tengah masyarakat yang selama ini diperintah oleh pemerintahan yang zalim, nepotisme, dan korup. Kemudian dia memberikan pengumuman kepada seluruh rakyat : Jika ada di dalam pepemrintahanku pejabat yang tidak melaksanakan kewajibannya dengan benar, dan tidak menjalankan perintah Al Quran dan Sunnah rasulullah, maka kamu semua tidak harus taat kepadanya. Agar masyarakat tetap berada di dalam kebenaran dan selalu berusaha untuk menegakkan Innallaaha keadilan maka dia memerintahkan para khatib untuk mengakhiri khutbah jumatnya nya dengan ucapan : “ Innallaha yamurukum bil ‘adli wal ihsan wa iitaaidzil qurbaa wa yanhaa ‘anil fahsya’ wal munkar wal baghyi ya’idzukum la’allakum tadzakkarun…..” Sesungguhnya Allah memerintahmu untuk berlaku adil dan ihsan serta berbuat baik kepada kaum kerabat dan melarang kamu untuk melakukan kejahatan, kemunkaran, dan kezaliman; semoga kamu menjadi orang yang selalu ingat akan perintah dan larangan tersebut. Kata-kata penutup khutbah jumat ini sampai sekarang masih dibaca di saat khatib mengakhiri khutbahnya.
Umar bin Abdul Aziz melakukan reformasi total di segala bidang dalam tempoh pemerintahannya yang sangat singkat yaitu dua tahun lima bulan, masyarakat benar-benar dapat merasakan keadilan dan hidup dengan penuh kedamaian dan sejahtera. Dari uraian diatas dapat kita simpulkan bahwa strategi Umar dalam melaksanakan reformasi adalah :
(1) Dengan cepat, segera mencopot pejabat dan pegawai yang korup dan lalim dan dihadapkan ke depan pengadilan dan menggantikan mereka dengan pegawai yang handal berdasarkan pada taqwa dan profesionalisme.
(2) Segera memperbaiki sistem manajemen dan peraturan yang tidak sesuai dengan nilai keadilan dan kebenaran.
(3) Menjadikan pemimpin, penguasa, pejabat dan birokrat sebagai contoh dalam pelaksanaan ajaran agama serta dalam mematuhi peraturan negara dan menjaga nilai keadilan dan hak asasi manusia.
(4) Melaksanakan musyawarah dengan tokoh-tokoh masyarakat, ulama , dan kaum intelektual serta mengadakan dialog dengan kelompok oposisi dalam menentukan langkah-langkah pembangunan masyarakat.
(5) Mengembalikan segala aset negara kepada perbendaharaan negara ( baitul Maal ) dan menekankan kepada pejabat serta penguasa bahwa harta adalah amanah yang harus disampaikan kepada mereka yang berhak.
Akhirnya sejarah telah mencatat bahwa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz adalah merupakan pemerintahan yang berhasil dalam melaksanakan reformasi ; pemerintahan yang bersih dari nepotisme, korupsi dan kolusi, serta berhasil memberikan kesejahteraan dan menegakkan keadilan bagi masyarakatnya. Sebagai masyarakat muslim sudah sewajarnya kita dapat mengambil hikmah dan pengajaran dari langkah-langkah reformasi yang telah dilakukan oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz karena telah terbukti bahwa dalam tempo kepemimpinan yang singkat, hanya dua setengah tahun, beliau berhasil mengembalikan kepercayaan rakyat dan menjadikan kerajaannya “ baldatun Tayyibatun Wa rabbun Ghafuur “ menjadi negara yang adil dan makmur serta mendapat ridha dan ampunan dari Allah Tuhan Pemilik Sekalian Alam.
ANTARA KEKAYAAN PRIBADI DAN HARTA RAKYAT
“ Dan ketahuilah bahwasanya harta kekayaanmu dan anak-anakmu
itu merupakan cobaan bagimu “ ( QS. Al Anfal : 28 ).
Setelah Umar bin Abdul Aziz dilantik sebagai khalifah, dia langsung berkata kepada isterinya : “ Wahai isteriku jika anda ingin tetap menemaniku sebagai isteri seorang khalifah, maka segera kembalikan semua harta kekayaanmu, barang perhiasanmu, dan segala pemberian raja terdahulu kepadamu kepada Badan Perbendaharaan Negara ( Baitul Maal ). Menurut riwayat, Umar bin Abdul Aziz mengembalikan seluruh kekayaannya kepada baitul Maal, sampai kepada sebuah cincin yang sedang dipakainya segera dicopotnya sambil berkata : “ Cincin ini aku peroleh sebagai hadiah dari raja terdahulu sewaktu beliau mendapat upeti dari negeri Marokko “. Usaha untuk memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahannya bukan saja dengan cara mengembalikan harta kekayaan pribadi dan keluarganya kepada baitul maal; tetapi dia juga memerintahkan seluruh keluarga dan kerabat raja yang mendapatkan kekayaan dari pemberian raja terdahulu atau mendapatkan kekayaan dari korupsi, dan kolusi harap segera mengembalikan harta tersebut kepada negara.
Inilah usaha pertama yang dilakukan oleh Khalifah untuk memulihkan kepercayaan masyarakat kepada pemerintahannya dan sebagai rasa tanggungjawab terhadap Allah subhana wataala. Sewaktu beliau ditanya apakah beliau tidak takut dengan pembalasan keluarga istana yang tidak senang dengan tindakan pembersihan ini..? Umar menjawab bahwa : Tiada yang dia takuti selain perhitungan di hari akhirat nanti di depan pengadilan Ilahi “. Inilah tanggung jawab seorang pemimpin, bukan saja kepada rakyat tetapi yang lebih utama adalah kepada Allah di hari perhitungan kelak.
Sebelum menjadi khalifah, Umar bin Abdul Aziz dan isteri serta keluarganya hidup dalam kemudahan dan mempunyai harta kekayaan yang banyak, karena dia masih termasuk keluarga istana. Tetapi setelah dia menjadi seorang khalifah, kehidupannya berubah total. Dia hidup dengan penuh kesederhanaan sehingga seorang tokoh tasauf Syekh Malik bin Dinar berkata : “ Banyak orang mengatakan bahwa Malik adalah seorang Sufi. Bagaimana mungkin saya menjadi seorang Sufi..? Seorang Zahid ( sufi yang hidup dengan penuh zuhud ) adalah Umar bin Abdul Aziz, datang kepadanya kekayaan terbuka lebar; tetapi semua itu dirtinggalkannya “. Dalam masa dia memegang jabatan khalifah, dia hanya mempunyai sehelai baju dalam, padahal sewaktu mudanya dia berada dalam kesenangan dan kemewahan. Pada suatu hari dia datang kepada isterinya meminta supaya dipinjami sati dirham untuk membeli buah anggur, tetapi ketika itu isterinya tidak mempunyai apa-apa. Isterinya berkata : “ Engkau ini adalah pemimpin umat, Amirul Mukminin, tetapi dalam perbendaharaanmu engkau tidak memiliki uang untuk membeli anggur “. khalifah Umar menjawab : “ Bagi saya, sangat berat untuk menanggalkan rantai dan belenggu besok hari diwaktu dalam neraka jahannam “.
Sebelum menjadi khalifah, Umar sebagai keluarga istana biasa hidup dengan kemewahan dan hidup dengan senang-senang; tetapi setelah mempunyai kekuasaan dan menjadi khalifah; dia tinggalkan semua kesenangan dan kekayaan; dia cukup hidup dengan penuh keprihatinan. Inilah profeil seorang pemimpin ummat. Sebaliknya sekarang kita lihat banyak pemimpin, pejabat, penguasa; sebelum jadi pejabat, sebelum diangkat jadi penguasa hidupnya biasa-biasa saja; tetapi setelah diangkat jadi pejabat langsung hidupnya berobah duapuluh empat derajat. Padahal kalau dihitung dari gaji yang diperolehnya selama dia bekerja; tidak mungkin dia mempunyai fasilitas rumah mewah, kenderaan mewah dan lain sebagainya. Dari mana semua harta kekayaan tersebut..? Dan bagaimana dia dapat dipercaya oleh rakyat jika penampilannya saja sudah tidak dapat dipercaya.
Pada suatu hari, Sauara dari ibu Amirul Mukminin datang mengunjungi khalifah. Sebagai tamu seorang raja, maka tante ini merasa bahwa nanti dia pasti akan dijamu dengan makanan dan hidangan yang enak, diajak kesana kemari sebagaimana kebiasaan raja-raja terdahulu. Ternyata sesampainya di rumah kediaman khalifah, tante ini hanya disuguhi dengan sepotong roti kering dan minuman biasa. Tak lama kemudian, Umar bin Abdul Aziz datang ke ruang tamu dan melihat bahwa hidangan tersebut sama sekali belum disentuh. Umar bertanya; Wahai tanteku yang terhormat; mengapa engkau belum mencicipi hidangan yang telah disuguhkan..? tante tersebut menjawab : ‘ Wahai Umar, bagaimana aku dapat mencicipi hidangan seperti ini, sedangkan sebelumnya jika aku datang kesini, raja-raja terdahulu seperti Sulaiman dan Walid selalu memberikan makanan yang lezat dan hidangan yang beraneka ragam. Umar menjawab : Benar, tante; raja-raja terdahulu selalu memberimu makanan yang enak dan lezat tetapi itu semua mereka ambil dari harta kekayaan rakyat; sedangkan sekarang aku memberimu hidangan seperti ini karena inilah yang dapat kuberikan kepadamu dari gajiki yang hanya sebesar 200 dinar setahun.
Umar bin Abdul Aziz benar-benar memakai kekayaan negara dan rakyat untuk keperluan negara dan rakyat; sedangkan urusan pribadi dan keluarga hanya diambil dari gaji yang diperolehnya secara resmi. Pada suatu hari, Umar bin Abdul Aziz didatangi anaknya di saat jam kantor, kemudian Umar bertanya kepada anaknya : Apakah kedatanganmu menghadapku untuk membicarakan urusan pribadi dan keluarga atau urusan dinas..? Si Anak balik bertanya : mengapa rupanya ayah..? Umar menjawab : “ Jika engkau datang kesini untuk membicarakan urusan pribadi maka lampu ini akan aku matikan; karena lampu ini dibiayai oleh uang rakyat dan hanya boleh dipergunakan untuk urusan dinas. Begitulah sikap hati-hati umar dalam memakai kekayaan negara. Fasilitas kantor, pembiayaan dinas hanya dapat dipakai untuk urusan dinas; sedangkan urusan pribadi harus memakai dana dari kantong sendiri. Inilah manajemen seorang pemimpin yang bertaqwa. Taqwa bukan hanya sekedar melaksanakan shalat atau puasa senin kamis; tetapi taqwa dalam arti merasa takut atas tanggungjawab pekerjaan yang pasti akan diminta di hari akhirat kelak.
Sekarang kalau kita teliti parpemimpin , penguasa, dan mereka yang mempunyai wewenang serta kekuasaan. Banyak fasilitas kantor dipakai untuk urusan pribadi. Banyak mobil plat merah alias mobil dinas dibawah kesana kemari dengan memakai minyak jatah kantor. Kita belum lagi dapat membedakan antara kekayaan pribadi dan kekayaan kantor. Kita belum dapat membedakan kapan kita memakai fasilitas kantor, fasilitas dinas, fasilitas organisasi, fasilitas perusahaan, fasilitas masjid, fasilitas yayasan, fasilitas lembaga. Banyak pemimpin, pejabat, dan pengurus tergelincir karena ini. Tidak dapa membedakan antara harta kekayaan pribadi dan harta kekayaan kantor, kekayan organisasi dan lain sebagainya. Sehingga tanpa sadar banyak fasilitas rakyat dan kekayaan ummat dipakai untuk keperluan diri sendiri serta keluarga. Padahal seharusnya seorang pengurus menjadi orang yang mengurus rakyat dan ummat ternyata banyak pengurus menjadi sosom yang membuat kurus ummat dan rakyat. Pengurus seharusnya mengurus rakyat; ternyata banyak pengurus yang diurus ummat.
Di masa lalu ada seorang kiyai . Dia mendirikan pesantren dari harta warisan yang diwakafkannya. Kemudian pesantren tersebut berkembang dengan pesat; sehingga dapat memiliki sebuah mobil colt untuk memenuhi keperluan pesantren. Jika kiyai tersebut pergi dengan mobil tersebut untuk keperluan pesantren seperti menghadiri undangan Majelis Ulama dan sebagainya maka seluruh dana ditanggung oleh keuangan pesantren. Tetapi jika si kiyai yang mempunyai pesantren tersebut ingin memakai mobil colt pesantren untuk keperluan pribadi atau keperluan keluarga, maka kiyai tersebut harus membayar uang sewa mobil colt kepada pesantren. Dengan manajemen seperti ini, memisahkan antara hak milik pribadi dan hak milik ummat, adalah rahasia keberhasilan seorang pemimpin. Jangan mentang-mentang dia sebagai kityai atau sebagai pengurus, atau sebagai pemimpin seluruh kekayaan dan fasilitas dinas dan fasilitas organisasi dapat dipergunakan sekehendaknya sendiri. Ujian ketaqwaan seorang pemimpin, pengurus, dan penguasa bukan dengan ujian berapa banyak shalat atau berapa banyak puasa senin kamisnya; tetapi ujian ketaqwaan seorang pemimpin adalah dengan bagaimana dia dapat mengurus kekayaan organisasi dan membedakannya dengan kekayaan pribadi. Oleh karena itu ada sebuah ungkapan peribahasa Arab : Asshalatu Aadah, shalat itu suatu kebiasaan; Wassaumu jalaadah, puasa itu suatu kemuliaan; fa’tabiirunnaasa bil maal, kalau ingin menguji manusia maka ujilah dia dengan harta “. Disinilah akan terbukti apakah seseorang itu taqwa atau tidak taqwa. Oleh karena itu seorang anak Umar bin Abdul Aziz berkata : “ Bapakku bukanlah orang yang sangat rajin mendirikan shalat atau berpuasa. Shalat dan ibadahnya biasa-biasa saja; tetapi yang membedakannya dengan orang lain adalah ketakutannya kepada azab Allah “.
Di saat reformasi sekarang ini, kita harus dapat mengadakan reformasi kedalam diri kita sendiri. Jika kita seorang pemimpin, pengurus, dan pejabat; dapatkan kita membedakan mana harta milik pribadi dan harta dinas atau milik perusahaan. Yang lebih utama adalah dapatkan kita sebagai seorang pemimpin, pejabat, dan pengurus, hidup untuk keperluan pribadi dan keluarga dari kekayaan sendiri, dari gaji yang di dapat bukan dari fasilitas dan harta kekayaan ummat..? Sudah saatnya kita membedakan antara keduanya ; karena nanti di hari Akhirat, kita pasti ditanya oleh Allah Tuhan Yang Maha Kuasa, pernahkah engkau memakai fasilitas ummat dan kekayaan rakyat untuk keperluan pribadi..? Wallahu A’lam.
NEPOTISME DAN OPPORTUNIS
“ Janganlah orang yang beriman itu menjadikan orang kafir sebagai pemimpin mereka “ ( QS. Ali Imran : 28 )
Sewaktu Umar bin Abdul Aziz muncul dipanggung politik sebagai pemegang tampuk pemerintahan negara, segera beliau membenahi personil pegawai, pejabat dan penguasa sebagai usaha dari reformasi politik yang menjadi amanah ummat. Selama ini para pegawai, pejabat dan penguasa sampai kepada pihak militer menjalankan kekuasaan mereka penuh dengan kelaliman, penindasan, korupsi dan kolusi. Wajar saja karena memang selama ini mereka menduduki jabatan tersebut bukan berdasarkan moralitas dan profesionalisme tetapi karena nepotisme dan kolusi. Akibatnya banyak tanah rakyat dirampas, korupsi menjadi budaya, penindasan dan intimisdasi meraja lela, masyarakat dikuasai oleh hukum rimba, siapa yang kuat dan punya duit dia berkuasa . Kebenaran menjadi barang langka dan keadilan merupakan harapan yang hampa.
Maka tugas pertama Umar sebaik memegang kekuasaan adalah membenahi manusia-manusia yang rusak tersebut, memecapejabat dan penguasa yang lalim dan menggantikannya dengan pejabat dan penguasa yang taqwa dan cakap, yang dapat menjalankan tugas dengan penuh keadilan dan kebenaran. Dia juga segera menindak dan mengganti penguasa yang pura-pura ikut angin reformasi, padahal masih bermental lama alias musang berbulu ayam. Dia mencari pejabat yang benar-benar dapat dipercaya dan bermental jujur sepanjang karier ; bukan mereka yang opportunis, yaitu mereka yang bersifat munafiq, yang selalu pura-pura ikut siapa yang sedang berkuasa. Umar segera memecat beberapa penguasa yang zalim dan yang dipilih berdasarkan nepotisme kekeluargaan bani Umayyah. Pihak Bani Umayyah yang merasa dirugikan segera memprotes Umar atas kebijaksanaannya memecat pejabat tersebut; tetapi Umar tidak peduli dengan reaksi mereka dan terus memecat pejabat yang lalim.
Dalam suasana peralihan tersebut banyak yang mencari muka kepada Umar agar mereka dapat dipilih untuk menduduki suatu jabatan, tetapi Umar tetap tidak terpengaruh dan berkata ; “ Saya khawatir jika nanti saudara-saudara akan mengotori tigas suci ini. Oleh karena itu bagaimana mungkin saya akan menyerahkan tugas dan jabatan ini kepada saudara. Itu tidak mungkin. Tidak mungkin sekali”. Mendengar itu, mereka menjawab : “ Wahai Umar, kami ini semua keluarga dan kawan dekatmu; tentusaja kami punya hak untuk menduduki jabatan tersebut “. Umar menjawab tegas ; “ Dalam soal ini, baik keluarga, kawan dekat ataupun kawan jauh sama saja.” Umar bukan saja tidak memberikan jatah jabatan kepada kaum keluarga, kerabat dan kawan dekatnya malah dia menyuruh mereka untuk menyerahkan seluruh kekayaan mereka kepada baitul maal, untuk membantu krisis keuangan negara. Dia yakim bahwa kehancuran sistem selama ini karena segala urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya sebagaimana hadis Nabi “ Idza wusidal amru ilaa ghaira ahlihaa fantadzirussaa’ah…Jika suatu urusan diserahkan kepada mereka yang bukan ahlinya maka tunggulah saat kehancurannya “. Oleh karena itu untuk memperbaiki sistem tersebut langkah pertama adalah menyerahkan segala urusan kepada mereka yang ahli, mereka yang cakap dan mempunyai akhlak serta rasa tanggungjawab yang tinggi. Tidak dapat dipungkiri bahwa yang mempunyai rastanggungjawab yang tinggi adalah mereka yang bertaqwa, yang selalu merasa di bawah pengawasan Allah subhana wataala; mereka yang selalu merasa bahwa pekerjaannya bukan saja bertanggungjawab kepada atasan dan masyarakat tetapi yang lebih utama adalah pertanggungjawaban kepada Allah subhana wataala di hari akhirat nanti.
Sewaktu Umar bin Abdul Aziz memecat kepala pengawal istana dan ingin mencari penggantinya; maka berdatanganlah para perwira kepada Umar untuk meminta jabatan pengganti tersebut. Beliau tidak terpengaruh dengan cara demikian, kemudian mulai beliau meneliti satu persatu perwira yang pantas untuk menduduki jabatan penting tersebut. Akhirnya pilihan Umar jatuh kepada seorang perwira yang bernama Amru ibnu Muhajir Al Anshary. Apa alasan pemilihannya terhadap Amru..? Inilah jawabannya seperti apa uang diucapkannya kepada Amru sebaik dilantik :
“ Wahai Amru, demi Allah, antara saya dan kamu sama sekali tidak ada hubungan kekeluargaan. Kita hanya punya hubungan kekeluargaan dalam keimanan dan Iukhuwah islamiyah. Selama ini aku perhatikan engkau banyak membaca Al Quran dan saya sering melihat engkau shalat di tempat yang sunyi dimana tidak engkau sangka ada orang yang melihatnya. Aku perhatikan bahwa engkau mendirikan shalat dengan baik dan khusyu’. Engkau juga adalah salah seorang dari kaum Anshar, penolong Rasulullah saw. Oleh karena itu ambillah pedang ini dan sejak ini engkau aku angkat sebagai pengawalku”.
Demikianlah Umar memilih Amru sebagai kepala pengawal, bukan karena nepotisme tetapi karena ketaqwaannya kepada Allah, karena perilaku dan akhlak mulia yang diperlihatkannya selama menjalankan tugas, karena kejujuran , kesalehan dan keahliannya; bukan karena hubungan keluarga, hubungan kelompok, hubungan ini dan itu. Untuk menjaga kebersihan dirinya dari kolusi dan nepotisme, Umar menolak semua hadiah yang diberikan kepadanya. Sewaktu orang menghujat dengan dalil bahwa rasulullah saja menerima hadiah. Umar berkata : “ “Benar, rasulullah menerima hadiah; tetapi pada kondisi seperti ini Umar tidak akan menerima hadiah, karena itu semua akan berdampak pada kolusi dan merupakan tindakan korupsi. “. Umar juga tidak terpengaruh kepada tipuan gaya para pejabat yang pura-pura alim dengan memakai sorban dan penampilan lahiriyah lainnya. Yang menjadi ukuran Umar bukanlah penampilan atau perubahan sikap yang mengikut perubahan angin tetapi yang menjadi ukuran adalah kepribadian dan akhlak yang telah menjadi karakter selama bertugas.
Diantara Gubernur yang sedang menjalankan pemerintahannya ada seorang yang berpura-pura alim supaya tidak dipecat. Ini terlihat dari surat pemecatan yang dikirim Umar kepada Adhy bin Arthah, Gubernor Basrah : “ Sesungguhnya anda telah memperdayakan saya dengan serbanmu yang hitam dan lpanjang sehingga ujungnya terjulur di belakang badanmu; dan dengan selalu hadirnya anda ke majlis tilawah Al Quran. Anda juga selalu menonjolkan kebaikan-kebaikan anda sehingga membuatku berbaik sangka kepadamu. Tetapi kini, Allah telah membukakan kepadaku segala apa yang anda sembunyikan itu. Wassalam”.
Di saat-saat seperti sekarang ini, kita dapat melihat sekian banyak pemimpin, penguasa atau mereka yang tiba-tiba muncul menjadi pahlawan kesiangan. Sewaktu pemerintahan di tangan penguasa yang korup, mereka juga ikut menikmati hasil korupsi, ikut menindas rakyat , ikut memakan harta ummat, ikut suasana dan irama penguasa yang di atas tanpa berani memberikan kritik ataupun nasehat. Malah dia menjadi penolong setia, alias penguasa bermental “yes-men”. Di saat angin reformasi bertiup, dia pula yang sibuk dengan reformasi, dan segera teriak kesana kemari, menuntut reformasi ini dan itu. Jangan-jangan ada tujuan terselubung, ada udang di balik batu, paling tidak semoga tetap dipakai, semoga tetap menjabat, semoga tidak tergese. Semua sibuk bikin partai baru, semoga nanti dipilih lagi oleh rakyat. Mereka hanya berganti baju, dari baju yang lama menjadi baju yang baru; sedangkan karakter, kepribadian dan mentalnya masih tetap sama; yaitu mental opportunis, mental mencari keuntungan pribadi , bukan mental untuk membela kebenaran. Orang yang seperti ini biasanya tidak akan memikirkan masyarakat, tidak akan memikirkan ummat, tidak akan memikirkan mereka yang tertindas. Oleh karena itu masyarakat jangan sampai tertipu oleh penampilan, oleh omongan, oleh slogan; tetapi mari kita lihat karakter dan perbuatannya selama ini. Apakah moral dan akhlaknya baik, apakah selama dia bertugas dia sudah banyak berbuat untuk masyarakat; apakah dia selalu prihatin dengan keadaan masyarakat bawah..? Mari kita kaji sirah dan perjalanan hidupnya selama ini.
Umar bin Khattab sewaktu ingin mengangkat pemimpin dia bertanya kepada sahabatnya siapakah yang cocok. Para sahabat mengajukan beberapa calon. Kemudian Umar bertanya kepada sahabat tersebut; apa alasan kamu dalam mengusulkan namanya. Sahabat itu menjawab : karena dia shalatnya lama, puasanya banyak. Kemudian Umar bertanya lagi : pernahkah kamu bersamanya dalam suatu perjalanan..? Belum pernah, kata sahabat tersebut. Akhirnya Umar tidak menerima calon yang diajukan sahabat tersebut.
Disini kita dapat melihat bagaimana Umar bin Khattab menilai akhlak dan pribadi calon yang diajukan. Tidak cukup dengan shalat yang lama atau puasa senin kamis, serban yang panjang atau jenggot yang tebal. Tetapi yang lebih utama adalah bagaimana prilaku dan akhlaknya dalam setiap hari yang biasanya tercermin dalam pergaulan sewaktu dalam perjalanan.
Lihat saja jamaah haji yang berada di asrama haji atau di pemondokan haji selama di Mekah dan Madinah. Dalam asrama tersebut , selama perjalanan haji kita dapat menilai si A atau si B itu baik, bukan dari penampilan pakaian hajinya, atau dari beberapa kali dia mencium hajaral aswad, tetapi dari sikapnya selama dalam asrama. Apakah dia sering marah-marah, atau bersifat egois, bersifat sombong atau selalu membantu yang lain. Ini semua tercermin dalam keseharian hidup di perjalanan. Oleh karena itu, di saat seperti ini, di saat semua orang ingin jadi pemimpin , ummat islam harus hatr-hati; tidak terjebak oleh omongan, oleh semangat reformasi, oleh slogan dan oleh penampilan. Perhatikan dan pelajari bagaimana perjalanan hidupnya selama ini, apakah dia orang yang benar-benar beriman, benar-benar mempunyai akhlak terpuji, dan benar dapat menjadi penolong masyarakat..? Oleh karena itu maka Allah mengingatkan kita agar jika mencari pemimpin, penguasa, pejabat, pengurus dan mereka yang akan melayani keperluan ummat, maka carilah pemimpin yang beriman, bukan dari orang yang kafir, ataupun mereka yang munafiq. Fa’tabiruu Yaa ulil albaab.*******
ANTARA MUSIBAH DAN DOSA
“ Sesuatu kebaikan yang kamu dapatkan itu datang daripada Allah, dan sesuatu bencana yang datang adalah akibat perbuatanmu sendiri “
( QS. An Nisa : 79 )
Hampir seluruh surat kabar baik di Indonesia, malaysia , Singapore dan Brunei pada mingu ini membicarakan masalah asap yang datang akibat kebakaran hutan di Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. Nampaknya itu merupakan suatu musibah atau bencana biasa; tetapi sebenarnya itu merupakan peringatan Allah terhadap manusia , agar manusia dapat mengintropeksi diri, membaca kembali perjalanan hidup yang dilakukan selama ini; apakah kehidupan kita baik secara individu maupun dalam keadaan sosial kemasyarakatan telah sesuai dengan perintah Allah dan Sunnah rasulullah saw…?
Para ulama terdahulu ( salafusshaleh ) apabila salah seorang dari mereka mendapat bencana atau musibah dan kesulitan hidup, maka mereka segera mengadakan intropeksi pada keadaan, sikap danperbuatan mereka sendiri; sehingga mereka selalu berkata :
“ Ini semua gara-gara aku telah berbuat dosa, atau bisa jadi karena aku telah melalaikan kewajibanku terhadap Allah. Juga mungkin karena aku telah berbuat lalim kepada hamba Allah, atau karena aku telah meremehkan kemuliaan Allah, atau karena aku telah berbuat sesuatu yang tidak sesuai dengan perintah Allah . Oleh sebab itu aku harus segera kembali ke jalan Allah, bertobat memohon ampun atas segala dosa dan kesalahan sengan mengucapkan doa sebagaimana doa yang diucapkan oleh Nabi Adam dan Siti Hawa sewaktu mereka dikeluarkan dari syurga, yaitu : Rabbana Dzalamnaa anfusanaa, wa inlam taghfirlana wa tarhamnaa lanakunanna minal khasirin…Ya Allah …..kami telah menganiaya diri kami sendiri. Maka seandainya Engkau tidak memberikan ampunan kepada kami dan tidak mengasihi kami , maka kami akan termasuk golongan yang merugi “.
Inilah fitrah manusia dan sikap insan yang beriman. Jika mendapat rahmat, maka dia harus segera bersyukur, dan jika mendapat musibah; maka dia harus segera mengadakan intropeksi terhadap kewajibannya kepada Tuhan dan mengadakan evaluasi terhadap perbuatannya sehari-hari. Memang benar setiap sesuatu telah ditaqdirkan Allah; tetapi itu semua adalah akibat dari hukum kausalitas ( sebab-akibat ) yang dilakukan oleh manusia sendiri. “ Tidak ada yang menimpamu daripada kebaikan kecuali dari Allah dan segala yang menimpamu dari kejahatan adalah akibat perbuatanmu sendiri “ ( QS. Annisa : 79 ).
Sewajarnya dengan musibah tersebut kita segera mengadakan intropeksi baik terhadap diri kita sendiri, terhadap keluarga kita dan terhadap keadaan masyarakat secara umum. Sebagai ndividu, kita lihat bagaimana dosa telah menjadi bagian hidup kita, baik dosa yang dilakukan oleh kedua tangan, kedua kaki, mata, telinga dan hati. Mata kita selalu lupa dari membaca kitab Allah, lupa membaca hadis Rasulullah. Pendengaran kita disibukkan terlalu disibukkan oleh berita ini dan itu, oleh musik dan hal-hal yang kadang-kadang dapat melupakan kita dari mengingat Allah. Ghibah, dusta, fitnah, telah menjadi bagian dari budaya dan kebiasaan kita sehari-hari. Banyak orang tua yang telah melalaikan kewajibannya terhadap anak-anaknya hanya karena disibukkan oleh kesibukan mencari harta kekayaan dan peningkatan karier. Demikian juga banyak anak-anak yang telah durhaka kepada orangtua serta tidak lagi menghormati abang dan kakaknya serta sanak-keluarga yang lebih tua.
Di tengah masyarakat kita perhatikan sekian banyak dosa dan kemaksiatan telah menjadi bagian hidup masyarakat. Pencurian, perampokan, perzinahan, pembunuhan, pelacuran, judi, maksiat, telah begitu meraja lela dengan leluasa. Dengan mudahnya dan tanpa sungkan-sungkan lagi masyarakat melakukan kemungkaran, kezaliman, kemaksiatan, kemunafiqan, kemusyrikan, dan kekafiran. Mereka yang kuat menindas mereka yang lemah. Mereka yang kaya telah lupa akan kewajiban infaq, zakat dan sedekah. Apakah akibat dari kondisi masyarakat yang seperti ini..? Sebagai jawabannya mari kita simak beberapa hadis rasulullah di bawah ini :
Abu al Bukhtari berkata bahwa dia telah mendengar Rasulullah bersabda : “ Tidaklah binasa manusia kecuali jika mereka telah banyak berbuat dosa dan perbuatan yang cela ( HR. Abu daud ). Ummu Salamah berkata bahwa Rasulullah saw pernah bersabda : “ Apabila kejahatan telah begitu meraja lela di atas permukaan dunia, maka Allah akan menurunkan bencana bagi penduduk bumi tersebut “. Kemudian Ummu salamah bertanya : ya Rasul, bagaimana itu bisa terjadi, sedangkan di antara mereka terdapat orang yang shaleh..? Rasulullah saw menjawab : “ Ya , ihal itu akan terjadi walaupun disana terdapat orang yang shaleh, mereka juga akan tertimpa bencana sebagaimana yang lain; tetapi kemudian mereka akan kembali kepada rahmat Allah “ ( HR. Abu Naim ).
Dalam kesempatan lain, rasulullah juga bersabda : “ Ummat manusia akan tetap berada di bawah tangan Allah selama ulama mereka tidak condong kepada umara; dan selama orang yang jahat dan ingkar kepada Allah tidak dianggap sebagai orang yang baik dan shaleh; juga selama mereka tidak memberi kepercayaan kepada mereka yang jahat dan nakal. Jika mereka melakukan semuanya itu, maka Allah akan mengangkat tangan-Nya dari atas mereka, sehingga mereka akan dikuasai oleh penguasa yang diktator, dan mereka akan dianiayaoleh penguasa tersebut, dan kehidupan mereka akan selalu diliputi oleh kemiskinan dan kafaqiran “.
Dalam hadis lain disebutkan bahwa nanti di akhir zaman, terdapat kaum yang meremehkan agama karena mencari dunia. Mereka memakai pakaian yang tipis dari sutera. Ucapan mereka lebih manis daripada gula, tetapi hati mereka bagaikan hati serigala “. Oleh karena itu sayyidina Ali bin Abi Thalib berkata : “ Nanti akan datang suatu masa dimana Islam tidak kekal kecuali hanya tinggal nama, demikian juga Al Qur an hanya tinggal kaligrafi dan dalam bentuk tulisan sahaja. Masjid-masjid dibangun dengan megah tetapi kosong dari petunjuk dan hidayah. Ulama mereka selalu berbuat jahat. Jika ini yang terjadi maka bencana ( fitnah ) pasti akan terjadi “. Abdullah bin Mas’ud berkata bahwa ayahnya pernah mendengar Rasulullah saw bersabda : “ Apabila zina dan riba telah berlaku secara terang-terangan dalam suatu masyarakat, maka itu berarti tanda akan datang suatu kehancuran di atas mereka “. Mari kita bayangkan dan perhatikan kondisi masyarakat kita hari ini..sudahkah semua hal yang disebutkan di atas tadi berlaku dengan leluasa..?
Pada suatu hari Rasulullah berkata kepada para sahabat dari kelompok Muhajirin “ Wahai para muhajirin..Ingatlah bahwa ada lima perkara yang aku khawatirkan akan kalian temukan pada suatu saat nanti, yaitu :
1. Apabila kemaksiatan telah dilakukan secara terbuka dalam suatu masyarakat sehingga mereka melakukan iklan dan promosi dengan kemaksiatan tersebut; maka itu akan terjadinya wabah penyakit menular yang belum pernah ada pada masyarakat sebelum mereka.
2. Apabila masyarakat telah sering melakukan pegurangan dan penipuan dalam menimbang barang, maka mereka akan ditimpa oleh kemiskinan, dan akan diperintah oleh penguasa yang kejam.
3. Jika masyarakat tidak mau mengeluarkan zakat dari harta kekayaan mereka, maka mereka akan ditimpa oleh bencana musim kemarau.
4. Apabila masyarakat sudah sering mengkhianati janji, maka mereka akan dikuasai oleh musuh-musuh mereka yang akan merampas segala kekayaan yang mereka miliki.
5. Dan jika para pemmpin mereka tidak melakukan tindakan yang sesuai dengan Kitab Allah, maka bencana akan turun kepada mereka “
( Hadis riwayat Abu Nuaim, juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Al hakim ).
Dalam hadis lain Rasulullah saw juga bersabda : “ Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi suatu masyarakat, maka Dia akanmenjadikan orang yang baik sebagai pemimpin masyarakat tersebut; tetapi jika Allah berkehendak menjadikan kejelekan bagi suatu masyarakat, maka mereka akan dipimpin oleh orang yang bodoh, dan kekayaan mereka berada di tangan orang-orang kaya yang bakhil “ ( hadis riwayat Dailami ).
Khalifah Umar bin Abdul Aziz menulis surat kepada Ja’far bin Burqan ketika daerah kawasan yang dibawah kekuasaan Ja’far tersebut berada dalam krisis kemarau panjang. Surat itu berbunyi : “ Maka sesungguhnya musim kemarau itu adalah akibat dari kemurkaan Allah terhadap hamba-Nya. Oleh karena itu aku telah perintahkan kepada seluruh gubernur di seluruh daerah kekuasaanku bahwa pada hari yang telah ditentukan nanti agar untuk mengajak seluruh masyarakat, khususnya bagi mereka yang mempunyai harta kekayaan agar segera bersedekah dan memberi bantuan kepada faqir miskin. Masyarakat juga dianjurkan untuk segera memohon ampun kepada Allah dan berdoa dengan lafadz doa yang pernah dibaca oleh Nabi Adam : Rabbanaa dzalamnaa Anfusanaa wa inlam taghfirlanaa watarhamnaa lanakuunanna minal khasirin….dan juga membaca lafadz doa yang pernah dibaca oleh nabi Nuh sewaktu terjadi banjir besar “ Wa illa taghfirlii watarhamnii akun minal khasiriin “ ( QS. Hud : 47 ) dan lafadz doa Nabi Yunus sewaktu berada di dalam perut ikan “ Laa ilaaha illa anta subhaanaka inni kuntu minal dhaziliin “ ( QS. Anbiya : 87 ).
Memang setiap musibah, bencana, dan kecelakaan mempunyai sebab-sebab tertentu, baik oleh perbuatan kita sendiri atau perbuatan orang lain; tetapi jangan lupa bahwa hal tersebut boleh jadi juga disebabkan karena dosa-dosa dan kelalaian kita dari mengingat Allah. Maka jika datang suatu musibah dan bencana , carilah sebabnya dan segeralah bertobat kepada Allah karena mungkin diantara sebabnya yang utama adalah dosa dan kelalaian kita daripada mengingat Yang Maha Mulia, Pencipta alam semesta, Allah subhana wa taala. Fastaghfiruu…!
( MOHD. ARIFIN ISMAIL )
MENDIDIK ANAK CINTA RASUL
Pada waktu turun ayat “ Wahai orang yang beriman, bershalawatlah kamu kepadanya ( Muhammad ) dan ucapkanlah salam sejahtera dengan penuh penghormatan kepadanya “ ( QS. Al Ahzab : 56 ), diantara sahabat ada yang bertanya : Ya Rasulullah, Engkau telah mengajarkan kami ucapan salam sebagaimana yang kami ucapkan dalam shalat : “ Assalamu alaika ayyuhan Nabiyyu warahmatullahi wabarakaatuh , salam sejahtera untukmu wahai nabi dan semoga rahmat Allah dan keberkahanNya dilimpahkan kepadamu “. Kami juga selalu mengucapkan salam “ Assalamu ‘alaika Ya Rasulullah “ jika kami bertemu denganmu. Bagaimana pula cara kami bershalawat kepadamu…? Rasul kemudian menerangkan dan mengajarkan beberapa bentuk ucapan shalawat. Ada yang pendek seperti : “ Allahumma shalli ala Muhammad “, dan ada juga yang panjang sebagaimana ucapan shalawat dalam shalat : “ Allahumma shalli ala Muhammad wa alaa aali Muhammad, kamaa shallaita alaa Ibrahim wa alaa aali Ibrahim Innaka Hamiidun Majid. Wa baarik alaa Muhammad wa alaa Muhammad kamaa barakta alaa Ibrahim wa alaa aali IbrahimInnaka hamiidun majid “ . Ucapan shalawat tersebut diriwayatkanoleh Ka’ab bin Ujrah dalam seluruh kitab hadis.
Banyak hadis yang menerangkan tentang ucapan shalawat dalam berbagai bentuk dan versi. Secara umum semuanya menyuruh kita sebagai ummat Muhammad untuk selalu berdoa agar Allah selalu melimpahkan keselamatan, kesejahteraan kepada nabi Muhammad, sebagai suatu sikap penghormatan kepadanya. Kita sebagai ummat Muhammad tidak boleh mengkultuskan manusia, walaupun manusia itu sehebat apapun; tetapi kita harus menghormatinya bukan dengan cara memuja atau menyembahnya tetapi dengan cara mendoakan keselamatan dan kebahagiaannya kepada Allah subhana wa taala. Sayyidina Ali bin Abi Thalib meriwayatkan sebuah hadis yang artinya : “ Orang yang paling bakhil ialah orang yang tidak bershalawat kepadaku ( Nabi Muhammad ) tatkala namaku disebut didepannya “ ( Riwayat Tirmidzi dan Ahmad ).
Tiada nikmat yang lebih mulia daripada nikmat Iman , Islam dan mendapat petunjuk Allah. Karena dengan Iman dan islam kita dapat mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Iman dan Islam tersebut kita terima hanya melalui Rasulullah saw. Melalui baginda kita mengenal Allah. Melalui baginda kita mendapatkan cahaya kehidupan. Melalui baginda Rasul kita mengetahui kebenaran dan cara hidup yang benar. Melalui kedatangan beliau kita mengenal arti dan makna hidup serta mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan hidup. Maka jika kita tidak mendoakan baginda Rasul tatkala namanya disebut , itu merupakan sikap tidak beradab dan menandakan bahwa kita tidak berterima kasih atas nikmat yang telah kita dapat melalui beliau. Sebagai insan yang beradab, sewajarnya kita mengucapkan salam dan berdoa untuk orang yang telah berjasa kepada kita.
Rasulullah saw bersabda :“ Adalah suatu aib jika ada orang yang tidak mengucapkan shalawat kepadaku tatkala namaku disebut didepannya " ( riwayat Tirmidzi ). Oleh karena itu “ apabila namaku diucapkan di hadapan seseorang, maka dia hendaklah dia mengucapkan shalawat kepadaku; dan Allah akan memberi sepuluh kebaikan atas setiap shalawat yang dibacakan “ ( riwayat Imam Ahmad ). Dalam hadis yang lain disebutkan bahwa rasulullah saw bersabda : “ Jika seseorang bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah akan membalasnya dengan sepuluh kebaikan, memberi ampunan atas sepuluh kejahatan yang telah dilakukannya, dan akan diangkat kan baginya sepuluh derajat “ ( riwayat Nasa’i ) . “ Siapa saja yang mengucapkan shalawat kepadaku, maka Allah akan memberi rahmat kepadanya sebanyak sepuluh kali ‘ ( riwayat Muslim ). Ibnu Mas’ud meriwayatkan bahwa rasulullah saw bersabda : “ Orang yang paling dekat kepadaku pada hari akhirat nanti adalah mereka yang mengucapkan shalawat kepadaku “ ( riwayat Tirmidzi ). “ Allah mempunyai malaikat-malaikat yamg mengembara ke seluruh dunia dan membawa ucapan shslawat yang diucapkan oleh ummatku “ ( riwayat Nasa’i dan Darimi ).
Abu Thalhah menceritakan bahwa pada suatu hari Rasulullah saw datang dengan wajah berseri-seri sambil bersabda : “ Malaikat Jibril datang kepadaku memberitahukan bahwasanya Allah telah berfirman : Tidakkah engkau gembira Hai Muhammad jika ummatmu bershalawat kepadamu maka Allah akan memberi rahmat kepadanya sepuluh kali ( riwayat Nasa’I dan Darimi ). Oleh karena itu seorang sahabat rasul, Abdullah bin Ammar berkata : ‘ Siapa yang bershalawat kepada Nabi Muhammad satu kali, maka Allah dan malaikat-Nya akan membalas dengan tujuh puluh kali kebaikan “ ( Ahmad ).
Ubay bin Ka’ab memberitahukan Rasulullah saw bahwa dia selalu mengucapkan shalawat kepada baginda. Kemudian dia bertanya berapa banyak shalawat yang harus diucapkannya..? Rasulullah saw menjawab bahwa dia boleh mengucapkan shalawat seberapa saja yang disukainya . “ Terserah kepadamu berapa saja yang engkau kehendaki untuk membacanya, dan jika engkau terus menambahkan bilangan ucapannya, itu lebih baik bagimu “, demikian sabda Nabi.
Apakah ucapan salam kepada Rasul itu akan dijawab…? Rasulullah saw telah bersabda : “ Siapa saja yang mengucapkan salam kepadaku maka Allah akan mengembalikan semangat kepadaku agar aku dapat membalas ucapan salamnya “ ( riwayat Abu daud dan baihaqi ). “ Siapa yang mengucapkan shalawat di maqam kuburanku maka aku akan mendengarnya dan siapa yang bershalawat kepadaku dari tempat yang lain, maka ucapan itu akan disampaikan kepadaku “ ( riwayat Baihaqi ) .
Menurut Maulana Afzalurrahman dalam bukunya “ Ensiklopedia of Seerah “ , ucapan shalawat yang diucapkan oleh manusia itu mempunyai tiga makna. Pertama, ucapan shalawat bermakna sebagai tanda cinta dan kasih sayang, dengan bershalawat kepada nabi itu merupakan tanda kita mencintai dan mengasihi beliau. Kedua, ucapan shalawat bermakna pujian dan sanjungan kepada baginda nabi; maka dengan bershalawat kepadanya berarti kita telah memuji Rasul. Ketiga, ucapan shalawat bermakna sebagai doa kepada beliau, amka dengan bershalawat berarti kita telah berdoa agar Allah selalu melimpahkan rahmat –Nya kepada baginda nabi Muhammad saw.
Perkataan salam yaitu lafadz “ wassallimuu tasliima “ atau “ wassalam alaihi “ juga mengandung tiga makna. Pertama, ucapan salam berarti memohon perlindungan dan keselamatan sehingga baginda Rasul terpelihara daripada segala kejahatan. Kedua, ucapan salam bermakna agar beliau mendapat ketenangan dan keamanan, sehingga tidak terdapat sesuatu apapun yang menentang atau memusuhinya. Dengan mengucapkan salam berarti kita memberikan dukungan kepada beliau dengan sepenuh hati, baik melalui perkataan, harta atau jiwa. Memberi dukungan melalui perbuatan berarti melaksnakan seluruh ajaran dan perintah yang telah disampaikannya dan meninggalkan segala larangan yang dititahkannya. Untuk mengetahui anjuran dan larangan tersebut, kita harus mencari, membaca, dan mempelajari ucapan, perbuatan serta sikap kepribadian beliau. Hal itu semuanya telah disusun dengan rapi dan teliti oleh para ulama peneliti hadis. Dengan ucapan salam berarti kita mempunyai kewajiban untuk membaca, dan mempelajari kitab hadis dan Sirah Rasul serta mengamalkannya sebagai bukti cinta kita kepadanya.
Ketiga, ucapan salam juga bermakna sebagai doa untuk kesejahteraan dan keselamatan. Doa bagi kesejahteraan dan keselamatan juga bermakna bahwa kita berkewajiban untuk menjaga nama baik beliau daripada segala tindakan yang kurang terpuji yang dialamatkan kepadanya seperti penghinaan , penghujatan dari musuh-musuh Islam kepadanya dan lain sebagainya. Sejarah telah membuktikan bahwa hampir setiap masa ada saja usaha dari musuh-musuh islam untuk menghujat dan menghina rasul. Kasus “ The satanic verses “ Salman Rusydi merupakan contoh yang jelas bagi kita semua. Dan usaha ini akan terus berkelanjutan dilakukan oleh musuh-musuh Islam. Sebagai ummat Muhammad, kita harus waspada dan berkewajiban untuk membela nama baik baginda sebagai tanda cinta kita kepadanya.
Dalam masyarakat modern sekarang ini, disebabkan oleh kesibukan kerja sehari-hari , kita sebagai orangtua sering lupa untuk mengucapkan shalawat dan salam kepada baginda nabi. Apalagi anak-anak , remaja dan generasi muda kita; malah mereka lebih dekat dengan nama-nama bintang filem barat, bintang olahraga , artis, penyanyi dan lain sebagainya daripada mengingat nama nabi. Apa sebabnya…? Mungkin diantara sebabnya banyak orang tua muslim yang lupa akan kewajiban untuk mengajarkan anak-anak agar cinta kepada rasul dan keluarganya. Padahal rasulullah sejak awal telah menganjurkan agar diantara yang pertama diajarkan dan dididik kepada anak-anak adalah mencintai Rasulullah saw .
Agar anak-anak cinta kepada nabi, maka kita harus dapat memperkenalkan kehebatan , keunggulan, keutamaan dan kepribadian mulia beliau. Dengan memperkenalkan hal tersebut akan timbul kekaguman mereka terhadap baginda. Dengan kekaguman tersebut, akan timbul rasa cinta ke dalam hati mereka, dan dengan demikian mereka akan menjadikan baginda rasul sebagai pujaan mereka. Dengan menjadi pujaan hidup , maka mereka akan mencontohi segala sikap dan gaya hidup rasulullah saw. Tetapi kalau kita lihat kenyataan yang berkembang selama ini, siapakah yang menjadi idolah generasi muda kita..? Mereka memuja dan mengagumi tokoh yang aneh-aneh seperti Super man, Michael Jackson, Madona, Maradona , dan lain sebagainya. Mengapa mereka tidak mengambil nabi Muhammad sebagai bintang pujaan mereka….? Mungkin dikarenakan mereka tidak pernah mendengar lagi cerita tentang kehebatan dan kebesaran baginda Nabi Muhammad. Kalau demikian, siapakah yang bersalah….?
Sudah saatnya terutama dalam masyarakat modern sekarang ini kita sadar dan berpikir agar kita selalu mengucapkan shalawat dan salam kepada nabi Muhammad saw dimanapun kita berada. Sudah waktunya kita mengkaji ulang dan mempelajari sejarah kehidupan beliau yang penuh dengan pelajaran dan contoh teladan. Juga sudah waktunya kita mendidik anak-anak kita untuk mencintai Rasul, dan mengamalkan ajarannya serta membela nama baiknya. Kalau di masa lalu, ibu-ibu muslimah selalu menceritakan kisah-kisah Rasul, kisah sahabat dan para syuhada kepada anak-anak sebelum tidur, bagaimana dengan ibu-ibu muslimah di zaman modern sekarang ini..? Wallahu A’lam bisshawaab.
I
4
“ Dan telah Kami tetapkan dalam kitab Zabur bahwa bumi ini
diwariskan kepada hamba-hamba yang shaleh “
( QS. Al Anbiya : 105 )
Setelah dua tahun tiga bulan menjadi pemimpin ummat menggantikan kedudukan Nabi Muhammad saw; khalifah Abubakar Asshidddiq merasa bahwa dirinya tidak lama lagi akan dipanggil menghadap kepada-Nya. Oleh karena itu, beliau segera meminta pandangan dan pendapat dari beberapa sahabat bagaimana seandainya jika Umar bin Khattab menggantikan kedudukan beliau tersebut. Secara terpisah, walau dalam keadaan sakit di atas tempat tidur, beliau memanggil beberapa sahabat utama rasulullah untuk dimintai pendapat mengenai ide dan usulannya tentang pencalonan Umar.
Pertama sekali Abubakar memanggil sahabat Abdurrahman bin Auf yang terkenal sebagai konglomerat di kalangan ummat. Beliau berkata : “ Ya Abdurrahman, bagaimana penilaianmu tentang Umar bin Khattab..? Abdurrahman menjawab : “ Demi Allah, dia itu lebih baik darsiapa saja yang ada dalam pemikiran anda; hanya saja sikapnya agak keras “. Kemudian Abdurrahman meneruskan : “ Hal ini mungkin disebabkan dia memandangku terlalu bersikap lembut. Jika pimpinan diserahkan kepadanya, niscaya sikap itu akan berubah. Buktinya, cobalah perhatikan ya Abu Muhammad (panggilan lain untuk Abubakar)..jikalau aku sedang marah kepada seseorang; maka dia membela orang tersebut. Sebaliknya jika aku bersikap lembut kepada seseorang, maka dia dengan sengaja akan bersikap tegas kepada orang tersebut..”. Baiklah....tetapi saya harap untuk sementara waktu agar pembicaraan ini hanya untuk kita berdua saja, demikian Abubakar mengakhiri pembicaraannya tersebut.
Keesokan harinya, Abubakar yang sedang sakit di atas pembaringan memanggil Usman bin Affan dan berkata : “ Bagaimana pendapatmu tentang Umar bin Khattab, wahai abu abdillah ( panggilan untuk Usman )”. Usman menjawab : “ Anda lebih arif tentang dia “. Abubakar menyela : “ Benar, tetapi saya ingin meminta penilaianmu terhadap dia “. Usman bin Affan berkata : “ Menurut pengamatan saya, Umar itu hatinya baik walaupum sikapnya tegas. Tiada seorangpun yang sama dengannya dalam lingkungan kita “. Kemudian Abubakarpun berkata : “ Baiklah, terimakasih atas kedatangan anda dan saya harap agar pembicaraan ini hanya untuk kita berdua saja “.
Setelah Usman bin Affan pulang ke rumahnya, Abubakar memanggil Thalhah bin Ubaidillah. Setelah berlangsung beberapa pembicaraan dengan beliau, kemudian Thalhah berkata : “ Wahai Khalifah, engkau mengemukakan calon pengganti anda, dan engkau telah mengetahui bagaimana sikap dan apa yang diperbuatnya terhadap orang disekelilingnya; sedangkan anda masih hidup. Bagaimana lagi sikapnya nanti setelah engkau berpulang ke rahmatullah, dan kekuasaan beraddi tangannya. Oleh karena itu lebih baik engkau menanyakan bagaimana penilaian orang banyak dan masyarakat atas usulanmu tersebut “. Mendengar usulan dari Thalhah, Abubakar yang sedang berbaring minta didudukkan. Thalhah segera membantu beliau untuk duduk, kemudian Abubakar berkata : “ Apakah anda mengkhawatirkan pertanggungjawabanku terhadap Allah jika seandainya ajalku tiba dan Allah bertanya tentang tanggungjawabku maka aku akan menjawab : “ Aku telah menunjuk penggantiku seorang yang terbaidi kalangan hamba-Mu, bagi kepentingan hamba-Mu “.
Keesokan harinya Abubakar mengumpulkan seluruh masyarakat sesuai dengan saran dari Thalhah. Setelah seluruh penduduk negeri berkumpul di depan rumah, beliau minta didudukkan dengan bantuan dari isterinya Asma bin Umais yang terus memegang beliau. Kemudian beliau berkata : “ Saya harap agar kalian semua sudi untuk memberikan penilaian dan pendapat atas orang yang akan saya tunjuk untuk menggantikan kedudukanku sebagai khalifah. Demi Allah, penunjukan ini bukan main-main, asal tunjuk dan tidak berdasarkan atas hubungan keluarga. Aku menunjuk Umar bin Khattab sebagai khalifah penggantiku. Bagaimana pendapat kalian, apakah kalian rela menerimanya...?”. Secara aklamasi seluruh penduduk yang sedang berkumpul berkata : “ Sami’naa wa atha’naa ; kami setuju, dan akan mendengar serta mematuhinya “.
Setelah puas atas jawaban dari seluruh masyarakat, khalifah pun masuk ke dalam kamar dan dibaringkan seperti keadaan semula. Kemudian beliau memanggil Usman bin Affan untuk menuliskan surat amanat untuk Umar. Sambil berbaring Khalifah Abubakar berkata kata demi kata dan Usmanpun menulis setiap kata yang keluar dari bibir beliau : “ Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Inilah perjanjian yang dibuat antara Abubakar ibnu Abi Kuhafah terhadap kaum muslimin. Adapun kemudian......”. Sampai di kalimat terakhir ini tiba-tiba Abubakar tidak sadardan diri sehingga kalimatpun terhenti. Dengan segera Usman bin Affan berinisiatif untuk meneruskan kalimat tersebut dan segera menulis : “ .....aku menunjuk Umar bin Khattab untuk menggantikanku dan ini perjanjian ini kubuat demi untuk kebaikan bagi semua “. Tak lama kemudian, sehabis Usman meneruskan tulisan tersebut, Abubakarpun siuman dari keadaan nya dan kemudian beliau meminta agar Usman membacakan apa yang telah tertulis dalam surat amanat tersebut. Usman membaca surat amanat tersebut dari awal sampai akhir, termasuk kata-kata yang ditambahkannya sewaktu Khalifah tidak sadarkan diri.
Setelah selesai mendengar apa yang dibaca oleh Usman, beliau segera mengucapkan takbir sebagai pernyataan rasa syukur dan puas atas apa yang telah ditulis. Kemudian beliau berkata kepada Usman : “ Terimakasih atas apa yang telah engkau tambahkan, dan aku rasa sewaktu aku tidak sadar tadi dan tiba-tiba ajalku tiba, maka engkau khawatir jika kalimat terputus itu dapat menimbulkan bahaya dan kekacauan penafsiran di tengah masyarakat, karena kalimat tersebut belum menunjukkan suatu kepastian “. Benar, kata Usman.Setelah surat amanat tersebut selesai ditulis, Abubakar segera memanggil Umar bin Khattab dan menyerahkan surat amanat dan kepercayaan tersebut kepadanya. Setelah surat itu disampaikan, Abubakar memberikan beberapa pesanan, dan wasiat.
Bunyi surat wasiat dan amanat Abubakar kepada Umar adalah sebagai berikut : “ Wahai Umar bin Khattab, jika Allah telah memberikan sebuah tanggungjawab kepadamu pada malam hari , maka janganlah kau tangguhkan tanggungjawab tersebut sampai siang hari. Jika Allah memberikan amanat dan tanggungjawab kepadamu di siang hari, maka janganlah kau tangguhkan hal itu sampai malam hari. Wahai Umar, Ingatlah bahwa Allah tidak akan menerima amalan sunat sebelum amalan wajib dilaksanakan. Bukankah anda ketahui wahai Umar bahwa neraca timbangan seseorang itu akan berat pada hari kiamat disebabkan orang itu melaksanakan kebaikan-kebaikan. Bukankah engkau ketahui wahai Umar, bahwa timbangan seseorang itu akan ringan pada hari kiamat jika orang tersebut selalu membela kepalsuan...?
Wahai Umar, bukankah engkau telah menyaksikan bahwa ayat-ayat peringatan dan ancaman senantiasa diikuti dengan ayat-ayat pengharapan . Tujuannya adalah agar manusia merasa gembira dan gemetar. Bergembira dengan penuh harap, tetapi bukan atas apa-apa yang tidak diridhai Allah; sehingga dia tidak merasa takut di saat akan menghadap Allah kelak..”. “ Wahai Umar, bukankah Allah telah menceritakan bagaimana penderitaan penduduk neraka, maka jika anda mengingatnya segera ucapkan dalam diri sendiri : “ Janganlah aku termasuk ke dalam golongan seperti itu “. Bukankah engkau juga Ya Umar telah menyaksikan bahwa Allah menceritakan tentang kebahagiaan penduduk surga..? Jika engkau mengingat hal tersebut maka ucapkanlah untuk dirimu sendiri : “ Semoga aku dapat bekerja dan beramal seperti apa yang telah mereka kerjakan “. Inilah amanat dan wasiatku untukmu. Jika anda mengingat amanatku ini, semoga anda lebih mencintai yang tidak nampak daripada yang nampak “.
Demikianlah wasiat dan amanat Abubakar asshiddiq kepada Umar bin Khattab yang akan menggantikan kedudukannya sebagai khalifah kaum muslimin.Dari kisah diatas dapat kita lihat bagaimana para sahabat Rasulullah mencarikan orang yang akan menggantikan kedudukan dan jabatan mereka. Mereka merasa bahwa mencarikan pengganti dari mereka yang terbaik merupakan tanggungjawab yang akan ditanya nanti di hari kiamat. Oleh karena itu mereka tidak ingin mengangkat sembarang orang atau mengangkat berdasarkan asas nepotisme dan lain sebagainya. Tetapi mereka mencari pengganti yang benar-benar dapat diterima oleh masyarakat dan juga diridhai oleh Allah swt. Dalam ayat di awal tulisan ini kita melihat bagaimana Nabi Ibrahim menginginkan agar bumi ini diwariskan artinya diperintah dan dikelola oleh orang-orang yang shaleh.
Mencari pemimpin diantara orang yang shaleh, pemimpin yang beriman dan bermoral , pemimpin yang dapat dipertanggungjawabkan dunia dan akhirat rupanya menjadi kewajiban ummat manusia, khususnya kaum muslimin jika mereka menginginkan kesejahteraan dan kebahagiaan di dunia; karena ini merupakan suatu sunnatullah ( hukum Alam ) yang tidak bisa ditawar-tawar dalam mencapai kebahagiaan di dunia. Jika sunnatullah ini dilanggar, dalam arti kita memilih seorang pemimpin yang memiliki kreteria shaleh, “shaleh lid ddunya” dalam arti mempunyai kapasitas, ilmu dan kecakapan; serta “shaleh lil akhirah” yaitu beriman dan bertaqwa, mempunyai akhlak yang mulia; maka tunggulah saat kehancuran. Mungkin kita semua sering mendengar hadis “ Idza wusidal amru ilaa ghairi ahliiha fantadzirussa’ah “, jika suatu urusan diserahkan bukan kepada ahlinya maka tunggulah saat kehancuran. Ini adalah Sunnatullah. Inilah manajemen Islam; tetapi sudahkan ummat Islam memperhatikan sunnatullah dan peringatan Rasul tersebut...? Fa’tabiruu Yaa Ulil Albaab, Wallahu A’lam. ( 10-03-98 )
MEMBERI NASEHAT , BUKAN HANYA UCAPAN SELAMAT
“ Demi masa, Sesungguhnya manusia itu akan merugi, kecuali mereka yang berimandan beramal shaleh, dan saling memberikan nasehat kepada kebenaran dandengan penuh kesabaran “ ( QS. Al Ashr : 1-3 )
Sewaktu Umar bin Khattab diangkat menjadi khalifah, ada seorang sahabat nabi yang bernama Said bin Amir ibn Hidzyam al Jumhi berkata : Wahai Umar aku ingin memberikan nasehat kepadamu. Umar menjawab : baik, segeralah beri aku nasehat. Said kemudian berkata : “ Aku wasiatkan kepadamu agar kamu selalu takut kepada Allah dikala kamu sedang menangani urusan manusia; dan janganlah kamu takut kepada manusia di kala kamu sedang berurusan dengan Allah. Jangan sampai perkataanmu berlainan dengan perbuatanmu, karena sebaik-baik perkataan adalah yang sesuai dengan perbuatan. Janganlah kamu memutuskan satu perkara dengan dua kali keputusan karena hal itu akan menjadikanmu dalam kesulitan dan hilang darimu kebenaran. Putuskanlah suatu urusan dengan alasan yang benar, maka engkau akan beruntung, maka Allah akan menolongmu dan rakyatmu akan sejahtera dibawah pimpinanmu. Laksanakanlah segala urusan ummat baik yang dekat denganmu maupun mereka yang jauh. Cintailah mereka sebagaimana engkau mencintai dirimu sendiri dan keluargamu; dan bencilah terhadap yang akan menimpa mereka sebagaimana engkau membenci jika hal tersebut menimpa dirimu dan keluargamu. Tegakkanlah kebenaran dan janganlah kamu berpaling sedikitpun dari Allah swt. “ Mendengar nasehat tersebut Umar bin Khattab menjawab : “ Siapakah yang sanggup melakukan itu semua..? Said menjawab : Orang seperti kamu dan siapa saja yang diberi Allah amanat untuk mengurusi ummat Muhammad saw.
Abu Ubaidah bin Al Jarraah dan Muadz bin Jabal juga menulis surat kepada Umar sewaktu mendengar bahwa Umar telah menjadi khalifah, menggantikan Abubakar ashhiddiq. “ Dari Abu Ubaidah bin Al Jarrah dan Muadz bin Jabal kepada Umar bin Khattab..Assalamu alaika..Amma Badu..Maka sesungguhnya kami telah memberikan mengangkatmu sebagai pemimpin, oleh karena itu hendaklah engkau memperhatikan beberapa hall agar kamu dapat mengevaluasi dirimu nanti. Hai Umar, sekarang engkau telah diangkat untuk memimpin urusan ummat baik yang berkulit merah maupun berwarna hitam; baik dari keturunan mulia maupun rakyat jelata; baik kawan, kerabat dan sanak saudara maupun lawan dan kelompok oposisi; tetapi ingatlah bahwa semua mereka itu mempunyai kedudukan yang sama untuk memperoleh keadilan. Maka lihatlah bagaimana kamu dapat menjalankan keadilan tersebut dengan baik. Wahai Umar...kami memperingatimu bahwa nanti ada hari dimana semua kepala akan menunduk, dimana semua hati akan kecut, dimana pada saat itu semua alasan tidak akan diterima; itulah hari dimana Allah akan menampakkan kekuasaan-Nya. Semua makhluk akan hina di depan-Nya dan semuanya mengharakan rahmat Ilahi, takut atas siksaan-Nya.....Wahai Umar...ingatlah bahwa kami tuliskan ini bertujuan karena kami menginginkan agar ummat ini hidup dengan penuh persaudaraan, semoga surat yang kami tulis dengan tulus ikhlas dapat engkau terima juga dengan penuh keikhlasan. Ini semua kami tulis sebagai nasehat kepadamu, Wassalam “. Mendapat surat tersebut, Umar langsung menyambut dengan gembira dan segera mengirim surat balasan : “ Sesungguhnya tiadalah kekuatan dan kekuasaan pada Umar untuk menjalankan itu semua kecuali kekuasaan dan kekuatan yang diberikan oleh Allah subhana wataala...terima kasih atas nasehat kamu berdua, dan janganlah kalian bosan untuk memberi nasehat kepadaku karena aku sangat mengharapkan nasehat dari kamu berdua, wassalam “.
Demikian juga pada suatu hari seorang sahabat bernama Rabi’ bin Zayyad memberikan nasehat kepada Umar bin al Khattab : “Wahai Umar..sesungguhnya sekarang engkau sedang mendapaamanah untuk memimpin ummat; maka takutlah kamu kepada Allah atas apa yang akan engkau lakukan terhadap mereka dan khususnya apa yang akan engkau lakukan kepada diri dan keluargamu; karena engkau di suatu saat nanti akan dihisab ( dihitung ) dan diminta pertanggungjawaban atas apa yang telah engkau lakukan. Oleh karena itu lakukanlah apa yang menjadi amanat bagimu karena engkau akan diberi ganjaran pahala sesuai dengan amal perbuatanmu “. Mendengar peringatan tersebut, Khalifah Umar berkata : “ Terima kasih atas nasehatmu “.
Dari kisah diatas terlihat bahwa jika seseorang mendapat amanat untuk menduduki suatu jabatan ; maka kewajiban bagi kawan dekat, sahabat dan kolega untuk memberikan nasehat kepada kawan yang mendapat jabatan tersebut. Memberikan nasehat kepada mereka yang mendapat amanat untuk memimpin adalah budaya Islam, yang telah ditradisikan oleh para sahabat, sebagai aplikasi dari pesan Rasul dalam sebuah hadis “ Addinu Nasiihah “, agama itu adalah nasehat. Sayangnya budaya memberi nasehat dan peringatan kepada kawan pada saat ini telah berganti dengan budaya memberi ucapan selamat yang kadang-kadang mengandung maksud tertentu alias “ ada udang di balik batu “. Saat ini kita lihat, jika ada seorang kawan mendapat jabatan tertentu; maka beramai-ramai orang memberikan ucapan selamat bukan memberikan nasehat . Malahan lebih parah lagi, biasanya kawan-kawan dekat pemimpin yang baru diangkat tersebut segera memanfaatkan kesempatan, mencari-cari peluang untuk mendapat keuntungan sebanyak-banyaknya; dengan alasan , mumpung dia punya posisi. Akhirnya tanpa disadari, banyak para karier para pemimpin hancur akibat ulah kawan-kawan dekat; padahal seharusnya kawan dekatlah yang harus membantu agar kawannya tersebut dapat mengemban amanat dengan baik.
Sayyidina Ali bin Abi Thalib, jika mendengar bahwa diantara kawannya ada yang mendapat amanat untuk menduduki suatu posisi tertentu maka dia segera mengirim surat nasehat : “ Wahai kawanku...janganlah engkau menutup diri atas rakyatmu; karena jika seorang pemimpin menutup diri dari hadapan rakyatnya, maka pemimpin tersebut akan mendapat kesulitan; dan susah akan mendapat informasi yang benar. Karena menutup diri itu akan memutuskan informasi tentang orang bawahan; sehingga akibatnya nanti yang mulia akan dipandang hina dan yang hina akan dipandang mulia. Yang baik akan dipandang jelek sedangkan yang jelek akan dipandang baik. Akhirnya akan bercampurlah antara yang benar dan yang bathil. Ungatlah bahwasanya seorang pemimpin itu juga manusia biasa yang tidak dapat mengetahui hal yang tersembunyi . Dengan membuka dan menerima informasi dari segala lapisan masyarakat maka hal yang tersembunyi tersebut akan menjadi jelas; dan akan nampak perbedaan antara yang benar dan yang palsu. Ingatlah wahai kawan..bahwasanya engkau akan menjadi salah satu dari dua hal : Engkau akan menjadi manusia yang terbuka , selalu melaksanakan kebenaran dan memberikan hak setiapang atau engkau menjadi manusia yang tertutup. Jika engkau berbuat jelek, ingatlah bahwa masyarakat dengan cepat akan mengetahuinya; sedangkan masih banyak manusia sangat tergantung pada pertolonganmu . Ambillah manfaat dari apa yang telah kunasehati, dan segera laksanakanlah tugas dengan sebaik mungkin “.
Demikian juga jika seorang pemimpim mempromosikan bawahannya untuk menduduki suatu jabatan; maka kewajiban pemimpin tersebut adalah memberikan nasehat kepada bawahannya agar dapat menjalani kewajibannya sebaik mungkin, bukan bernegosiasi kepada bawahannya tentang pembagian jatahatau upeti dan lain sebagainya. Umar bin Khattab sewaktu mengangkat Abi Musa al Asy’ari, beliau berpesan : “ Sesungguhnya banyak masyarakat yang takut dan lari dapi pemimpinnya; maka semoga kamu sebagaimana saya dihindarkan oleh Allah dari hal seperti itu. Maka tegakkanlah hukum setiap saat; dan jika kamu menghadapi dua urusan yang satu urusan akhirat dan yang satu lagi urusan dunia; maka dulukanlah urusan akhirat. Hati-hatilah terhadap orang yang munafiq, dan hadapilah mereka satu demi satu. Kunjungilah jika rakyatmy ada yang sakit, dan sempatkanlah untuk melayat jika diantara mereka ada yang wafat. Bukalah pintu rumahmu bagi kehadiran merekadan segera selesaikan setiap kesulitan mereka karena sesungguhnya engkau adalah bagian dari masyarakat hanya saja Allah telah memberimu beban lebih berat dari yang lain. ...Ingatlah bahwa kekuatan dalam beramal dan bekerja adalah jika engkau tidak mengakhirkan dan menunda sampai besok apa yang dapat engkau lakukan hari ini. Dekatkanlah dirimu selalu kepada Allah dan pelajarilah kitab-Nya karena kitab suci tersebut merupakan sumber ilmu pengetahuan dan juga penawar hati yang susah.”
Saling memberikan nasehat baik lisan maupun melalui tulisan kepada kawan yang sedang mendapat amanat , mendapat jabatan dan kedudukan, perlu menjadi budaya ummat Islam. Karena setiap jabatan adalah amanah yang wajib dijaga dan dipelihara bersama. Sebagai kawan, sebagai kolega kita berkewajiban memberikan beberapa catatan dan perhatian bukan sekedar ucapan selamat, sanjungan dan minta bagian. Mungkin mengirimkan nasehat kepada mereka yang sedang bertugas perlu dibudayakan lagi; dan lebih bermanfaat daripada sekedar mengirimkan ucapan selamabaik melalui surat, telepon, internet, maupun media massa; sebagai aplikasidari “ Watawashau bil haq, watawaashau bissabri, saling nasehat-menasehati dalam kebenaran dan dengan penuh kesabaran . Wallahu A’lam.
MENYAMBUT HARI RAYA QURBAN
“ Dan barangsiapa yang membesarkan syi’ar - syiar Allah
maka itu merupakan tanda dari hati yang bertaqwa “
( QS. Al-Haj : 32 )
Sewaktu nabi Muhammad saw memasuki kota Madinah, beliau melihat bahwa penduduk kota Madinah mempunyai hari raya dimana mereka menyambut hari-hari besar tersebut dengan penuh kegembiraan. Melihat hal yang demikian, maka Rasulullah saw bersabda kepada para sahabat beliau : “ Sesungguhnya Allah Taala telah menetapkan bagimu hari yang lebih baik dari hari raya mereka, itulah hari raya “ Idul Fitri “, dan hari raya “ Idul Adha “. Memang, setiap ummat dan masyarakat mempunyai hari-hari tertentu dimana mereka berkumpul , bergembira, bersyukur, dan sekaligus sebagai identitas diri dan syiar agama dan masyarakat tersebut. Untuk itu Allah telah menetapkan kepada ummat Islam beberapa hari istimewa agar ummat Islam dapat memperlakukan dan menjalani hari-hari tersebut dengan amalan-amalan istimewa pula.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud dijelaskan bahwa Rasulullah saw pernah bersabda : “ Sesungguhnya Allah Taala telah memilih bagi kamu sekalian empat hari ( sebagai hari istimewa )………yaitu Pertama adalah Hari Jum’at, karena di hari tersebut ada suatu waktu dimana Allah akan mengabulkan setiap permintaan hamba-Nya baik dalam urusan dunia maupun urusan akhirat. Kedua adalah hari Arafah ( tanggal 9 Dzulhijjah ), karena pada hari tersebut Allah berfirman kepada malaikat : Wahai malaikatku, lihatlah kepada hamba-hamba-KU yang datang dari seluruh tempat berkumpul di padang Arafah , mereka telah mengeluarkan harta yang banyak dan menguras tenaga untuk dapat datang ke arafah. Maka saksikanlah wahai malaikat bahwa AKU telah mengampuni dosa-dosa mereka. Ketiga, adalah hari Nahr ( hari Qurban / hari raya idul adha ) karena pada hari tersebut hamba-hambaKU mendekatkan diri dengan menyembelih Qurban, maka pada saat tetesan darah binatang sembelihan tersebut sampai ke tanah, maka dia mendapat ampunan dari segala dosa dan kejahatan. Hari yang keempat adalah hari Idul Fitri, karena pada hari itu aku memberikan ampunan kepada hambaKu yang telah menjalani puasa ramadhan di saat dia selesai melaksanakan shalat idul fitri. ..Allahu Akbar, Walillahil hamd.
Allah telah menjadikan ke-empat hari tersebut menjadi hari istimewa. Sekarang yang menjadi pertanyaan bagi kita, ummat Islam, sudahkan kita menjadikan hari-hari tersebut menjadi hari istimewa dalam hidup kita secara seimbang…? Jika hari Raya Idul Fitri datang, kita memberikan perhatian yang hebat, mengadakan takbir akbar, memakai pakaian baru, mengecat rumah malah ada yang sampai selalu mengganti perabot rumah, menyediakan kueh dan makanan bagi tetamu, ditambah lagi dengan kesibukan mudik dan lain sebagainya. Tetapi bila datang Hari Arafah, dan Hari raya Idul Adha adakah perhatian kita juga seperti di hari raya Idul Fitri..? Mengapa tanpa sadar selama ini kita seakan-akan menomor duakan Hari raya idul Adha..? Bukankah itu juga merupakan syiar Islam yang harus kita samput dengan penuh rasa syukur dan penuh kegembiraan..? Mengapa tidak ada takbir akbar baik di masjid maupun di alun-alun pada Hari Raya Idul Adha..? Mengapa tidak ada budaya mengirimkan kartu ucapan selamat hari Raya idul Adha yang juga dapat digabung dengan ucapan selamat tahun baru Islam pada satu muharram karena waktunya yang berhampiran..? Tanpa sadar, selama ini kita telah memperlakukan hari raya Idul Adha seperti hari libur biasa yang kadang-kadang diisi dengan kegiatan jalan-jalan, nonton film, shoping, atau rekreasi dan lain sebagainya. Inikah cara kita merayakan hari yang telah diistimewakan oleh Allah swt….?
Dalam sebuah hadis disebutkan : “ Tidak ada hari yang lebih disukai oleh Allah dan lebih dicintai untuk berbuat baik seperti sepuluh hari bulan dzulhijjah ( dari tanggal satu sampai tanggal sepuluh Dzulhijjah ). Maka oleh karena itu perbanyaklah olehmu ucapan takbir, tahmid ( puji-pujian ) dan ucapan tahlil ( membaca laa ilaaha illa Allah ). Oleh sebab itu dalam masyarakat Islam zaman dahulu, hari raya Idul Adha terasa lebih semarak daripada hari raya Idul Fitri, mengapa…? Karena sejak dari tanggal satu dzulhijjah, mereka telah mengadakan kegiatan-kegiatan ibadah seperti takbir, tahlil dan tahmid, ditambah lagi dengan proses penyembelihan hewan qurban dan takbir akbar sampai akhir hari tasyri’ tanggal tiga belas dzulhijjah. Kalau di hari raya Idul Fitri kita disunatkan membaca takbir sejak terbenam matahari di akhir ramadhan hingga selesai shalat Id; maka pada waktu Idul Adha, kita disunatkan untuk mengucapkan takbir dan mengadakan takbir akbar baik di masjid maupun di lapangan selama lima hari berturut-turut yaitu sejak dari waktu subuh di hari Arafah ( 9 Dzulhijjah ) sampai sore hari tasyri , tanggal tigabelas dzulhijjah.
Jika selama ini kita mendengar ada ceramah semalan suntuk di masjid seperti pada malam tahun baru hijrah, atau ada haflah Al Quran di bulan puasa untuk menyambut malam lailatul qadar, mengapa kita tidak mengadakan haflah takbir, tahmid dan tahlil atau pengajian akbar, dan kegiatan yang positip lainnya sejak hari Arafah sampai akhir hari tasyri …? Mengapa di hari libur idul Adha tersebut tidak kita budayakan untuk mengunjungi anak-anak yatim di panti-panti asuhan, mengunjungi saudara-saudara kita yang sedang berbaring di rumah sakit..? Alangkah indahnya jika selama lima hari tersebut ( sejak hari Arafah sampai hari tasyri’ ), masjid-masjid dan surau selalu penuh jamaah, kelompok yang mampu berlomba-lomba menyembelih qurban dan memberikannya langsung kepada faqir miskin. Di Pakistan, biasanya di hari-hari qurban tersebut, setiap orang yang mampu menyembelih hewan qurban di depan rumah masing-masing dan langsung membagi-bagikannya kepada tetangga dan faqir miskin; sehingga tanpa terasa suasana silaturrahmi antara yang kaya dan yang miskin akan lebih terasa. Dengan demikian, si empunya hewan qurban mendapat kebahagiaan pahala di akhirat dan kebahagiaan silaturrahmi di dunia. “ Sembelihlah olehmu hewan qurban, karena barangsiapa yang menyembelih qurbannya dengan menghadap qiblat, maka tanduknya, darahnya, bulunya, kulitnya, maka semuanya akan dihadirkan nanti di hari kiamat, dan pada saat darah hewan sembelihan itu sampai ke tanah, maka Allah akan memberikan ampunan. Berqorban itu adalah mudah, sedangkan pahalanya amatlah banyak “, demikian bunyi sebuah hadis.
Mari kita jiwai amal ibadah qurban kita, jangan hanya sekedar seremonial saja. Karena kadang-kadang ada yang menitipkan hewan qurbannya kepada pengurus masjid, dan dia tidak mau tau sama sekali setelah itu kapan hewan itu disembelih, kemana dibagi dan lain sebagainya. Memang dengan berqurban kita mendapat pahala; tetapi dengan menjiwai makna qurban, dan memberikannya langsung kepada faqir miskin akan mempererat tali silaturahmi. Manajemen qurban juga perlu dibenahi; jangan sampai daging qurban hanya didistribusikan kepada masyarakat sekitar masjid-masjid kota saja; bagaimana dengan penduduk muslim yang jauh dan berada di kampung-kampung..? Bukankah lebih baik jika qurban dari jamaah masjid kota dibagikan juga ke jamaah di masjid kampung-kampung terpencil..?
Mari kita sambut hari raya Idul Adha dengan ibadah puasa, paling tidak puasa Arafah. Mari kita rayakan dengan takbir sejak hari Arafah sampai hari tasyri’, paling tidak diharapkan selama lima hari berturut-turut siang dan malam gema takbir berkumandang dari menara-menara masjid. Ibnu Umar, seorang sahabat Rasul membiasakan dirinya untuk selalu bertakbir sejal awal bulan dzulhijjah baik di dalam majlis maupun dari atas tempat tidur. Demikian juga Atha’ bin Abi Rayyah dan malik bin Dinar selalu bertakbir baik di tengah perjalanan maupun di tengah pasar ( plaza ) .
Inilah budaya masyarakat terdahulu, mereka menyuarakan takbir dimana-mana , baik di rumah, di masjid, di pasar, dalam kenderaan, sejak awal bulan dzulhijjah; sehingga mereka namakan hari-hari tersebut dengan hari takbir dan zikir. Mari kita rayakan Hari Idul Adha dengan menyembelih hewan qurban, dan membagi-bagikannya langsung kepada kaum dhuafa, faqir dan miskin. Mari kita rayakan hari Idul Adha dengan mengunjungi dan memberikan perhatian dan santunan kepada anak-anak yatim, janda-janda, orang-orang tua renta, pasien yang sedang sakit, dan saudara-saudara kita yang sedang dalam penjara. Mari kita rayakan Idul Adha dengan mengadakan silaturahmi dan memberikan bantuan kepada pesantren, madrasah, panti-panti asuhan, surau dan langgar yang sudah hampir runtuh dan lain sebagainya.
Mari kita sambut Idul Adha dengan mengadakan ceramah akbar tentang fadhilah berqurban, fadhilah bersedekah, berwaqaf, dan memberikan perhatian dan bantuan kepada faqir miskin; sehingga di tengah krisis ekonomi ini mereka masih bisa tersenyum gembira, masih bisa bertakbir bersama, menyambut seruan Iman dan Islam. Mari kita sambut Hari raya Idul Adha dengan mengucapkan selamat Hari raya baik melalui kartu maupun telepon kepada saudara kita sesama muslim. Allaahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamd. Selamat Hari Raya Idul Adha; Selamat berqurban, semoga Allah Taala memberikan kepadkita kekuatan iman dan islam di tengah segala krisis yang sedang melanda serta menerima segala amal ibadah yang kita laksanakan selama ini “ Taqabbalahhau minna wa Minkum “. Allahu Akbar walillaahilhamd.
PRIBADI IDUL ADHA
“ Agar mereka dapat menyaksikan manfaat ( dari ibadah haji ) “
( QS. Al haj 28.)
Setiap peristiwa pasti mempunyai makna yang tersirat sehingga dapat kita jadikan pegangan dalam menjalani klehidupan. Demikian juga dengan segala peristiwa dan peringatan dalam budaya agama Islam. Hari Maulid Nabi Muhammad diperingati agar kita dapat menghayati nilai-nilai perjuangan Rasulullah saw sehingga dapat menjadikan beliau sebagai contoh utama kita dalam menjalani setiap langkah kehidupan. Isra’ dan Mi’raj diperingati agar kita dapat menghayati bahwa disana ada kehidupan akhirat yang lebih mulia dan lebih utama sehingga kita tidak tergiur oleh kehidupan dunia yang bersifat sementara maka kita harus selalu mendekatkan diri kepada -Nya melalui shalat dan ibadah lainnya.
Di bulan ramadhan kita dibentuk menjadi manusia yang suci, manusia yang dapat menahan diri dari segala godaan dan hawa nafsu. Dengan dapat menahan diri dari segala godaan, berarti kita berhasil menjadi pemenang dalam kehidupan. Bukan menang dengan menipu, dan korupsi, bukan dengan licik, dan dengan segala akal bulus tetapi menang dengan penuh kesucian, menang dengan kindiri fitrah, suci dalam pikiran, perbuatan dan tindakan,. Suci dalam bekerja dan suci dalam pendapatan. Suci dalam berhubungan dengan Allah dan bermuamalah dengan manusia. Inilah nilai dari Idul Fitri. Setelah kita menjadi pribadi yang suci, pribadi yang dapat menahan diri, pribadi pemenang; maka kita dituntut untuk menjadi pribadi yang siap berkorban, siap menghadapi segala tantangan. Pribadi yang sanggup berdiri tegak lurus , jujur dan istiqamah di tengah persaingan dan pertarungan. Inilah pribadi Idul Adha, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim dan keluarganya dalam proses ibadah haji.
Sebagai awal proses, jamaah haji harus memakai pakaian ihram, pakaian serba putih yang menutupi aurat, untuk menghadap kepada Allah. Ini mengingatkan kita agar dapat menjad pribadi Ihram dalam setiap kehidupan, pribadi yang selalu berpakaian yang bersih dan pakaian tersebut dapat menutup segala sifat-sifat yang tidak baik. “ Libaasuttaqwa “, pakaian taqwa -bukan baju cap taqwa- harus menjadi model pakaian ummat Islam. Sebagaimana pakaian, dia menjadi perhiasan juga menjadi standar penilaian atas seseorang. Pakaian dengan memakai dasi, menandakan dia seorang eksekutif dan lain sebagainya. Seorang muslim, harus dapat menjadipan pakaiannya ( penampilan lahiriah ) adalah penampilan yang suci. Penampilan tersebut hanya dapat diwujudkan jika dia mempunyai pribadi yang mulia, budi yang luhur dan akhlak ul karimah. Inilah makna pakaian Ihram; oleh karena itu setiap saat kita harus dalam suasana ihram, suasana yang suci dengan selalu ,menjaga dari dari hal-hal yang haram.
Kemudian setelah memakain pakaian ihram, barulah kita memulai tawaf. mengelilingi baitullah sebanyak tujuh kali dengan tetap berzikir, dan berdoa , bermunajat kepada Allah. Setelah Hari raya haji, ummat Islam diharapkan dapat menjadi pribadi tawaf, pribadi yang selalu iberzikir kepada Allah, pribadi yang selalu berdoa dan bermunajat, selalu mengharapkan bantuan , dan pengampunan dari-Nya. Dengan tawaf, berarti kita sangat dekat dengan rumah Allah, ini sebagai simbol agar kita dalam hidup selama dua pulu h empat jam , dalam bekerja mencari nafkah selama tujuh hari dalam seminggu selalu dekat kepada Allah, seperti dekatnya orang yang sedang tawaf dengan Baitullah, malah lebih dekat dari itu; karena dengan itulah kita akan mendapatkan ketenangan “ Alla bizikrillah tatmainnul qulub .....ketahuilah bahwasanya dengan zikir kepada Allah hati itu akan tenang “, demikian petunjuk dari kitab Al Quran.
Setelah hati ini dekat kepada Allah, maka kita diharapkan selalu memohon pertolongan, petunjuk kepada-Nya dalam menjalani setiap problematika kehidupan. Inilah hikmah mengapa setelah tawaf biasanya para jamaah haji melakukan doa munajat di depan multazam. Dan dalam berdoa, kita harus merasakan bahwa kita berada dekat dengan Allah, sebagaimana orang hai yang sedang berdoa di depan multazam. Untuk itu kita harus menjadi pribadi yang selalu ber “iltizam “” selalu teguh dengan pendirian, tetap dalam iman dan menjalankan seluruh ajaran syariat Islam. Kita tidak oleh menjadi Muslim plin-plan; atau muslim musiman. Seperti kalau musim ramadhan, kita jadi taat keluar ramadhan berubah lagi; kalau di masjid jadi taat; selagi di kantor korupsi lagi. Waktu di pengajian jadi taat, setelah sampai di pub melanggar lagi...Naudzubillah min dzalik.
Setelah berdoa di multazam, biasanya jamaah haji melaksanakan shalat di maqam Ibrahim; berarti sebagai muslim yang taat kita harus selalu mengerjakan shalat dan segala perintah Allah dalam Ibadah; bahkan harus dapat menjadikan segala aktivitas kita sebagai ibadah; dengan niat yang iklhas dan akhlak mulia. Setalah shalat jamaah haji minum air zamzam, ini sebagai isyarat sebagai muslim yang baik, kita diharapkan dapat memilih minuman dan makanan yang halal dan bergizi bagi tubuh kita, sebagaimana air zamzam yang suci, yang bersih dan berkah, bebas dari virus dan dosa serta mengandung mineral yang tinggi.
Dengan pakaian yang suci, dengan hati yang suci dan selalu berzikir serta dengan minuman yang suci; barulah seorang muslim menjadi pribadi yang suci, pribadi yang kuat dan tegar; serta menjadi pribadi yang selalu beribadah, bermunajat dan mengabdi kepada - Nya. Dengan pribadi yang sehat, kuat dan prima ini diharapkan kita dapat menjadi khalifah , pemimpin dan penguasa di muka bumi . Untuk itu kita diharapkan mempunyai etos dan semangat kerja yang tinggi. Pribadi yang mempunyai etos kerja tanpa mengenal lelah, dasn di saat bekerja tidak pernah lupa dengan petunjuk dan pertolongan dari yang Maha Kuasa inilah yang ditampilkan jamaah haji dalam menjalani ibadah Sa’i dari bukit Safa menuju bukit Marwa. Pribadi manusia pekerja adalah menjadi prasyarat utama untuk menjadi khalifah di muka bumi. Oleh karena itu islam sangat mencela sifat malas, sikap menganggur, dan sikap membuang-buang waktu dengan sia-sia seperti nonton sinetron di depan tivi berjam-jam, dan lain sebagainya. Rasulullah sendiri mengajarkan kita doa “ Allahumma inni a’udzubika minal kasal “, Ya Allah lindungi aku dari sifat malas.
Kalau Siti hajar sebagai seorang ewanita yang lemah dapat menundukkan dua bukit, berusaha tanpa mengenal lelah di tengah panas terik padang pasir; bagaimana dengan kita sekarang yang selalu bekerja di kantor yang memiliki AC, dan lain sebagainya...? Kalau Siti Hajar dapat mendidik anaknya Ismail menjadi anak yang shaleh, padahal mereka hidup tanpa fasilitas dan sarana pendidikan yang memadai; bagaimana dengan orangtua sekarang yang hidup dengan segala fasiliotas dan sarana modern tetapi dapatkah mereka mendidik anak mereka menjadi anak yang shaleh ..? Diantara tujuan kerja adalah agar kita mempunyai amal jariah dan keturunan yang shaleh. Sudahkah kerja kita selama ini menghasilkan amal jariah dan keturunan yang shaleh..? Inilah pribadi Sa’i.
Setelah menjadi pribadi Ihram, pribadi Thawaf, pribadi Multazam, Pribadi Zamzam, Pribadi Sai; maka kita sebagai muslim diharapkan dapat menjadi pribadi wukuf. Pribadi yang selalu dapat berdiri tegak, mengingat Allah, memohon ampunan kepada-Nya walaupun kita disibukkan oleh kegiatan bisnis atau kegiatan mencari mata pencaharian. Sesibuk apapun kita janganlah lupa untuk beribadah kepada-Nya. Sehebat apapun tantangan yang dihadapi dan godaan yang datang menyerang kita harus dapat tegak dan istiqamah. Sesibuk apapun kegiatanyang dilakukan, kita harus dapat juga menjadi pribadi Arafah, pribadi yang selalu berkomunikasi dengan orang lain, prribadi sosial dan penuh ukhuwah, pribadi yang selallu menebarkan salam dan senyum. Inilah pribadi wuquf dan Arafah, pribadi seorang pemimpin yang selalu “ wuquf “, selalu dekat kepada Allah dan pribadi “ arafah “ pemimpin yang mengenal secara dekat para pegawai bawahan dan masyarakat di sekitarnya. Inilah pribadi muslim.
Setelah menjadi pribadi wuquf dan Arafah;ita jangan lupa bahwa dalam menghadapi kehidupan ini kita pasti selalu mendapat tantangan dan hambatan, terutama godaan dari kanan dan kiri. Untuk itu kita harus selalu mawas dan membekali diri dengan senjata yang dapat mengalahkan segala musuh tersebut. Pribadi yang selalu mempersiapkan diri dengan senjata yang dapat melawan ini disimbolkan oleh Pribadi Muzdalifah, pribadi yang mengambil batu untuk melempar jumrah di Mina. Pribadi yang mempunyai bekal idalam menghadapi segala serangan inilah harus menjadi pribadi dan identitas setiap muslim; kalau tidak kita pasti mudah terpedaya oleh godaan dunia dan rayuan syetan. Dan senjata yang paling utama adalah senjata iman; disamping senjata -senjata lahiriah seperti skil dan lain sebagainya.
Setelah menjadi pribadi Muzdalifah, seorang muslim diharapkan dapat menjadi pribadi Mina, Pribadi yang siap melawan rasa ego, pribadi yang siap melawan hawa nafsu dan melawan setiap godaan syetan. Godaan tersebut datang berulang-kali; maka setiap muslim harus tetap waspada dan jangan bosan untuk melawan setiap godaan. Inilah yang ditampilkan oleh melempar jumrah berkali-kali. Bayangkan bagaimana Syetan menggoda Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, dan Siti Hawa untuk menggagalkan rencana menyembelih qurban; tapi semuanya tidak berhasil. Maka kita juga harus hati-hati, karena kadang-kadang godaan datang dari bapak, atau dari istri dan bisa jadi juga dari anak-anak di rumah. Inilah pribadi Mina; pribadi tahan terhadap setiap godaan hawa nafsu. Dan akhuirnya kita diharapkan menjadi pribadi yang siap berqurban dalam menghadapi setiap perjuangan . Inilah Pribadi Qurban. Dengan Idul Adha diharapkan kita siap mendai pribadi Idul Adha, yaitu pribadi ihram, pribadi tawaf, pribadi multazam, pribadi zamzam, pribadi sa’i, pribadi wuquf, pribadi arafah, pribadi muzdalifah, pribadi mina dan pribadi qurban. Inilah pribadi Muslim...Inilah diantara hikmah dan manfaat Idul Adha, Allaahu Akbar walillahilhamd.
MAKNA HAJI YANG MABRUR
“ Haji yang Mabrur tidak ada balasan kecuali Surga “
( Hadis Nabi Muhammad saw / Muttafaq alaihi)
Di saat-saat sekarang ini, masyarakat kita disibukkan dengan penyambutan jamaah haji yang pulang dari tanah suci. Apalagi jadwal penerbangan yang tidak mengenal waktu, kadang-kadang pagi bisa juga tengah malam, sehingga sanak keluarga kadang-kadang sibuk tidak menentu. Demikian juga jamaah haji kita disana, sibuk memikirkan kapan jadwal pemberangkatan dari setiap kloter, malah ada yang berusaha memohon segala dispensasi agar dapat berangkat pulang lebih dahulu. Mereka juga disibukkan oleh pengepakan barang-barang dan pengiriman tas dan koper yang melebihi batas melalui kargo dan lain sebagainya. Mereka juga sibuk membeli ini dan itu, hanya untuk memberikan kenang-kenangan kepada keluarga di tanah air. Inilah biasanya yang terlihat keadaan ummat Islam kita baik yang akan pulang dari tanah suci maupun yang sedang menunggu di tanah air. Setelah sampai di tanah air, si jamaahpun sibuk menerima tamu, dan masyarakat yang datang ingin mengucapkan selamat; dan si jamaah juga mulai sibuk membagi-bagikan hadiah dan oleh-oleh seperti air zamzam, buah kurma, tasbih, sajadah, batu cincin , serban, topi haji, dan lain sebagainya. Tak ketinggalan dengan cerita - cerita selama perjalanan, baik cerita yang lucu , cerita pengalaman sedih, cerita suasana, sampai pada cerita bagaimana harga barang-barang di pasar sekeliling masjid seperti pasar seng dan lain sebagainya. Biasanya, jamaah haji yang baru pulang inipun, kemana pergi tak lupa memakai topi haji atau serban dan tasbih sebagai identitas baru pulang dari Tanah suci. Alhamdulillah, kita bersyukur, jamaah haji telah menunjukkan perubahan dalam penampilan; tetapi kita berharap agar perubahan tersebut bukan hanya dalam penampilan saja tetapi juga dari sikap , kepribadian dan gaya hidup. Kita mengharapkan mereka menjadi haji yang mabrur dan hajjah yang mabruurah. Haji yang mabrur inilah oleh-oleh yang utama yang kita dambakan. Ini lebih utama dari serban, topi haji, air zam zam dan kurma.
Mabrur berasal dari kata kata-ka birr yang berarti berbuat kebaikan, kebajikan dan berbakti. Kita sering mendengar kata-kata Birrul Walidaini yang berarti berbuat baik dan berbakti kepada kedua orangtua. Kata-kata Mabrur dalam tatabahasa Arab berarti orang yang melakukan birr, yang melakukan kebaikan dan kebajikan. Oleh karena itu haji yang mabruur adalah seorang haji yang dapat menghayati makna-makna iyang tersirat dalam ibadah haji dalam sikap dan tindak tanduk sehari-hari di tengah kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat. Oleh karena itu Haji yang Mabrur merupakan sikap hidup, kepribadian, dan akhlaq yang dapat menjadi uswah hasanah, contoh teladan bagi masyarakat. Rasul bersabda : Haji yang mabrur tiada balasannya kecuali surga. Sahabat kemudian bertanya kepada Rasul : Apakah yang dimaksud dengan haji mabrur tersebut. Rasul menjawab : Ucapan yang baik dan Memberi makan. Dari hadis di atas dapat disimpulkan bahwa haji mabrur adalah sikap berbuat baik dan kebajikan kepada masyarakat. Maka haji mabrur adalah pribadi yang teladan, pribadi yang dapat menjadi rahmat , pribadi yang dalam sikap hidupnya dapat memberikan kehidupan surgawi baik kepada keluarga, kepada tetangga, kepada masyarakat. Dalam hadis lain disebutkan bahwa mereka yang baru pulang dari melaksanakan haji, bagaikan bayi yang baru lahir tanpa noda dan dosa. Berarti haji yang mabrur setelah pulang akan menampilkan kepribadian yang bersih dari cela dan noda. Kehadiran merera diharapkan laksana sabun pembersih yang dapat membersihkan segala kekotoran, kemungkaran, dan kemaksiatan di tengah masyarakat. Mengapa demikian..? Karena mereka telah menyaksikan dan mengadakan nipak tilas bagaimana perjuangan Rasulullah dan Rasul-rasul yang lain melakukan dakwah untuk amar makruf dan nahi munkar.
Jika dalam ibadah haji, ada ibadah thawaf , dimana kita selalu mendekatkan diri kepada Allah, bermunajat dan berdoa langsung kepada-Nya tanpa ada perantara, maka haji yang mabrur dalam kehidupan sehari-hari harus dapat menjadi dapat menjadi contoh bagi masyarakat dalam melaksanakan ajaran agama Islam, dalam beribadah , bertasbih, berzikir, dan berdoa tanpa sedikitpun ada unsur kemusyrikan. Haji yang mabrur harus dapat menjadi jamaah yang aktif di masjid, sebagaimana dia aktif beribadah di masjidil haram. Kalau selama musim haji dia disunatkan untuk melaksanakan jamaah arbain di masjid Nabawi; ini sebagai pendidikan dan latihan agar setelah pulang ke tanah air dia selalu melakukan shalat dengan jamaah di masjid, atau di surau ; paling tidak berjamaah dengan keluarga di rumah. Haji yang mabrur berarti pribadi yang selalu berniat suci dalam melakukan segala pekerjaan dan lebih mendahulukan urusan akhirat daripada urusan dunia. Lebih mengutamakan panggilan Allah daripada panggilan naha nafsu. Haji yang mabrur adalah pribadi yang bertauhid, pribadi yang selalu bermunajat kepada-Nya setiap saat bukan melalui segala bentuk perbuatan yang musyrik seperti percaya kepada jimat, kepada kekuatan magis, kepada dukun dan lain sebagainya. Pribadi haji yang mabrur adalah pribadi yang dapat menjadi contoh bagi masyarakat dalam melaksanakan ajaran agama, dalam beribadah, dalam shalat berjamaah, dalam memakmurkan masjid dengan berzikir, bertasbih, membaca alquran , menghadiri oengajian dan lain sebagainya. Oleh-oleh haji seperti inilah yang selalu diharapkan oleh masyarakat. Bayangkan jika seandainya para jamaah haji dapat menjadi pioneer, pelopor dan penggerak shalat jamaah saja baik di tengah masyarakat maupun di kantor-kantor dan di tengah pusat perbelanjaan; insya Allah suasana syiar Islam akan lebih indah. Setiap terdengar suara azan berkumandang, mereka segera berangkat menuju masjid dan mushalla serta mengajak kawan-kawannya yang lain untuk bersama-sama melakukan shalat jamaah. Kalau sebelum berangkat biasanya kawan-kawan kita sibuk melaksanakan acara tepungtawar haji; maka wajar jika setelah pulang haji, kita sebagai hamba yang mendapat kehormatan berangkat haji juga sibuk mengajak kawan-kawan kita untuk mendapatkan pahala dan maghfirah dari Allah subhana wataala, minimal dengan mengajak mereka untuk melakukan ibadah shalat.
Sewaktu di tanah Suci kita diberi Allah kesempatan untuk menyaksikan tempat-tempat bersejarah para rasul. Kita menyaksikan maqam Ibrahim, tempat berpijak Nabi Ibrahim sewaktu mendirikan Kabah. Kita menyaksikan Safa dan Marwa saksi dari perjuangan Siti Hajar dalam mendidik Ismail menjadi seorang anak yang shaleh. Kita menyaksikan Jabal Rahmah di Arafah sebagai bukti perjuangan nabi Adam dan Siti Hawa dalam membina masyarakat dunia yang penuh rasa persaudaraan. Kita menyaksikan Mina tempat dimana Nabi Ibrahim menjalankan perintah Allah untuk mengorbankan anaknya Ismail. Kemudian kita menyaksikan Gua Hira, dimana Nabi Muhammad menerima wahyu pertama kali. Kita menyaksikan kota Madinah, kota yang dibangun oleh rasulullah menjadi kota masyarakat Islam. Kita menyaksikan Jabal Uhud tempat perjuangan para sahabat dalam menegakkan kebenaran melawan kekafiran dan kebatilan. Kita menyaksikan Lembah khandaq tempat dimana rasul melakukan taktik dan strategi dan manajemen perang yang paling hebat. Terakhir kita menziarahi maqam rasulullah saw dan masjid nabawi, masjid yang dibina oleh Rasulullah saw. Setelah kita menyaksikan semuanya itu; tergerakkah hati kita untuk mengikuti perjuangan dan pengorbanan beliau para Nabi dan para sahabat tersebut.
Jika kita dapat menceritakan kepada anak-anak kita di rumah; kepada tetamu dan tetangga serta kawan-kawan kita bagaimana perjuangan para nabi dan para sahabat dalam memperjuangkan Islam, dam berjihad fi sabilillah; sehingga semuanya berusaha untuk mengikuti sepak terjang para anbiya, para syuhada dan shalihin tersebut inilah baru oleh-oleh dari tanah suci. Jika kita yang baru pulang dari tanah suci dapat mencontoh sedikit saja pengorbanan dan perjuangan para anbiya dan syuhada tersebut inilah baru haji mabrur. Kalau para anbiya dan para sahabat dengan darah, harta, dan jiwa mereka telah berkorban demi menegakkan agama Islam; apakah yang sudah kita perbuat, berapa banyak harta kita yang telah kita sumabngkan, berapa banyak waktu dan kesempatan yang telah kita korbankan demi memperjuangkan agama Islam, demi membantu ummat Islam. Jika Rasulullah saw sebelum ajal menjemput, beliau masih menyebutkan : Ummatii, Ummatii; Umatku, ummatku. Beliau masih memikirkan keadaan ummat Islam setelah kepergian beliau. Sekarang, masihkan ada dalam hidup kita setiap hari waktu dan kesempatan untuk memikirkan ummat Islam, untuk membantu perjuangan Islam. Sudah berapa persenkah dari harta kekayaan kita yang telah kita sumbangkan untuk perjuangan Islam. Ataukah selama ini kita terlalu mementingkan diri kita masing-masing, kita bersikap egois. Yang kita pikirkan hanyalah hartaku, jabatanku, kedudukanku, posisiku, kursiku, tanpa pernah memikirkan nasib ummat islam yang sekian banyak sedang terlantar.
Kalau Nabi Ibrahim dan Siti Hajar tanpa fasilitas dan sarana yang canggih telah dapat mendidik anaknya menjadi anak yang shaleh; dapatkan kita dengan segala bentuk fasilitas seperti rumah, kenderaan, tivi, telepon, video dan lain sebagainya memdidik anak-anak kita menjadi anak yang beriman; membentuk keluarga kita menjadi keluarga yang beriman, membentuk masyarakat kita menjadi masyarakat yang beriman. Kalau Rasulullah saw telah dapat membangun masyarakat madinah ; sebagai haji yang mabrur apakah yang dapat kita bangun bagi membina keimanan masyarakat kita. Rasulullah telah memberikan gambaran kepada kita tentang cara kerja yang rapi dengan stategi dan manajemen yang tepat, bagaimanakah cara kerja kita selama ini di dalam masyarakat. Jika seorang yang baru pulang haji dapat mencontoh dan menjadi pelopor dalam bekerja dan beramal, dalam manajemen dan berorganisasi, dalam berjuang dan berkorban demi menegakkan ajaran agama Islam seperti membantu madrasah, pesantren, masjid, surau, anak yatim, faqir miskin, janda-janda; dan membantu segala bentuk perjuangan dakwah Islam; inilah oleh-oleh dari tanah suci yang lebih utama daripada serban dan korma. Selamat datang jamaah haji , semoga menjadi haji yang mabrur. Tugas ummat menanti di hadapan kita . Fastabiqul khairaat. *********
RENUNGAN DI AKHIR TAHUN
“ Kamu adalah ummat terbaik yang dimunculkan ditengah manusia,
yang selalu menyuruh manusia berbuat makruf dan mencegah mereka
dari kemungkaran serta beriman kepada Allah “ ( QS. Ali Imran : 110 )
Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa : “Tidak ada satu haripun jika matahari telah terbit di ufuq timur kecuali disana bergema suatu seruan : Hai anak cucu Adam, aku ini ( yaitu hari ) adalah makhluk yang baru…dan amal pekerjaanmu semua akan menjadi saksi..oleh karena itu rebutlah aku ( pergunakan hari ini sebaik-baiknya ) karena aku tidak akan kembali sampai hari kiamat”. Dari hadis tersebut diatas, dapat kita simpulkan bahwa setiap muslim harus dapat mempergunakan setiap detik, setiap menit, setiap jam, setiap hari yang dilaluinya. Mengapa demikian, karena waktu itu diciptakan agar manusia dapat mempergunakannya sebaik mungkin. Mempergunakan waktu sebaik mungkin adalah tugas dan kewajiban utama setiap hamba. Begitu mahalnya harga waktu sehingga dalam Al Quran disebutkan : Demi waktu, sesungguhnya manusia itu semuanya akan ditimpa kerugian, kecuali mereka yang dapat mempergunakan waktu mereka sebaik-baiknya dengan cara beriman kepada Allah, beramal shaleh, saling memberi nasehat dalam kebaikan dan dalam kesabaran. Sudahkan setiap detik dan menit yang kita lalui setiap hari penuh dengan iman dan amal shaleh…? Mari kita adakan cheklist atas waktu kita selama duapuluh empat jam sehari semalam..Berapa banyak yang kita pakai untuk beramal, beribadah, berbuat positip…? Ataukah selama ini waktu kita lebih banyak terbuang percuma tanpa nilai apalagi pahala..? Berapa banyak waktu kita hilang untuk nonton tivi, ngobrol sana dan sini, nongkrong di warung kopi, berjalan-jalan di plaza, diskotik, mall, dan lain sebagainya.
Tanpa sadar kita selama ini telah dijajah oleh penjajahan waktu, artinya waktu kita lebih banyak terbuang percuma daripada bernilai positip dan menjadi amal shaleh. Inilah kerugian ummat Islam terbesar di dalam kehidupan modern sekarang. Hebatnya lagi gejala ini bukan hanya menyerang sekelompok ummat tapi telah menjadi budaya masyarakat tua dan muda, besar dan kecil. Kaum bapak membuang waktunya dengan ngobrol di warung kopi, di kantin kantor, atau disela-sela bekerja yang kadang-kadang kalau dihitung antara waktu bekerja dan waktu ngobrol lebih banyak waktu ngobrol. Kaum ibu menghabiskan waktu berjam-jam di depan ltivi nonton sinetron, atau mengobrol dengan tetangga dan kawan. Para gadis sibuk dengan jalan-jalan di plaza, ngrumpi kesana dan kemari, mejeng di sana dan sini. Remaja dan pemuda disibukkan dengan merokok, minum bir, main video game, main judi, dan lain sebagainya. Anak-anakpun disibukkan dengan bermain kartu dan permainan lain yang tidak bersifat mendidik. Para pemimpin masyarakat disibukkan dengan mencari kedudukan dan kursi, bukan mengurus ummat. Pemimpin ummat dan agama disibukkan dengan perselisihan pendapat dan masalah khilafiyah. Kalau sudah demikian, kapan lagi kita akan bekerja secara produktif, kapan lagi ibu-ibu akan menjadi ibu yang shalihah bagi anak-anaknya, kapan lagi waktu generasi muda untuk belajar dan membaca, dan kapan lagi para pemimpin duduk bersama membicarakan permasalahan ummat dan bekerjasama membangun ummat dengan manajemen dan organisasi yang rapi…?
Akibatnya, kita menjadi masyarakat pemalas padahal Rasul setiap hari berdoa : “Allaahumma inni auudzubika minal kasal, Ya Allah aku berlindung kepadaMu daripada sifat malas “. Kita menjadi masyarakat konsumtif, dan senang berfoya-foya (mubazir ), padahal mubabzir itu adalah kawannya syetan. Kita dilanda krisis moral dan akhlaq padahal rasul diutus untuk menyempurnakan akhlak…dan akhirnya kita menjadi ummat yang mudah digoyang oleh kondisi, ummat yang tidak punya jati diri, ummat yang tidak memiliki kekuatan; baik kekuatan jasmani, kekuatan intelektual, kekuatan ekonomi, kekuatan budaya dan lain sebagainya.
Lihatlah hari ini ummat Islam telah menjadi ummat yang kehilangan jati diri. Namanya memang masih berlabel Islam seperti Ahmad, Fatimah dan lain sebagainya; tapi pribadinya tidak mencerminkan nilai-nilai iIslam. Ibadahnya kalau teringat saja; akhlaknya lebih rusak daripada non muslim; muamalah ( hubungan sosialnya ) kalah dengan ummat lain; dalam ekonomi kita menjadi pangsa pasar yang mudah digoyang; harga mereka yang menentukan kita tinggal mengeluh dan sabar; kita belum menjadi penentu kebijakan ekonomi; padahal Nabi Muhammad adalah pedagang yang paling hebat; tapi sayang ummatnya sekarang hanya menjadi pembeli yang paling rakus.
Dalam budaya, kita telah kehilangan identitas. Lihat saja dari seni, acara tivi, film, musik, pakaian, gaya hidup semuanya telah berubah , bergeser dari nilai-nilai Islam, dan mengikuti budaya barat. Kita dijajah bukan dalam politik; tapi dijajah dalam budaya, dalam ekonomi, dalam cara berpikir, dalam kehidupan sehari-hari. Padahal kita ummat yang memiliki identitas, memiliki karakteristik dalam segala bidang dan mempunyai rujukan yaitu Rasulullah beserta para sahabat. Kita memiliki segala potensi, kita memiliki khazanah intelektual para ulama dalam berbagai bidang; , kita memiliki sumber alam yang banyak, kita merupakan ummat yang terbesar. Tapi mengapa kita tidak dapat mempergunakan segala potensi yang telah diberikan oleh Allah tersebut..? Mengapa kita menjadi “ Fii Khusriin “, masyarakat yang terus dalam kerugian sebagaimana yang disinyalir dalam surat Al Ashr. ..?
Mungkin selama ini kita telah lupa..bahwa kita mempunyai suatu tugas dan tanggung jawab untuk menjadi “ Khairu Ummah “, ummat yang harus dapat tampil sebagai teladan dalam segala bidang. Teladan dalam ekonomi sebagai pelaku produser bukan konsumer. Teladan dalam politik sebagai pengambil dan penentu segala kebijaksanaan bermasyarakat. Teladan dalam kerja dengan etos kerja yang tinggi. Teladan dalam masyarakat dalam bermuamalah dan berkomunikasi. Teladan dalam manajemen dan berorganisasi. Teladan dalam budaya sebagai masyarakat yang menjadi rahmat bagi sekalian alam. …Ini semua dengan satu cara yaitu dapat mempergunakan waktu dengan sebaik mungkin, dengan iman dan amal shaleh.
Kalau ummat Islam tidak dapat mempergunakan nikmat waktu , tidak dapat mensyukuri nikmat waktu dengan sebaik mungkin, maka inilah akibatnya; kita menjadi ummat yang tidak berharga. Kita juga harus waspada dengan strategi musuh yang selalu mencari celah dan titik kelemahan kita, selalu membuat kita bertengkar, membuat kita sibuk dengan pekerjaan rumah, padahal masalah yang lebih utama, masalah akidah, masalah ekonomi, masalah akhlak, masalah pendidikan, masalah rumah tangga, masalah identitas dan budaya masih lebih banyak; tetapi sayangnya itu semua kurang menjadi perhatian kita.
Sudah saatnya di akhir tahun 1418 hijriah ini kita melakukan intropeksi diri, semoga di tahun mendatang ummat Islam dapat merencanakan langkah-langkah dan program yang lebih konkrit dengan serius. Semoga setiap keluarga mempunyai rencana dan program untuk membina keluarga sakinah , mawaddah dan rahmah. Semoga setiap organisasi massa , pengajian dan lain sebagainya dapat bekerjasama membangun ummat dan berbagi bidang. Ada yang menekuni pendidikan, ada ekonomi, ada budaya dan lain sebagainya. Semuanya harus lebih serius bukan sekedar formalitas ataupun sekedar show dengan jumlah jamaah yang banyak. Biasanya dalam menyongsong tahun baru hijrah, banyak dilakukan tabligh akbar disana sini. Kita berharap agar tabligh akbar tersebut mempunyai tema yang jelas, sasaran yang jelas, sehingga moment hijrah tersebut benar-benar dapat memberikan kesadaran kepada seluruh ummat untuk segera bangkit, segera menata diri demi menghadapi tantangan yang bertambah hebat dimasa mendatang.
Mari kita optimalkan fungsi masjid, sehingga dapat menjadi tempat pembinaan ummat, bukan hanya tempat shalat semata. Kuatkan akidah dan ukhuwah antar kita, jalin kerjasama antar organisasi dan lembaga,hilangkan fanatisme kelompok dan firqah. Tingkatkan semangat zakat, waqaf, infaq dan sedekah di tengah ummat. Tingkatkan ibadah sosial di tengah masyarakat. Bina dan didik serta tuntun generasi muda dengan iman dan ilmu sehingga dapat menjadi generasi teladan di masa mendatang. Orangtua dan pemimpin harus dapat menjadi contoh dan panutan.
Mari kita bersama-sama berusaha untuk berdakwah, mencegah kemungkaran -paling tidak diri- bermula dari pribadi , dan keluarga kita masing-masing. Bersihkan niat kita dalam segala hal. Jadikanlah tujuan kita dalam berusaha dan beramal hanya mencari ridha-Nya. Karena niat dan amal menjadi ukuran penilaian disisi Allah. Mari kita serius dalam segala hal, serius dalam bekerja, serius dalam mengurus keluarga, serius dalam berorganisasi, serius dalam berjamaah, dalam berdakwah dan lain sebagainya. Tinggalkan formalitas dan lips service. Tingkatkan etos kerja dan kualitas. Kita dituntut untuk berbuat, bekerja, beramal. Tinggalkan gaya hidup santai, sikap malas, dan sikap membuang-buang waktu. Ingatlah waktu adalah nikmat dan amanat dari Allah yang harus kita pertanggungjawabkan walaupun satu menit di depan pengadilan Allah . “Time is duty and responsibility “.
Mungkin kita telah lupa untuk menjadikan Islam sebagai cara hidup kita, karena ajaran Islam hanya kita laksanakan sepotong-potong atau bersifat temporal saja seperti kalau masuk masjid atau dikala bulan ramadhan , waktu khitan , nikah dan pemakaman. Kita telah lupa untuk menjadikan iman dan tauhid serta ikhlas sebagai motivasi kita dalam bersikap. Jika kita melupakan Allah, maka Allah akan melupakan kita terhadap diri kita, kita lupa akan terhadap identitas kita , terhadap jati diri kita : “ Janganlah kamu menjadi seperti mereka yang lupa kepada Allah maka Allah melupakan mereka dari diri mereka sendiri “ ( QS. Al hasyr : 9 ) .
Sayyidina Umar bin Khattab berkata : “ Sebelum Islam, kami adalah bangsa yang hina; maka Allah memuliakan kami dengan Islam. Maka jika kami masih mencari kemuliaan dengan cara yang tidak islami, maka kami akan dihinakan Allah kembali “. Selamat Tahun Baru Hijrah, Semoga Allah mengampuni segala kesalahan kita dimasa yang lalu, dan memberi kita kekuatan, kesuksesan dan kemenangan di masa mendatang..Taqabbalahhu Minna wa minkum, fii kulli Amin wa antum bii khairin….Ya Allah jadikanlah tahun mendatang , tahun yang penuh keberkatan, dan berilah kami petunjuk_dan kekuatan agar kami dapat menjadi “ Khairu Ummah “ sebagaimana yang telah Engkau tetapkan dalam Kitab-Mu. Amin…Ya Rabbal Alamin. ( ABU RAYYAN ).
HIJRAH NIAT DAN MOTIVASI
“ Sesungguhnya setiap pekerjaan itu akan dinilai
sesuai dengan niat yang melakukannya “
( Hadis Muttafaq alaihi )
Secara harfiyah, hijrah berasal dari kata-kata “ ha-ja-ra ” yang berarti berpindah dari suatu tempat ke tempat yang lain atau dari suatu keadaan kepada keadaan yang lebih baik. Secara historis hijrah bagi ummat Islam adalah peristiwa yang sangat mulia dimana nabi Muhammad saw berpindah dari kota kelahirannya Makkah al Mukarramah ke sebuah kota yang bernama Yatsrib yang terjadi pada tanggal 24 September 622 . Dalam sejarah ummat manusia kita dapat melihat bahwa hijrah merupakan untaian sejarah dimana Nabi Adam berhijrah dari Surga ke atas permukaan bumi untuk mengemban amanat khalifah fil ardh. Nabi Nuh berhijrah dengan kapal yang menyelamatkan beliau dan pengikutnya dari bencana banjir. Nabi Ibrahim berhijrah dari negeri Babilonia ke negeri Mesir dan negeri Palestina. Nabi Ismail hijrah dari negeri Palestina ke kota Makkah. Nabi Musa hijrah dari Mesir ke negeri Palestina. Nabi Yusuf hijrah dari Palestina ke negeri Mesir.
Dalam al Quran kita dapati sekian banyak kata-kata hijrah . “ Bangunlah orang yang berselimut, lalu berilah peringatan dan agungkanlah Tuhanmu, bersihkanlah pakaianmu dan tinggalkan segala perbuatan dosa “ ( QS.Al Muddasir : 1-5). Dari ayat ini dapat kita simpilkan bahwa hijrah berarti meninggalkan perbuatan dosa. Di ayat yang lain “ Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ( orang kafir ) ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik “ ( Qs.AlMuzammil: 10 ) . Dari ayat ini hijrah berarti kita harus menjauhi kawan dan lingkungan yang tidak baik dan mencari lingkungan yang lebih baik dengan cara yang baik dan bijaksana. Dalam surat Al Ankabut, Nabi Ibrahim berkata : “Sesungguhnya aku akan berpindah ke tempat yang diperintahkan Tuhanku “(QS.Ankabut : 26 ).
Dari ayat ini jelas bahwa hijrah adalah suatu usaha untuk melakukan sesuatu yang diperintahkan oleh Tuhan. Dalam ayat yang lain disebutkan : “ Mereka (orang kafir ) ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, dan kamu akan sama dengan mereka. Maka janganlah kamu menjadikan mereka sebagai penolongmu hingga mereka berhijrah pada jalan Allah “ ( QS. Annisa : 89 ). Dari ayat ini jelas disebutkan orang kafir akan selalu berusaha menjadikan ummat Islam agar mempunyai sikap hidup, tradisi, budaya, cara berpikir, cara bekerja, cara berdagang, cara berpakaian, cara hidup yang sama dengan cara dan pola mereka.
Lihat saja pada saat sekarang ini, bagaimana negara barat berusaha agar seluruh negara ummat Islam tunduk di bawah kekuasaan dan kebijaksanaan mereka. Mereka menginginkan agar cara berpikir ummat Islam sama dengan cara berpikir mereka. Mereka disibukkan dengan hidup keduniaan dengan gaya hidup materialis ( hanya mementingkan materi ) , gaya hidup hedonis ( berbuat sesuai dengan hawa nafsu ) dan tidak pernah memikirkan bahwa di akhirat nanti masih ada kehidupan yang lebih abadi. Hidup mereka dalam sehari-hari terpisah dari nilai - nilai agama ( hidup sekular ) dan bagi mereka agama hanyalah urusan individu belaka. Mereka berekonomi dengan gaya kapitalis yang penuh dengan unsur riba, dan tanpa memperdulikan nilai-nilai moral dalam berdagang. Yang kaya terus kaya dan yang miskin biarkan miskin; tidak ada perhatian si kaya kepada si miskin. Harta adalah milik mutlak pribadi dan tidak unsur sosial apalagi unsur ibadah di dalamnya. Nilai-nilai akhlak dan moral tidak menjadi dasar dalam bertindak, tetapi yang menjadi dasar adalah nilai keuntungan dan manfaat.
Dalam bekerja yang menjadi tujuan utama adalah uang, karier, populeritas. Mencari ilmu juga dengan tujuan sekular, agar nanti dapat kerja, kedudukan, titel dan lain sebagainya. Hubungan keluarga, antara anak dan bapak hanya hubungan darah dan hukum kekeluargaan tidak ada nilai-nilai spiritual , sehingga boleh jadi seorang anak tidak akan peduli dengan kematian orangtuanya, dan seorang bapak tidak peduli dengan kemaksiatan yang dilakukan oleh anak-anaknya. Dalam perpakaian mereka tidak memperdulikan masalah aurat, atau malu.. Busana bagi mereka hanyalah hiasan bukan penutup aurat. Dalam makanan mereka memakan apa saja yang penting enak dan bermanfaat tanpa memikirkan apakah ini halal atau haram. Dalam bermasyarakat mereka menjadi insan individualis, sehingga boleh jadi seorang kaya tidak lagi mengenal siapa nama dan bagaimana keadaan tetangga disamping rumahnya. Yang dia kenal hanyalah teman bisnis atau orang-orang tertentu yang dapat menunjang karier dan bisnisnya. Tetangga sebelah rumahnyapun tidak dapat datang bersilaturrahmi ke rumahnya karena disana ada anjing galak atau satpam dengan penampilan yang seram. Ini adalah beberapa bentuk sikap hidup orang kafir yang tanpa sadar telah banyak mempengaruhi sikap hidup ummat Islam.
..Tanpa sadar kita telah sama dengan mereka, walaupun agama dan aqidah kita berlainan. Kita harus waspada karena mereka akan terus berusaha menjadikan gaya hidup kita sama dengan gaya hidup mereka, inilah yang mereka sebut globalisasi . Maka Allah menyuruh kita untuk hijrah..hijrah…dan hijrah. Hijrah bukan berarti pindah tempat, tetapi hijrah dalam arti kita mempunyai niat, motivasi, sikap , penampilan, gaya hidup, cara berpikir yang tidak sama dengan mereka. Mengapa…? Karena mereka tidak beriman kepada Tuhan, apalagi kepada nabi Muhammad sedangkan kita manusia yang beriman kepada Allah dan Rasulullah; maka gaya hidup dan cara berpikir kita harus sesuai dengan petunjuk kehidupan yang telah Allah berikan dan dipraktekkan oleh Rasulullah saw… Kita mempunyai Kitab Suci Al Quran, kita mempunyai Hadis dan Sunnah, maka hidup kita harus sesuai dengan kedua pedoman tersebut; bukan sesuai dengan kehidupan dan gaya mereka yang kafir. Hidup di atas “ Shiraatal Mustaqim “ hidup berdasarkan petunjuk Ilahi, bukan mengikut cara hidup orang kafir yang sudah jelas mendapat predikat “ Maghduub alaihim “ dan cara hidup mereka yang “ Dhaaallin “.
Inilah makna hijrah . Hijrah dari kondisi yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam kepada “ Shiraatal Mustaqim “ cara dan pola hidup yang lurus dengan niat hanya mencari keridhaan Ilahi. Hijrah berarti juga usaha untuk mengembangkan potensi diri agar diri lebih baik sehingga dapat mengemban amanat khalifah di muka bumi. Hijrah dalam karier berarti berusaha untuk meningkatkan karier . Hijrah dalam ilmu juga berarti berusaha untuk mencari ilmu yang lebih banyak. Hijrah dalam harta berarti berusaha mencari kekayaan yang lebih banyak. Tetapi itu semua harus dilakukan dengan motivasi yang suci, yaitu motivasi dan niat untuk mencari keridhaan Ilahi. Niat untuk dapat mengemban khalifah dan untuk beribadah kepada-Nya. Peranan dan kedudukan niat dalammengadakan suatu perubahan sikap dan pengembangan diri inilah yang sangat penting dalam pandangan Ilahi. Oleh karena itu mengapa rasulullah sejak awal sudah memperingati kita dengan sebuah hadis tentang niat berhijrah. Mengapa ini penting..? Karena banyak orang melakukan perubahan sikap , meningkatkan karier ( agar kedudukannya lebih baik ), mencari kekayaan ( agar hartanya lebih banyak ) atau mencari dan menambah ilmu bukan dengan niat “ untuk Allah dan rasul-Nya” tetapi dengan niat untuk memuaskan hawa nafsu atau untuk kesenangan dunia. Inilah yang dijelaskan Nabi dalam hadis beliau.“ Sesungguhnya setiap pekerjaan itu akan dinilai sesuai dengan niat dan motivasi dalam melakukannya. Oleh karena itu setiap orang akan mendapat balasan ataupun hasil sesuai dengan niat dan motivasinya tersebut. Maka barangsiapa yang berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya akan sampai kepada Allah dan rasul-Nya. Dan barangsiapa yang melakukan hijrah karena mencari dunia atau mencari wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya akan sesuai dengan niat dan motivasi tersebut ( mendapat dunia atau wanita ) “.
Menurut Ibnu Daqiq, hadis ini terjadi disebabkan ada seorang sahabat yang berhijrah ke Madinah disebabkan oleh wanita yang bernama Ummu Qais…Dari hadis ini dapat disimpulkan bahwa niat dan motivasi berbuat adalah ukuran dari segalanya. Niat dan motivasi tersebut biasanya berdasarkan pada tiga hal . Pertama hidup dan berbuat sesuatu dengan niat dan tujuan mencari kepuasaan keduniaan seperti mencari populeritas, mencari kedudukan, mencari kekayaan, dan lain sebagainya. Inilah sikap seorang materialis. Kedua, ada lagi manusia berbuat bukan mencari populeritas, kedudukan atau pangkat tetapi mencari kepuasan hawa nafsu, seperti untuk bersenang-senang , berfoya-foya, dan lain sebagainya. Inilah yang dinamakan hidup hedonis, yaitu hidup hanya untuk mencari kesenangan dan kepuasan belaka. Yang ketiga adalah hidup dan bekerja dengan niat mencari keridhaan Allah dengan cara menjalani petunjuk-Nya dan mengikuti cara hidup yang telah dicontohkan oleh rasul-Nya Muhammad saw. Inilah cara hidup seorang muslim.
Dari keterangan di atas, mari kita teliti cara hidup kita selama ini. Sudahkah kita hidup, bekerja, berkeluarga, mendidik anak, memberi makan anak, berdagang, berkarya, berkarier, belajar, mencari ilmu, menjadi guru, mengajarkan ilmu, menjadi ustadz, menjadi da’I, menjadi direktur, menjadi ayah, menjadi ibu, menjadi isteri, menjadi pemimpin, pemjadi pengurus, menjalankan ibadah shalat, menunaikan zakat, menunaikan rukun haji, mendatangi majlis pengajian, menjadi dosen, menikah, berpakaian, berpenampilan, benar-benar dengan niat mencari keridhaan Allah, dengan niat menjalankan sunnah Rasulullah, dengan niat ibadah ataukah sewaktu kita melakukan itu semua masih tersisa disana niat-niat keduniaan dan hawa nafsu….? Apakah kita bekerja karena perintah Allah atau karena ingin mencari kekayaan dunia..Apakah kita mendidik anak karena perintah Allah atau karena agar anak tersebut nanti menjadi orang hebat, orang pintar, bukan orang shaleh..? Apakah kita nikah dan berkeluarga karena ingin mencari kepuasan hawa nafsu bukan karena menjalankan perintah Allah..? Apakah kita belajar untuk mendapat titel, gelar, dan agar menjadi seorang cendikiawan bukan karena perintah Allah..? Apakah kita membantu orang karena ada kepentingan tertentu , apakah kita berkawan dan bersilaturrahmi karena ada kepentingan duniawi ..? Sudah selayaknya kita masuki bulan Muharram di tahun baru ini dengan mengadakan hijrah dalam niat dan motivasi kita dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari. Karena ini adalah yang utama; tetapi sayang banyak manusia yang terlupa. Selamat berhijrah..!
HIKMAH HARI ‘ASYUURA
“ Dan kemudian Kami selamatkan para rasul dan mereka yang beriman “
( QS. Yunus : 103 )
Tanggal sepuluh Muharram dikenal dengan nama hari Asyuuraa. Kata-kata Asyura berasal dari kata-kata Asyarah yang bermakna sepuluh. Maka arti Hari Asyura adalah hari yang kesepuluh di bulan Muharram, bulan pertama dalam penanggalan hijriyah. Di hari Asyura tersebut menurut kajian sejarah merupakan hari yang sangat bersejarah. Dalam kitab “ Nuzhatul Majalis wa Muntakhabul al Nafais “ karangan Syekh Abdurrahman Safuri Assyafii disebutkan bahwa pada hari tersebut telah terjadi beberapa peristiwa penting dalam perjalanan sejarah para nabi dan rasul. Pada hari tersebut nabi Adam alaihissalam diberi ampunan oleh Allah. Pada hari Asyura kapal Nabi Nuh mendarat di bukit Judiy ( daerah Iraq sekarang ) setelah kapal itu berada di atas air bah selama seratus lima puluh hari. Pada tanggal sepuluh Muharram tersebut Nabi Ibrahim alaihissalam diselamatkan dari panasnya nyala api yang dibuat oleh raja Namrud. Di hari Asyura Nabi Ayyub disembuhkan Allah dari penyakit yang di deritanya, dan Nabi Yunus keluar dengan selamat dari perut ikan setelah berada di dalamnya selama empat puluh hari. Pada hari Asyura Nabi Ya’qub bertemu kembali dengan Nabi Yusuf setelah anak dan ayah tersebut berpisah selama empat puluh tahun. Pada hari Asyura tersebut Nabi Isa alaihissalam dilahirkan dan juga pada tanggal sepuluh Muharram Nabi Muhammad saw melangsungkan aqad nikah dengan Khadijah binti Khawalid. Menurut sebagian kitab sejarah, pada hari itu juga Nabi Adam dan Hawa diciptakan oleh Allah subhana wa taala. Wallahu A’lam bisshawab. Hanya Allah yang maha Mengetahui atas segala peristiwa yang terjadi.
Begitu banyaknya peristiwa bersejarah yang terjadi pada tanggal sepuluh Muharam ( hari Asyura ), maka masyarakat yahudi di kota Madinah biasanya menyambut hari tersebut dengan penuh kegembiraan. Sewaktu ditanya mengapa mereka sangat gembira dan merayakan hari tersebut..? Mereka menjawab karena pada hari itu Nabi Musa diselamatkan dari kejaran Fir’aun yang zalim. Mendengar keterangan demikian, maka rasulullah saw menjawab : kalau begitu kami lebih berhak untuk merayakan hari bersejarah tersebut, insya Allah pada tanggal sepuluh Muharram di tahun mendatang aku akan merayakannya dengan berpuasa. Sayangnya , Nabi Muhammad saw tidak sempat berpuasa Asyura di tahun selanjutnya, karena beliau menghadap kepada Malikul Mannan, Allah swt sebelum tanggal sepuluh Muharram tahun berikutnya. Walaupun Rasulullah saw tidak sempat berpuasa pada Hari Asyura, tetapi beliau telah berniat untuk melaksanakan puasa sunat di hari Asyura. Oleh karena itu para ulama berijtihad tentang hukum sunat untuk berpuasa di hari Asyura.
Dari keterangan di atas dapat kita lihat bagaimana Rasulullah saw mengajarkan kita cara merayakan suatu hari bersejarah. Jika kaum Yahudi merayakan hari bersejarah tersebut dengan bersenang-senang dan bersuka ria, maka ummat Islam merayakannya bukan dengan cara demikian, tetapi dengan cara mendekatkan diri kepada Allah. Jika kaum yahudi ( dan juga masyarakat modern jaman sekarang ) merayakan hari bersejarah tersebut dengan mengadakan pesta, menari-nari, menyanyi dan melampiaskan segala keinginan dan hawa nafsu dengan makan yang enak, minum minuman keras dan lain sebagainya; maka Rasulullah mengajarkan kita untuk merayakannya dengan menahan diri dari segala keinginan hawa nafsu, yaitu dengan berpuasa dan memperbanyak amal. Budaya masyarakat yahudi yaitu merayakan sesuatu dan memperingati sesuatu hari dengan suasana sukaria melalui pesta makanan dan minuman serta segala yang enak tanpa disadari telah melanda masyarakat dunia.
Lihat saja dalam kehidupan kita sekarang ini, hari ulang tahun kelahiran diperingati dengan pesta yang penuh dengan makanan dan minuman yang mubazir, malah kadang-kadang dipenuhi dengan cara-cara yang penuh dengan dosa seperti acara dansa , acara pesta seks , dan lain sebagainya. Acara ulangtahun perkawinan demikian juga, entah itu perkawinan emas atau perkawinan perak, semuanya diperingati dengan cara menghambur-hamburkan uang yang kadang-kadang terkesan mubazir.
Budaya ini bukan saja bersifat individual, tetapi sudah bersifat kolektif dan regional. Lihat saja kita juga masih membudayakan untuk memperingati hari-hari tertentu yang bersejarah dengan cara mengadakan panggung gembira atau pentas musik semalam suntuk, atau mengadakan pertunjukan wayang kulit semalam suntuk yang kadang-kadang menghabiskan dana sampai jutaan rupiah. Kita ingin memperingati hari tersebut karena ada beberapa peristiwa penting di dalamnya; ternyata yang kita lakukan adalah menyia-nyiakan waktu di hari tersebut dengan acara-acara yang tidak bernilai sama sekali. Ini bukan budaya Islam, ini bukan budaya timur, tetapi ini adalah budaya barat yang mempunyai prinsip nbahwa hidup ini hanya untuk bersenang-senang dan berfoya-foya. Bagi seorang muslim, hidup ini adalah untuk ibadah, maka segala bentuk acara yang dilakukan harus bernilai ibadah kepada-Nya.
Mari kita lihat beberapa ijtihad yang telah dibuat oleh para ulama kita agar dalam memperingati acara tersebut bernilai ibadah, penuh dengan zikir, tasbih, dan doa. Sebagai contoh, masyarakat dulu dalam memperingati sesuatu biasanya diperingati dengan mengadakan acara tahlilan ( membaca kalimah tauhid, tasbih, tahmid ), acara membaca yasin, acara samadiyah ( membaca Surat alikhlas ) , membaca Marhaban, dan lain sebagainya. Ini semua dilakukan untuk mengantisipasi agar masyarakat pada hari-hari yang diperingati tersebut tidak terpengaruh dengan budaya foya-foya atau budaya barat .
Mari kita bayangkan, seandainya acara memperingati hari ulang tahun kelahiran atau ulang tahun perkawinan, atau hari jadi sebuah perusahaan dan lain sebagainya diisi dengan acara membaca surat-surat pendek dari Al Quran atau membaca surat Yasin, atau membaca tahlil, tasbih dan tahmid kemudian ditutup dengan doa bersama. Apalagi jika diikuti dengan amal sosial seperti membantu faqir miskin, anak yatim dan lain sebagainya. Cara memperingati hari bersejarah tersebut akan lebih indah dan bermakna daripada hanya diisi dengan acara pesta dan dansa, dan lain sebagainya.
Kadang-kadang masyarakat juga terperangkap dengan budaya syirik yang sering dilakukan oleh kaum kafir dan musyrik. Sampai saat ini masih kita lihat atau kita dengar mereka yang merayakan sesuatu dengan menganggap bahwa hari itu keramat, hari itu begitu sakral sehingga mereka mengadakan kegiatan yang mengandung unsur syirik. Seperti pada hari Asyura yang lebih dikenal oleh masyarakat jawa dengan bulan Suro sekarang ini di beberapa tempat biasanya ada yang memperingatinya dengan acara mandi di laut atau di bawah air terjun dengan tujuan untuk menolak bala. Ada lagi yang mengadakan acara bergadang semalam suntuk dengan keyakinan bahwa barangsiapa yang tidak tidur di malam Asyura akan awet muda. Ini semua bukan ajaran Islam…, karena walaupun hari itu mempunyai nilai sejarah; tetapi hari tersebut tidak harus dimuliakan atau dikultuskan dan dianggap dapat mendatangkan manfaat atau mudharat. Yang harus disyukuri dan dikultuskan bukan hari atau waktu sehingga harus mengadakan ini dan itu, tetapi yang harus dimuliakan adalah Allah subhana wataala, maka cara memperingatinya bukan dengan cara mengkultuskan hari tetapi dengan cara mendekatkan diri kepada Allah, dengan cara berzikir, beribadah, atau memperbanyak amal ibadah sosial seperti bersedekah, membatu faqir miskin dan lain sebagainya.
Itulah sebabnya mengapa Rasulullah menyuruh kita agar merayakan hari Asyura tidak dengan cara - cara yahudi seperti pesta pora dan berfoya-foya dan juga tidak dengan mengkultuskan hari tersebut; tetapi beliau menyuruh kita untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan menjalankan puasa, dan memperbanyak sedekah. Agar ummat Islam terhindar dari cara-cara yang duniawi atau bersifat syirik, maka disana terdapat beberapa hadis motivasi agar kita melakukan puasa di hari tersebut. Sebagai contoh dalam kitab “ Nuzhatul majlis “ tersebut dijelaskan bahwa : “ Barang siapa yang berpuasa di hari Asyura, maka Allah akan menuliskan baginya pahala sebagaimana mereka yang melakukan seribu kali haji, seribu kali umrah, dan diberikan padanya pahala seribu kali syahid, dan dibangunkan baginya seribu istana di dalam surga dan diharamkan tubuhnya dari api neraka “. Dalam riwayat yang lain dijelaskan bahwa : “ Barangsiapa yang memudahkan urusan orang lain terutama keluarga dan sanak saudaranya di hari Asyura maka Allah akan memudahkan urusannya selama setahun kemudian “. Yang jelas ini semua mengajarkan kita agar kita dalam merayakan sesuatu harus dengan niat ikhlas kepada Allah, hanya ingin mensyukuri nikmat dan karunia-Nya tapi tidak dengan cara-cara yang “ maghdub alaihim “ seperti cara-cara yahudi dan nasrani yaitu dengan berpesta pora, bergadang semalam suntuk tanpa makna atau cara-cara yang mubazir; dan juga bukan dengan cara-cara yang “ dhallin “ seperti cara-cara yang berunsur syirik, tetapi dengan cara yang islami, cara yang mulia, cara yang suci yaitu dengan cara taqarrub kepada-Nya, berzikir, bertasbih, beribadah , berdoa , beristighfar dan beramal sosial. Kalau di hari Asyura sekian banyak Para nabi dan rasul beramal dan memohon ampun kepada Allah sehingga mereka diselamatkan oleh-Nya ; maka dihari Asyura ini, mari kita renungkan : sudahkah kita penuhi hidup kita dengan iman, dengan beristighfar dan beribadah kepada-Nya agar kita selamat . Allah telah berjanji bahwa kita selamat jika kita beriman kepada-Nya, itulah yang telah dicatat oleh sejarah para rasul. Bisa jadi, jika selama ini kita selalu menderita , mungkin karena kita telah lupa kepada-Nya atau kita telah terlalu banyak memakai nikmat dan karunia yang telah diberikan Tuhan dijalan yang tidak diridhai-Nya. Astaghfirullah….Fastaghfiruuu Ya ulil absaar……..!!!
ISLAM : AGAMA KEDAMAIAN
“ Allah mengajak kamu sekalian kepada Daarussalam, negeri yang aman“
( QS. Yunus : 25 )
Seorang Arab baduy bertanya kepada Rasulullah saw : Ya Muhammad, apakah arti Islam..? Rasul menjawab : “ Al Muslim man salimal muslimuna bilisanihi wa yadihi “, seorang muslim adalah siapa yang dapat menyelamatkan orang muslim yang lain baik dengan lisannya maupun dengan tangannya. Kemudian orang itu bertanya lagi : Ya Muhammad apa arti Iman..? Rasulpun menjawab : “ Al Mu’min man amanal mukminina ‘an daamihi wa maalihi “, orang mukmin itu adalah orang yang dapat menjamin keselamatan darah ( nyawa ) dan harta kekayaan orang mukmin yang lain . Dari hadis ini dapat kita petik beberapa pelajaran.
Dalam hadis di atas, kita lihat bahwa rasulullah tidak menjawab langsung apa definisi islam dan iman sebagaimana yang ditanyakan, tetapi langsung memberikan identitas seorang muslim dan seorang mukmin. Berarti masalah iman dan islam bukan hanya masalah teori tetapi merupakan suatu sikap hidup yang harus dapat menjadi kepribadian dalam kehidupan sehari-hari. Kalau seseorang mengaku sebagai seorang muslim maka dia harus dapat memberikan bukti berupa jaminan keselamatan dan kedamaian bagi orang yang lain; dan kalau dia seorang mukmin, maka dia harus dapat memberikan jaminan keamanan bagi orang mukmin yang lain.
Islam adalah agama kedamaian yang menjamin keselamatan bagi segenap manusia. Barangsiapa masuk agama Islam maka dia akan selamat dunia akhirat, dia akan masuk ke negeri Darussalam, negeri yang aman. Dia juga harus dapat memberikan jaminan keselamatan bagi manusia, masyarakat dan lingkungan di sekitarnya. Barangsiapa benar-benar beriman kepada Allah, maka keamanan dirinya telah dijamin , karena dia berada dalam pengawasan dan lindungan Allah; dan dia juga harus dapat memberikan keamanan jiwa dan harta bagi masyarakat dan lingkungan di sekitarnya. Oleh karena itu seorang yang beriman, tidak boleh merusak hak milik orang lain, tidak boleh melukai tubuh atau membunuh orang lain, tidak boleh menganggu harta milik orang lain dengan mencuri, merampok dan lain sebagainya.
Menjaga keselamatan orang lain adalah kewajiban setiap muslim, oleh karena itu ajaran Islam menyatakan bahwa pembunuhan merupakan dosa besar. Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa seorang sahabat nabi bernama Usamah berada dalam peperangan berhadapan dengan seorang musyrk. Kami , kata Usamah sedang berhadapan dengan seorang kafir; dan di sat dia terdesak akan terbunuh , si kafir tersebut langsung mengucapkan dua kalimah syahadat. Sebagian sahabat mendengar ucapan tersebut menghentikan penyerangan; tetapi aku , kata Usamah terus saja membunuhnya. Hal tersebut disampaikan kepada rasulullah, lalu rasul berkata : Ya Usamah, apakah engkau membunuh seorang yang telah mengucapkan kalimah syahadat..? Aku menjawab, kata Usamah : Ya rasulullah, dia mengucapkan demikian itu karena terpaksa dan dengan niat agar dia tidak dibunuh. Rasul tetap mengulangi kata-kata apakah engkau membunuh orang yang telah mengucapkan kalimah shahadat berkali-kali, sehingga aku , kata Usamah, merasa seakan-akan aku sudah tidak Islam lagi, dan sejak itu aku berjanji tidak akan membunuh siapa saja yang telah mengucapkan kalimat syahadat.
Seorang muslim identik dengan seorang yang selalu memberikan keamanan, menjamin keselamatan dan kedamaian. Itulah sebabnya jika seorang muslim bertemu dengan orang lain ; maka kewajiban pertama yang harus dilakukannya adalah memberikan ucapan salam “ Assalaamu alikum “ bukan “ Selamat pagi “, atau “Good morning “, atau ucapan lainnya tetapi ucapan salam yang mengandung unsur doa bagi keselamatan orang yang dijumpainya. Ucapan “Assalamualaikum warahmatullah “ bermakna bagimu keselamatan dan rahmat dari Allah. Ucapan salam tersebut juga menajadi ucapan terakhir dalam ibadah shalat. Hal tersebut seakan-akan merupakan pendidikan kepada orang Islam, bahwa jika kamu benar-benar seorang hamba Allah, seorang muslim yang taat kepada Allah, maka berikanlah jaminan keselamatan dan kedamaian bagi seluruh penghuni yang berada di atas bumi.
Dalam riwayat lain juga disebutkan bahwa sewaktu Rasulullah mengirim surat kepada raja Romawi , beliau menulis : “ Bismillahirrahmaanirahim… Dari Muhammad bin Abdullah kepada Kaisar Rom yang Agung…. Salam dan Sejahtera bagi mereka yang mengikuti petunjuk, “ Aslim.. Taslam “, masuklah kamu kepada agama Islam maka kamu akan selamat. Dari surat ini terlihat bahwa agama Islam adalah agama yang menjamin keselamatan dan kedamaian bagi kehidupan manusia baik di dunia maupun di akhirat. Sejarah juga telah membuktikan bahwa agama Islam tersebar sampai ke Spanyol, Albania, Bosnia, Rusia, Malaysia dan ke Indonesia, bukan dengan perang atau dengan kekerasan tetapi dengan budaya salam, budaya damai yang ditampilkan oleh para juru dakwah , para ulama dan masyarakat Islam terdahulu.
Agama Islam sangat mengutamakan jaminan keamanan dan kedamaian, sampai dalam kondisi peperangan . Dalam perang, Islam mempunyai aturan sehingga seorang tentera muslim di dalam kancah peperangan tetap tidak boleh membunuh anak-anak, wanita, dan rakyat sipil; demikian juga mereka tidak boleh merusak alam lingkungan, merusak , dan menghancurkan bangunan apalagi rumah ibadat agama lain. Begitu hebatnya Islam menjaga keselamatan masyarakat. Tetapi sayangnya, akhir-akhir ini, masyarakat sudah terpengaruh dengan gaya barat dalam berperang. Lihat saja, orang barat yang dipengaruhi oleh budaya hedonisme, yaitu budaya hidup hanya untuk mencari kepuasan hawa nafsu belaka, sehingga dalam berperang mereka tidak memakai adab dan aturan sama sekali. Dalam perang dunia kedua, kota Hiroshima di serang dengan bom atom, sehingga bukan saja menghancurkan bangunan kota tetapi juga menghancurkan kehidupan ummat manusia sampai bertahun dan berabad kemudian. Dalam perang teluk, Amerika menyerang dan membumihanguskan negara Iraq. Demikian pula Serbia telah menghancurkan kehidupan masyarakat muslim di Bosnia. Mereka bukan saja menyerang pasukan militer tetapi juga menghancurkan bangunan , dan memperkosa para wanita dan membunuh anak-anak kecil . Beberapa waktu yang lalu , Amerika hanya dengan alasan melawan terorisme, dengan seenaknya melakukan teror menyerang Afghanistan dan Sudan. Inilah budaya perang di barat yang penuh dengan kekejaman , kekerasan, pembunuhan, penganiayaan. Ini semua menandakan bahwa budaya masyarakat barat, adalah budaya masyarakat yang tidak beradab, yang tidak dapat menjamin keselamatan bagi ummat manusia.
Karena masyarakat barat adalah masyarakat yang tidak dapat menjamin kedamaian, maka gambaran ajaran Islam yang penuh rahmat dan damai tersebut sangat tidak disenangi oleh dunia barat. Karena takut jika budaya Islam yang penuh damai ini terlihat dengan jelas maka agama Islam akan menjadi budaya alternatif bagi kehidupan masyarakat dunia. Oleh karena itu mereka selalu berusaha untuk membuat gambaran ( opini ) kepada dunia bahwa Islam itu adalah perang, ummat Islam adalah ummat yang suka pada peperangan, kekacauan, kekerasan. Ummat Islam identik dengan terorisme, pembunuhan, pembantaian dan lain sebagainya. Mereka tidak senang jika melihat masyarakat Islam hidup sejahtera, hidup aman dan tenteram; oleh karena itu mereka selalu berusaha memancing agar umat Islam untuk melakukan tindakan kekerasan dalam segala hal. Dan jika ada negara muslim yang mengadakan demontrasi, pembantaian, atau kegiatan terorisme, dengan secepat mungkin berita itu mereka sebarkan ke seluruh dunia , berulang kali, dan gambar-gambar mereka ( biasanya dicari gambar-gambar yang mempunyai identitas islam seperti jenggot, jubah, jilbab dan lain sebagainya) ditayangkan di seluruh layar televisi .
Pada saat yang sama kita tidak pernah melihat atau jarang mendengar tentang pembantaian Barat terhadap ummat Islam di Kosovo ( Albania ), di Kashmir, di Cambodia, di beberapa negara Afrika, di Palestine.dan lain sebagainya. Bayangkan pada saat sekarang ini ribuan masyarakat muslim di Kosovo sedang dibunuh; tetapi adakah media massa barat yang memberitakan hal tersebut..? Sebaliknya media Barat selalu menyiarkan tentang kebaikan dunia barat dan membesar-besarkan tentang bantuan kemanusiaan yang mereka lakukan disana sini terutama kepada negara yang sedang dilanda kegawatan ekonomi atau yang mendapat bencana. Padahal itu semua bukan bantuan murni tetapi merupakan hutang bersyarat yang akan mencekik masyarakat negara berkembang, karena harus dipulangkan dengan interes yang besar.
Baru-baru ini majalah Times mencari tokoh-tokoh pemimpin di abad 20. Diantara 200 tokoh tersebut dari masyarakat muslim hanya Pemimpin Revolusi Iran Ayatullah Khomeini.. Begitu lihainya mereka dalam memilih tokoh sehingga yang mereka tonjolkan adalah tokoh revolusi Iran, padahal sekian banyak tokoh-tokoh muslim dalam abad 20 yang lain. Dengan demikian mereka berharap agar opini masyarakat dunia dan generasi mendatang hanya melihat Islam dari kacamata revolusi, kekerasan, dan lain sebagainya ; bukan dari sikap Islam yang penuh dengan kedamaian.
Oleh karena itu masyarakat Islam dalam situasi krisis sekarang ini harus dapat bersikap arif, bijaksana dan tidak mudah terpancing atau tertipu, apalagi ikut-ikutan terhadap sesuatu yang tidak jelas. Sebagai seorang muslim kita harus selalu waspada, Allah berfirman : “ Hai orang yang beriman jika datang kepada kamu khabar dari orang fasiq, maka bersikap tabayyun, periksalah berita itu terlebih dahulu ( QS. AlHujurat :6 ). Jika ada berita atau isu, maka umat Islam harus waspada dan berhati-hati sebelum mengambil sikap. Jangan sampai nanti kita hanya menjadi tukang dorong mobil mogok, setelah mobilnya hidup, kita ditinggal; orang lain yang naik; atau kita hanya menjadi tukang bangunan , setelah bangunan selesai, kita disuruh pulang dan orang lain yang akan menempati bangunan yang telah kita bangun tersebut.
Oleh karena itu dalam bersikap , ummat Islam harus dapat menjadi ummat yang selalu dapat menjaga keselamatan, kedamaian, dimanapun dia berada; bukan ummat yang sibuk dengan kekerasan, atau kekacauan; karena itu memang pekerjaan rumah yang kadang-kadang sengaja dibuat oleh dunia barat; sehingga memberikan gambaran kepada masyarakat dunia bahwa ummat islam itu adalah masyarakat yang selalu membuat kekacauan. Semoga dalam suasana bagaimanapun kita tidak lupa untuk selalu berdoa kepada Allah agar kita selamat dan terhindar dari segala fitnah dan bala. Amien ya rabbal Alamien.
SUARA HATI SEORANG MUKMIN
“ Dan pada hari kiamat, Kami akan tegakkan neraca yang adil
sehingga tidak ada seorangpun yang akan dirugikan sedikitpun “
( QS. Al Anbiya : 47 )
Dalam lubuk hati manusia ada suatu kekuatan yang tersembunyi. Tidak dapat dilihat dengan mata, walaupun dengan pertolongan kaca pembesar; dan tidak dapat diketahui oleh ilmu fisiology. Kekuatannya tidak dapat diraba dan diterka oleh panca indera; tetapi bisikannya dapat dirasakan oleh manusia yang selalu menyuruhnya untuk melakukan kewajiban dan kebaikan. Dia seolah-olah pemandu yang menunjuki jalan kehidupan, mengajak dan mengarahkan manusia kepada perbuatan yang baik sebagaimana jarum magnet yang selalu mengarah ke arah utara. Dia mencegah manusia dari berbuat kejahatan bagaikan suara seorang bapak yang selalu menasehati anaknya, atau bagaikan nasehat seorang guru kepada murid-muridnya. Apabila seseorang telah melakukan apa yang diperintahkannya, maka kekuatan batin ini akan memberikan ketenangan, kegembiraan dan kepuasan bagi manusia; tetapi jika orang tersebut melanggar apa yang dikatakannya, maka kekuatan batin ini akan memberikan tekanan dan desakan sehingga manusia akan merasa gelisah, dan tidak tenang.
Kekuatan batin tersebut ada dalam lubuk hati setiap manusia dan selalu dinamakan orang dengan istilah hati nurani, atau “ dhamir “ alias perasaan hati. Islam menamakannya dengan “ qalbu “; sehingga sewaktu rasulullah saw ditanya tentang kebaikan dan kejahatan , Rasulullah menjawab : “ AlBirru maa sakanat ilaihinnafsu wat ma’anna ilaihi qalbu wal ismu maalam taskunu ilaihin nafsu walam yatmainnu ilaihil qalbu “ , Kebaikan itu adalah apa-apa yang dengannya perasaan akan menjadi lapang dan hati menjadi tenang; sedangkan kejahatan itu adalah sesuatu yang jika dikerjakan maka perasaan akan menjadi gelisah dan hatipun tidak tenang “. Maka dalam mengerjakan sesuatu perkara atau dalam menilai suatu urusan tanyalah hati nurani kita , apakah itu baik atau tidak; karena hati nurani pasti dapat mengetahui mana yang benar dan mana yang salah. Oleh karena itu dalam hadis yang lain Rasulullah juga bersabda : “ Istafti qalbak “, tanyalah hati nuranimu.
Suara hati nurani ini merupakan kekuatan hakim yang dapat menilai setiap perbuatan, oleh karena itu dia selalu mendahului setiap pekerjaan manusia dengan memberikan petunjuk kepada kebenaran ataupun memberi peringatan atas setiap kejahatan dan maksiat. Dia juga selalu mendorong manusia untuk menyelesaikan pekerjaan yang baik dan menghentikan setiap kemunkaran. Oleh karena itu dia selalu memberikan ketenangan kepada setiap kebaikan dan menimbulkan perasaan tidak tetang jika kita melakukan kemaksiatan. Hati nurani inilah yang menjadi dasar utama dalam pembentukan moral dan akhlak., dia juga merupakan standar masyarakat dalam menilai keadilan. Oleh karena itu keadilan , dan ketertiban akan terjadi di dalam masyarakat jika keadaan suatu pemerintahan sesuai dengan hati nurani mereka. Seorang filosof pernah berkata : “ Keadilan bukan terletak dalam pasal dan ayat undang-undang tetapi terletak dalam hati nurani hakim dan penguasa yang melaksanakannya “. Maka hati nurani yang bersih atau “ qalbun salim “ merupakan unsur utama bagi masyarakat baik mereka yang memerintah juga bagi rakya yang diperintah.
Bagi seorang mukmin, maka suara hati nuraninya haruslah berdasarkan pada kekuatan iman kepada Allah subhana wataala. Dengan iman, maka hati akan menjadi kuat, bersih dan mempunyai pandangan yang lebih terang. Dengan iman, berarti Allah selalu berada di dekat hamba-Nya, sehingga hati seorang hamba selalu mendapat hidayah dan nur dari Ilahi. Allah akan berada selalu disampingnya, dimanapun dia berada. Tidak ada sesuatu yang tersembunyi dari pengawasan Tuhan : “ Tidakkah kamu mengetahui bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi..? Setiap pembicaraan rahasia antara tiga orang, maka Allah akan menjadi yang keempat. Demikian pula jika terjadi pembicaraan antara lima orang, maka Allah adalah yang keenam. Kurang atau lebih dari bilangan itu, maka Allah bersama mereka, dimana saja mereka berada. Kemudian dari itu di hari kiamat nanti, Allah akan memberitakan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan, sesungguhnya Allah itu Maha Mengetahui atas segala sesuatu “ ( QS. Al Mujadalah : 7 ). Dalam ayat lain juga disebutkan bahwa : “ Apa saja yang menjadi urusan engkau, apa saja yang engkau baca dari Kitab Suci Al Qur’an dan apa saja pekerjaan yang engkau kerjakan, Kami ( Allah ) menjadi saksi bagimu ketika kamu melakukan pekerjaan itu. Tiada sesuatupun yang hilang dari pengetahuan Alllah terhadap apa yang terjadi di bumi dan di langit walaupun hal sebesar atom , atau yang lebih kecil atau yang lebih besar daripada itu. Semuanya akan tercatat dalam kitab yang jelas “ ( QS. Yunus : 61 ) .
Sewaktu Kaum musyrikin kota Makkah mengadakan perundingan untuk membunuh Rasulullah , maka dalam pertemuan itu satu sama lain membisikkan : “ Rendahkan suaramu, supaya jangan kedengaran oleh Tuhan Muhammad “. Dengan kejadian tersebut turunlah ayat : “ Boleh jadi kamu rahasiakan ( sembunyikan dalam hati ) perkataanmu atau kamu lahirkan dengan terang-terangan, maka Dia ( Allah ) akan mengetahui segala isi hatimu “(QS. Al Mulk:13). Mereka mengira bahwa pembicaraan mereka sangat rahasia sehinga Tuhan Muhammad tidak mengetahuinya “ Adakah mereka mengira bahwa Kami tiada mendengar rahasia dan pembicaraan mereka dalam sidang tertutup itu..? ya, sebenarnya utusan-utusan kami berada di dekat mereka menulis apa yang mereka katakan ( QS. Zukhruf : 80 ).Padahal Allah akan mengetahui segala pembicaraan dan perbuatan setiap hamba baik yang lahir maupun yang batin, dan semuanya akan tercatat dengan lengkap dan jelas “ Ketika dua malaikat duduk di sebelah kanan dan di sebelah kiri untuk mencatat perbuatan seseorang . Oleh karena itu setiap perkataan yang diucapkan oleh seseorang, niscaya di dekatnya ada pengawas yang selalu siap sedia “ (QS. Qaf :17-18) “ Sesunguhnya untuk kamu ada beberapa penjaga dan penulis yang mulia. Mereka mengetahui apa yang kamu perbuat “ ( QS. Al Infitar : 10-12 ).
Hati nurani dan perasaan yang dibina oleh iman dengan merasa selalu dibawah pengawasan Allah dan perasaan akan sebuah pertanggungjawaban di depan Alah inilah hati nurani seorang mukmin. Hati nurani yang akan peka dengan segala keadaan , bukan berdasarkan hawa nafsu, bukan berdasarkan bisikan syetan, tetapi berdasarkan sebuah amanat yang harus dipertanggungjawabkan di depan Allah di pengadilan Ilahi nanti. Hati nurani ini akan selalu berkata : Apa yang engkau kerjakan, untuk apa engkau mengerjakannya, untuk siapa engkau melakukannya, bagaimana engkau melakukannya. Hasan al Basri , seorang tokoh ulama salaf berkata : Seorang mukmin akan selalu bertanya kepada dirinya : Apa yang akan aku ucapkan, apa yang akan aku makan, dan apa yang akan aku minum..; sedangkan seorang fasiq biasanya akan mengerjakan semuanya itu dengan se-enaknya “.
Dalam keadaan sekarang ini, dalam suasana kehidupan yang katanya global dan modern tetapi nyatanya banyak menimbulkan krisisi disana sini, maka kita sering lupa bahwa sebagai muslim kita harus selalu bertanya kepada hati nurani, kita harus mempertanyakan tujuan dan landasan setiap ucapan dan langkah, karena kita harus merasa bahwa disana ada suatu pengawasan, sikap nanti ada sebuah pertanggungjawaban. Sering kali landasan kita dalam berbuat dan bersikap bukan lagi landasan hati nurani, atau landasan iman kepada Allah, landasan ibadah dan landasan untuk melaksanakan amanah Allah tetapi telah betukar dengan landasan bersifat keduniaan, seperti landasan ingin mencari kepuasaan hawa nafsu, kepuasan materi, kepuasan kekuasaan, atau ingin mencari ketenaran, kepopuleran , pujian dan sanjungan dari masyarakat dan lain sebagainya. Kita seakan-akan lupa bahwa nanti kita akan diminta pertanggungjawaban, dan yang menjadi ukuran adalah landasan serta niat kita dalam melakukannya.
Kita masih ingat ada cerita dalam hadis yang mengatakan bahwa nanti di akhirat ada seorang yang mati dalam perjuangan dan menjadi pahlawan tetapi akhirnya dia dimasukkan ke dalam neraka, karena dia mati dalam membela kebenaran bukan karena niat yang suci, bukan karena Allah tetapi untuk populeritas diri, agar dia dikenal sebagai pahlawanuntuk populeritas diri. Demikian juga ada seorang kaya yang sangat suka menolong, bersedekah dan berderma. Ternyata di akhir hayatnya dia juga masuk neraka karena dia berbuat demikian bukan dengan landasan iman, bukan karena Allah tapi agar dia dianggap orang yang paling baik dan dermawan. Kemudian ada seorang sarjana, cendekiawan dan sangat alim yang selalu mengajarkan ilmunya kepada masyarakat; tetapi di akhir hayatnya dia juga masuk neraka, mengapa..? Rupanya dia memberikan ilmu dan pemikirannya kepada masyarakat agar dirinya diakui sebagai seorang genius, seorang yang pintar; bukan karena amanah dan perintah Allah, bukan karena landasan iman kepada Allah.
Dari kisah di atas dapat disimpulkan bahwa yang menjadi standar dan ukuran adalah suara hati nurani yang berlandaskan iman kepada Allah, bukan suara hati karena emosi, atau hawa nafsu apalagi untuk mencari kepuasan materi, kedudukan, atau populeritas. Inilah suara hati nurani seorang mukmin, yang membedakannya dengan seorang non-mukmin. Inilah suara “ qalbun salim “, yang keluar darijiwa yang suci “ nafsun mtmainnah “, bukan dari “ nafsul ammarah “ , dan bukan dari “ nafsu lawwaamah “. Sudahkah selama ini kita berbuat sesuai dengan hati nurani dengan penuh keikhlasan, berlandaskan iman kepada Allah….Wallahu A’lam.
R E F O R M A S I
KHALIFAH ‘UMAR BIN ‘ABDUL ‘AZIZ
Setelah Rasulullah saw wafat, maka kepemimpinan ummat islam -berdasarkan kesepakatan kaum muslimin- diserahkan kepada Abubakar Asshiddiq, yang terkenal sebagai pemimpin yang jujur. Sebelum mengakhiri kepemimpinannya, beliau memberikan amanah kepemimpinan -dengan persetujuan para sahabat dan seluruh kaum muslimin- kepada Umar bin Khattab, yang terkenal sebagai khalifah yang adil dan tegas. Setelah Umar syahid dalam sebuah pembunuhan, pemerintahan diserahkan kepada Usman bin Affan berdasarkan hasil musyawarah tokoh-tokoh sahabat yang ditunjuk oleh Sayyidina Umar . Setelah Khalifah Usman terbunuh ; pemerintahan dipegang oleh Ali bin Abi Thalib yang bijaksana. Setelah khalifah yang keempat ini wafat, maka pemerintahan dipegang oleh Hasan bin Ali dalam enam bulan kemudian demi untuk menjaga kemaslahatan ummat, dan agar tidak terjadi kerusuhan dan pertumpahan darah; cucu Nabi tersebut menyerahkan kekuasaannya kepada Muawiyah bin Abi Sofyan.
Umayyah segera menjalankan kekuasaannya dengan sistem kerajaan; mengikuti sistem pemerintahan Parsi dan Romawi. Setelah beliau wafat, pemerintahan diserahkannya kepada anaknya Yazid yang sangat terkenal dengan kekejaman dan kezalilamnya. Di masa pemerintahannya tersebut terjadi peristiwa Karbela dimana cucu Nabi Husen bin Ali beserta enam belas keluarga rasulullah terbunuh. Setelah memerintah selama empat tahun, Yazid diserang penyakit dan segera menyerahkan kekuasaan kepada anaknya Muawiyah bin Yazid yang dikenal sebagai seorang yang shaleh dan taqwa. Karena ketaqwaannya dia hanya memerintah selama empat puluh hari, kemudian beliau menyerahkan kekuasaannya kepada kaum muslimin . Di depan kaum muslimin dia berkata :” Nenekku Muawiyah merampas kekuasaan dari orang yang lebih berhak; yaitu keluarga Rasulullah. Kemudian dia menyerahkan kekuasaan kepada bapakku Yazid bin Muawiyah yang tidak layak dan punya keahlian sehingga dia memerintah dengan hawa nafsunya, membunuh keluarga rasulullah dan menghalalkan yang haram. Sekarang saya diserahi kekuasaan ; sedangkan saya hanyalah orang yang yang akan mengikuti apa kehendakmu ; oleh karena itu sekarang kamu semua bebas untuk memilih pemimpin yang akan mengurusi segala urusan kalian”.
Ummat Islam memilih Abdullah bin Zubair sebagai pemimpin , tetapi tidak beberapa lama kemudian, muncul Marwan bin Hakam, yang menentang kepemimpinan Abdullah serta mengambil kekuasaan secara paksa dan memaksa masyarakat untuk mengakui kekuasaannya. Setelah memerintah selama sepuluh bulan, Marwan menyerahkan kekuasaan kepada anaknya Abdul Malik. Setelah itu, pemerintahan dipegang oleh anaknya Walid bin Abdul Malik. Dalam pemerintahan Bani Marwan tersebut, kekuasaan Islam bertambah luas sampai ke Afrika, Andalusia, Bukhara dan Rusia. Walaupun demikian ; masyarakat dilanda krisis moral dan akhlaq. Masyarakat dilanda perasaan takut menyatakan kebenaran karena kezaliman, penindasan, intimidasi dan pembunuhan terjadi dimana-mana. Korupsi, Kolusi dan Nepotisme sudah menjadi budaya. Para pejabat dan pemegang kekuasaan selalu hidup dengan kemewahan. Di tengah-tengah kerusakan masyarakat dan birokrat demikian muncul Umar bin Abdul Aziz, seorang pemuda yang taqwa dan shaleh, dan masih punya hubungan kekeluargaan dengan Marwan, diangkat menjadi gubernur Madinah . Walaupun dia mempunyai hubungan keluarga dengan istana; tetapi dia mampu menjalankan pemerintahan di daerah kekuasaannya dengan penuh keadilan. Dia membenci segala tindakan kezaliman yang dilakukan oleh kerajaan; tetapi dia hanya bisa memberikan nasehat dan kritik; serta memberikan contoh keadilan dalam daerah kekuasaannya yaitu daerah Hijaz. Setelah melaksaanakan tugas selama tujuh tahun dan menjadikan daerah kekuasaannya sebagai daerah teladan dalam menegakkan keadilan dan memberikan kesejahteraan kepada masyarakat ; diapun mengundurkan diri dari jabatan gubernur.
Setelah Walid bin Abdul Malik wafat, pemerintahan dipegang oleh anaknya Sulaiman bin Abdul Malik. Setelah memerintah selama tiga tahun yang juga dihiasi dengan krisis moral dan ekonomi sehingga negeri Iraq yang kaya raya tersebut hanya mempunyai kekayaan sebanyak dua puluh lima ribu dirham padahal sebelumnya -dalam pemerintahan Muawiyah- negeri itu mempunyai cadangan devisa sebanyak seratus duapuluh juta dirham. Tak lama kemudian Walid sakit, dan dia segera memanggil sekretarisnya yang bernama Rajah bin Haywah dan menyatakan tentang kegelisahannya atas penggantinya jika dia telah tiada. Rajah, sekretaris yang bijaksana berkata : “ Wahai Baginda Raja, ketahuilah bahwa yang akan memeliharamu nanti di dalam kubur dan memberimu pertolongan di hari akhirat adalah jika engkau menyerahkan kepemimpinan kepada orang yang shaleh” . Kemudian Walid bertanya: “Menurut penilaianmu siapakah orang yang shaleh pada saat sekarang ini..? Rajah menjawab : Yang dianggap masyarakat sebagai orang yang shaleh pada saat sekarang ini adalah Umar bin Abdul Aziz..? Kemudian Walid segera menulis surat wasiat : Bismillahirrahmanirrahim. . Ini surat dari Sulaiman bin Abdul Malik, Amirul Mukminin kepada Umar bin Abdul Aziz menyatakan bahwa aku menyerahkan kekuasaan sepeninggalku kepadanya; makakepada seluruh rakyat agar mendengarkannya, mentaatinya dan bertaqwa kepada Allah.
Sebelum mayat Sulaiman dikebumikan , Sekretaris Raja bin Haywah membacakan wasiat tersebut dan kekhalifahanpun jatuh ke tangan Umar bin Abdul Aziz, bukan ke tangan putra mahkota Yazid bin Abdul Malik, atau anak-anak keturunan Sulaiman. Umar benar-benar tidak menyangka dia akan mendapat kedudukan sebagai khalifah. Dalam pidato pelantikannya dia berkata :”Aku bukanlah seorang yang penentu hukum ; tetapi aku hanyalah orang yang melaksanakan perintah dan larangan Allah . Aku bukanlah seorang pembaharu, tetapi seorang pengikut yang mengikuti aspirasi ummat . Aku bukanlah yang terbaik diantara kamu , karena aku hanyalah manusia biasa hanya saja aku mempunyai beban yang lebih berat daripada kamu sekalian. Belum lagi subuh menjelang di pagi hari, Umar segera memanggil sekretaris untuk menuliskan beberapa surat perintah .
Surat pertama kepada Musallamah bin Abdil Malik agar segera mengundurkan diri bersama seluruh pasukannya dari Kota Konstantinopel. Surat kedua berisi pemecatan Usamah Tanukhi dari kedudukannya sebagai gubernur Mesir dan segera menghadap ke Mahkamah untuk diadili atas segala tindakannya selama berkuasa. Surat yang ketiga pemecatan yang ditujukan kepada Yazid bin Abi Muslim, penguasa daerah Afrika dan segera menghadap ke pengadilan atas kelaliman dan korupsi yang dilakukan selama ini. Di masa pemerintahan Sulaiman, Musallamah diutus beserta seluruh pasukan untuk menguasai Kota Konstantinopel , Ibukota Kerajaan Romawi Timur. Sebenarnya pasukan Usamah sudah tidak bisa bertahan lagi dipukul oleh pasukan Romawi; karena kesombongan Sulaiman, dia menyuruh tetap bertahan dan pasukan tersebut dibiarkannya hancur disana. Usamah adalah penguasa Mesir yang zalim, hidup foya-foya dengan hasil korupsi, dan memerintah dengan kejam. Maka sebaik Umar mendapat wewenang, dia segera memecat Usamah dan dihadapkan ke depan pengadilan. Demikian juga dengan Yazid bin Abi Muslim, dia juga seorang penguasa di Afrika yang korup, kejam dan lalim. Maka diapun harus dicopot dan dihadapkan ke pengadilan.
Setelah acara pelantikan, maka sebagaimana biasa sebagai seorang khalifah, dia segera mendapat kenderaan, rumah kediaman, dan seluruh fasilitas kenegaraan. Umar kaget dengan itu semua dan segera memerintahkan agar seluruh fasilitas tersebut dimasukkan dalam Baitul Maal; dia cukup dengan fasilitas pribadi yang dimilikinya selama ini sebagaimana yang dimiliki oleh masyarakat kebanyakan. Segala keperluan hidupnya dan keluarganya dicukupkannya dari uang gaji yang didapatnya sebagai khalifah sebanyak dua ratus dinar pertahun. Pada hari pertama pelantikannya, dia segera memanggil isteri dan seluruh keluarganya menerangkan kepada mereka tentang tanggungjawab dan amanah yang dibeban kepadanya dan mengajak semuanya untuk dapat menjadi contoh dan siap menghadapi hidup dengan penuh prihatin. Kepada isterinya, selepas dibai’at sebagai khalifah dia berkata : “ Jika anda ingin tetap menemaniku , maka segera kembalikan seluruh harta kekayaan, perhiasan , dan segala pemberian raja terdahulu kepada baitul maal.” Menurut riwayat, Umar bin Abdil Aziz mengembalikan segala harta miliknya kepada Baitul Maal, sampai pada sebuah cincin yang sedang dipakainya sambil berkata : Ini aku dapat dari pemberian Raja Walid bin Abdul Malik sewaktu dia mendapat harta dari negeri Marokko “. Dia juga memerintahkan kepada seluruh pejabat, dan seluruh keluarga istana ( sanak-saudara dinasti Marwan ) agar segera mengembalikan seluruh harta kekayaan yang mereka dapat dari hasil korupsi; sehingga sampai ada yang bertanya kepadanya : “ Apakah engkau tidak takut dengan pembalasan keluarga istana .?” Dia menjawab : “ Tidak ada yang aku takuti selain dari perhitungan di hari kiamat nanti “.
Untuk mengembalikan kepercayan masyarakat, Umar segera memecat seluruh gubernur yang selama ini diangkat berdasarkan nepotisme dan menggantikan kedudukan mereka dengan mereka yang lebih pantas berdasarkan profesionalisme dan akhlak serta ketaqwaan dalam melaksanakan ajaran agama, sehingga pemerintahan Umar disebut juga dengan pemerintahan ulama intelektual “ ulama wal fuqaha “. Dia mengangkat Ayyub bin Sarhabil sebagai gubernur Mesir, Addi bin Artah sebagai gubernur Basrah, Jarrah bin Abdullah al hakam sebagai gubernur Khurasan, Umar bin Muslim sebagai gubernur Sind ( India ), Abdulhamid bin Abdurrahman sebagai gubernur Kufah, Ismail bin Abdullah sebagai gubernur di Afrika, Samh bin malik gubernur di Andalusia, dan Umar bin Abirah sebagai gubernur Jazirah Arab. Para gubernur terdahulu segera diadili dan disuruh mengganti harta kekayaan yang telah dikorupsi. Sebagai contoh, mencopot Yazid bin Muhallib sebagai gubernur Kufah dan kemudian diadili sehingga dia dipenjara sampai seluruh harta negara yang dikorupsi dapat dikembalikan lagi.
Dia juga segera mengumpulkan para ulama, dan intelektual untuk meminta bimbingan, petuah dan nasehat mereka dalam memimpin masyarakat dan menjadikan mereka sebagai penasehat kerajaan. Sebaik dilantik jadi khalifah dia segera mengirim surat kepada seorang ulama yang sangat alim, Haan Al Basri, menanyakan apakah kriteria seorang pemimpin yang adil dan apakah yang harus diperbuatnya untuk menjadi seorang pemimpin yang diridhai oleh Allah swt. Dia bermusyawarah bukan saja dengan ulama dan kaum intelektual tetapi dia juga mengajak seluruh tokoh oposisi dari kelompok Qadiriyah, Khawarij, Alawiyin, Abbasiyin untuk berdialog dan berdiskusi serta adu argumentasi tentang sistem politik dan pemahaman terhadap ajaran Islam. Disamping itu dia juga memerintahkan kepada panglima militer untuk membebaskan segala tahanan politik dan mereka yang ditahan tanpa bukti yang sah.
Itulah langkah pertama Umar bin Abdul Aziz dalam melakukan reformasi total di tengah masyarakat yang selama ini diperintah oleh pemerintahan yang zalim, nepotisme, dan korup. Kemudian dia memberikan pengumuman kepada seluruh rakyat : Jika ada di dalam pepemrintahanku pejabat yang tidak melaksanakan kewajibannya dengan benar, dan tidak menjalankan perintah Al Quran dan Sunnah rasulullah, maka kamu semua tidak harus taat kepadanya. Agar masyarakat tetap berada di dalam kebenaran dan selalu berusaha untuk menegakkan Innallaaha keadilan maka dia memerintahkan para khatib untuk mengakhiri khutbah jumatnya nya dengan ucapan : “ Innallaha yamurukum bil ‘adli wal ihsan wa iitaaidzil qurbaa wa yanhaa ‘anil fahsya’ wal munkar wal baghyi ya’idzukum la’allakum tadzakkarun…..” Sesungguhnya Allah memerintahmu untuk berlaku adil dan ihsan serta berbuat baik kepada kaum kerabat dan melarang kamu untuk melakukan kejahatan, kemunkaran, dan kezaliman; semoga kamu menjadi orang yang selalu ingat akan perintah dan larangan tersebut. Kata-kata penutup khutbah jumat ini sampai sekarang masih dibaca di saat khatib mengakhiri khutbahnya.
Umar bin Abdul Aziz melakukan reformasi total di segala bidang dalam tempoh pemerintahannya yang sangat singkat yaitu dua tahun lima bulan, masyarakat benar-benar dapat merasakan keadilan dan hidup dengan penuh kedamaian dan sejahtera. Dari uraian diatas dapat kita simpulkan bahwa strategi Umar dalam melaksanakan reformasi adalah :
(1) Dengan cepat, segera mencopot pejabat dan pegawai yang korup dan lalim dan dihadapkan ke depan pengadilan dan menggantikan mereka dengan pegawai yang handal berdasarkan pada taqwa dan profesionalisme.
(2) Segera memperbaiki sistem manajemen dan peraturan yang tidak sesuai dengan nilai keadilan dan kebenaran.
(3) Menjadikan pemimpin, penguasa, pejabat dan birokrat sebagai contoh dalam pelaksanaan ajaran agama serta dalam mematuhi peraturan negara dan menjaga nilai keadilan dan hak asasi manusia.
(4) Melaksanakan musyawarah dengan tokoh-tokoh masyarakat, ulama , dan kaum intelektual serta mengadakan dialog dengan kelompok oposisi dalam menentukan langkah-langkah pembangunan masyarakat.
(5) Mengembalikan segala aset negara kepada perbendaharaan negara ( baitul Maal ) dan menekankan kepada pejabat serta penguasa bahwa harta adalah amanah yang harus disampaikan kepada mereka yang berhak.
Akhirnya sejarah telah mencatat bahwa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz adalah merupakan pemerintahan yang berhasil dalam melaksanakan reformasi ; pemerintahan yang bersih dari nepotisme, korupsi dan kolusi, serta berhasil memberikan kesejahteraan dan menegakkan keadilan bagi masyarakatnya. Sebagai masyarakat muslim sudah sewajarnya kita dapat mengambil hikmah dan pengajaran dari langkah-langkah reformasi yang telah dilakukan oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz karena telah terbukti bahwa dalam tempo kepemimpinan yang singkat, hanya dua setengah tahun, beliau berhasil mengembalikan kepercayaan rakyat dan menjadikan kerajaannya “ baldatun Tayyibatun Wa rabbun Ghafuur “ menjadi negara yang adil dan makmur serta mendapat ridha dan ampunan dari Allah Tuhan Pemilik Sekalian Alam.
ANTARA KEKAYAAN PRIBADI DAN HARTA RAKYAT
“ Dan ketahuilah bahwasanya harta kekayaanmu dan anak-anakmu
itu merupakan cobaan bagimu “ ( QS. Al Anfal : 28 ).
Setelah Umar bin Abdul Aziz dilantik sebagai khalifah, dia langsung berkata kepada isterinya : “ Wahai isteriku jika anda ingin tetap menemaniku sebagai isteri seorang khalifah, maka segera kembalikan semua harta kekayaanmu, barang perhiasanmu, dan segala pemberian raja terdahulu kepadamu kepada Badan Perbendaharaan Negara ( Baitul Maal ). Menurut riwayat, Umar bin Abdul Aziz mengembalikan seluruh kekayaannya kepada baitul Maal, sampai kepada sebuah cincin yang sedang dipakainya segera dicopotnya sambil berkata : “ Cincin ini aku peroleh sebagai hadiah dari raja terdahulu sewaktu beliau mendapat upeti dari negeri Marokko “. Usaha untuk memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahannya bukan saja dengan cara mengembalikan harta kekayaan pribadi dan keluarganya kepada baitul maal; tetapi dia juga memerintahkan seluruh keluarga dan kerabat raja yang mendapatkan kekayaan dari pemberian raja terdahulu atau mendapatkan kekayaan dari korupsi, dan kolusi harap segera mengembalikan harta tersebut kepada negara.
Inilah usaha pertama yang dilakukan oleh Khalifah untuk memulihkan kepercayaan masyarakat kepada pemerintahannya dan sebagai rasa tanggungjawab terhadap Allah subhana wataala. Sewaktu beliau ditanya apakah beliau tidak takut dengan pembalasan keluarga istana yang tidak senang dengan tindakan pembersihan ini..? Umar menjawab bahwa : Tiada yang dia takuti selain perhitungan di hari akhirat nanti di depan pengadilan Ilahi “. Inilah tanggung jawab seorang pemimpin, bukan saja kepada rakyat tetapi yang lebih utama adalah kepada Allah di hari perhitungan kelak.
Sebelum menjadi khalifah, Umar bin Abdul Aziz dan isteri serta keluarganya hidup dalam kemudahan dan mempunyai harta kekayaan yang banyak, karena dia masih termasuk keluarga istana. Tetapi setelah dia menjadi seorang khalifah, kehidupannya berubah total. Dia hidup dengan penuh kesederhanaan sehingga seorang tokoh tasauf Syekh Malik bin Dinar berkata : “ Banyak orang mengatakan bahwa Malik adalah seorang Sufi. Bagaimana mungkin saya menjadi seorang Sufi..? Seorang Zahid ( sufi yang hidup dengan penuh zuhud ) adalah Umar bin Abdul Aziz, datang kepadanya kekayaan terbuka lebar; tetapi semua itu dirtinggalkannya “. Dalam masa dia memegang jabatan khalifah, dia hanya mempunyai sehelai baju dalam, padahal sewaktu mudanya dia berada dalam kesenangan dan kemewahan. Pada suatu hari dia datang kepada isterinya meminta supaya dipinjami sati dirham untuk membeli buah anggur, tetapi ketika itu isterinya tidak mempunyai apa-apa. Isterinya berkata : “ Engkau ini adalah pemimpin umat, Amirul Mukminin, tetapi dalam perbendaharaanmu engkau tidak memiliki uang untuk membeli anggur “. khalifah Umar menjawab : “ Bagi saya, sangat berat untuk menanggalkan rantai dan belenggu besok hari diwaktu dalam neraka jahannam “.
Sebelum menjadi khalifah, Umar sebagai keluarga istana biasa hidup dengan kemewahan dan hidup dengan senang-senang; tetapi setelah mempunyai kekuasaan dan menjadi khalifah; dia tinggalkan semua kesenangan dan kekayaan; dia cukup hidup dengan penuh keprihatinan. Inilah profeil seorang pemimpin ummat. Sebaliknya sekarang kita lihat banyak pemimpin, pejabat, penguasa; sebelum jadi pejabat, sebelum diangkat jadi penguasa hidupnya biasa-biasa saja; tetapi setelah diangkat jadi pejabat langsung hidupnya berobah duapuluh empat derajat. Padahal kalau dihitung dari gaji yang diperolehnya selama dia bekerja; tidak mungkin dia mempunyai fasilitas rumah mewah, kenderaan mewah dan lain sebagainya. Dari mana semua harta kekayaan tersebut..? Dan bagaimana dia dapat dipercaya oleh rakyat jika penampilannya saja sudah tidak dapat dipercaya.
Pada suatu hari, Sauara dari ibu Amirul Mukminin datang mengunjungi khalifah. Sebagai tamu seorang raja, maka tante ini merasa bahwa nanti dia pasti akan dijamu dengan makanan dan hidangan yang enak, diajak kesana kemari sebagaimana kebiasaan raja-raja terdahulu. Ternyata sesampainya di rumah kediaman khalifah, tante ini hanya disuguhi dengan sepotong roti kering dan minuman biasa. Tak lama kemudian, Umar bin Abdul Aziz datang ke ruang tamu dan melihat bahwa hidangan tersebut sama sekali belum disentuh. Umar bertanya; Wahai tanteku yang terhormat; mengapa engkau belum mencicipi hidangan yang telah disuguhkan..? tante tersebut menjawab : ‘ Wahai Umar, bagaimana aku dapat mencicipi hidangan seperti ini, sedangkan sebelumnya jika aku datang kesini, raja-raja terdahulu seperti Sulaiman dan Walid selalu memberikan makanan yang lezat dan hidangan yang beraneka ragam. Umar menjawab : Benar, tante; raja-raja terdahulu selalu memberimu makanan yang enak dan lezat tetapi itu semua mereka ambil dari harta kekayaan rakyat; sedangkan sekarang aku memberimu hidangan seperti ini karena inilah yang dapat kuberikan kepadamu dari gajiki yang hanya sebesar 200 dinar setahun.
Umar bin Abdul Aziz benar-benar memakai kekayaan negara dan rakyat untuk keperluan negara dan rakyat; sedangkan urusan pribadi dan keluarga hanya diambil dari gaji yang diperolehnya secara resmi. Pada suatu hari, Umar bin Abdul Aziz didatangi anaknya di saat jam kantor, kemudian Umar bertanya kepada anaknya : Apakah kedatanganmu menghadapku untuk membicarakan urusan pribadi dan keluarga atau urusan dinas..? Si Anak balik bertanya : mengapa rupanya ayah..? Umar menjawab : “ Jika engkau datang kesini untuk membicarakan urusan pribadi maka lampu ini akan aku matikan; karena lampu ini dibiayai oleh uang rakyat dan hanya boleh dipergunakan untuk urusan dinas. Begitulah sikap hati-hati umar dalam memakai kekayaan negara. Fasilitas kantor, pembiayaan dinas hanya dapat dipakai untuk urusan dinas; sedangkan urusan pribadi harus memakai dana dari kantong sendiri. Inilah manajemen seorang pemimpin yang bertaqwa. Taqwa bukan hanya sekedar melaksanakan shalat atau puasa senin kamis; tetapi taqwa dalam arti merasa takut atas tanggungjawab pekerjaan yang pasti akan diminta di hari akhirat kelak.
Sekarang kalau kita teliti parpemimpin , penguasa, dan mereka yang mempunyai wewenang serta kekuasaan. Banyak fasilitas kantor dipakai untuk urusan pribadi. Banyak mobil plat merah alias mobil dinas dibawah kesana kemari dengan memakai minyak jatah kantor. Kita belum lagi dapat membedakan antara kekayaan pribadi dan kekayaan kantor. Kita belum dapat membedakan kapan kita memakai fasilitas kantor, fasilitas dinas, fasilitas organisasi, fasilitas perusahaan, fasilitas masjid, fasilitas yayasan, fasilitas lembaga. Banyak pemimpin, pejabat, dan pengurus tergelincir karena ini. Tidak dapa membedakan antara harta kekayaan pribadi dan harta kekayaan kantor, kekayan organisasi dan lain sebagainya. Sehingga tanpa sadar banyak fasilitas rakyat dan kekayaan ummat dipakai untuk keperluan diri sendiri serta keluarga. Padahal seharusnya seorang pengurus menjadi orang yang mengurus rakyat dan ummat ternyata banyak pengurus menjadi sosom yang membuat kurus ummat dan rakyat. Pengurus seharusnya mengurus rakyat; ternyata banyak pengurus yang diurus ummat.
Di masa lalu ada seorang kiyai . Dia mendirikan pesantren dari harta warisan yang diwakafkannya. Kemudian pesantren tersebut berkembang dengan pesat; sehingga dapat memiliki sebuah mobil colt untuk memenuhi keperluan pesantren. Jika kiyai tersebut pergi dengan mobil tersebut untuk keperluan pesantren seperti menghadiri undangan Majelis Ulama dan sebagainya maka seluruh dana ditanggung oleh keuangan pesantren. Tetapi jika si kiyai yang mempunyai pesantren tersebut ingin memakai mobil colt pesantren untuk keperluan pribadi atau keperluan keluarga, maka kiyai tersebut harus membayar uang sewa mobil colt kepada pesantren. Dengan manajemen seperti ini, memisahkan antara hak milik pribadi dan hak milik ummat, adalah rahasia keberhasilan seorang pemimpin. Jangan mentang-mentang dia sebagai kityai atau sebagai pengurus, atau sebagai pemimpin seluruh kekayaan dan fasilitas dinas dan fasilitas organisasi dapat dipergunakan sekehendaknya sendiri. Ujian ketaqwaan seorang pemimpin, pengurus, dan penguasa bukan dengan ujian berapa banyak shalat atau berapa banyak puasa senin kamisnya; tetapi ujian ketaqwaan seorang pemimpin adalah dengan bagaimana dia dapat mengurus kekayaan organisasi dan membedakannya dengan kekayaan pribadi. Oleh karena itu ada sebuah ungkapan peribahasa Arab : Asshalatu Aadah, shalat itu suatu kebiasaan; Wassaumu jalaadah, puasa itu suatu kemuliaan; fa’tabiirunnaasa bil maal, kalau ingin menguji manusia maka ujilah dia dengan harta “. Disinilah akan terbukti apakah seseorang itu taqwa atau tidak taqwa. Oleh karena itu seorang anak Umar bin Abdul Aziz berkata : “ Bapakku bukanlah orang yang sangat rajin mendirikan shalat atau berpuasa. Shalat dan ibadahnya biasa-biasa saja; tetapi yang membedakannya dengan orang lain adalah ketakutannya kepada azab Allah “.
Di saat reformasi sekarang ini, kita harus dapat mengadakan reformasi kedalam diri kita sendiri. Jika kita seorang pemimpin, pengurus, dan pejabat; dapatkan kita membedakan mana harta milik pribadi dan harta dinas atau milik perusahaan. Yang lebih utama adalah dapatkan kita sebagai seorang pemimpin, pejabat, dan pengurus, hidup untuk keperluan pribadi dan keluarga dari kekayaan sendiri, dari gaji yang di dapat bukan dari fasilitas dan harta kekayaan ummat..? Sudah saatnya kita membedakan antara keduanya ; karena nanti di hari Akhirat, kita pasti ditanya oleh Allah Tuhan Yang Maha Kuasa, pernahkah engkau memakai fasilitas ummat dan kekayaan rakyat untuk keperluan pribadi..? Wallahu A’lam.
NEPOTISME DAN OPPORTUNIS
“ Janganlah orang yang beriman itu menjadikan orang kafir sebagai pemimpin mereka “ ( QS. Ali Imran : 28 )
Sewaktu Umar bin Abdul Aziz muncul dipanggung politik sebagai pemegang tampuk pemerintahan negara, segera beliau membenahi personil pegawai, pejabat dan penguasa sebagai usaha dari reformasi politik yang menjadi amanah ummat. Selama ini para pegawai, pejabat dan penguasa sampai kepada pihak militer menjalankan kekuasaan mereka penuh dengan kelaliman, penindasan, korupsi dan kolusi. Wajar saja karena memang selama ini mereka menduduki jabatan tersebut bukan berdasarkan moralitas dan profesionalisme tetapi karena nepotisme dan kolusi. Akibatnya banyak tanah rakyat dirampas, korupsi menjadi budaya, penindasan dan intimisdasi meraja lela, masyarakat dikuasai oleh hukum rimba, siapa yang kuat dan punya duit dia berkuasa . Kebenaran menjadi barang langka dan keadilan merupakan harapan yang hampa.
Maka tugas pertama Umar sebaik memegang kekuasaan adalah membenahi manusia-manusia yang rusak tersebut, memecapejabat dan penguasa yang lalim dan menggantikannya dengan pejabat dan penguasa yang taqwa dan cakap, yang dapat menjalankan tugas dengan penuh keadilan dan kebenaran. Dia juga segera menindak dan mengganti penguasa yang pura-pura ikut angin reformasi, padahal masih bermental lama alias musang berbulu ayam. Dia mencari pejabat yang benar-benar dapat dipercaya dan bermental jujur sepanjang karier ; bukan mereka yang opportunis, yaitu mereka yang bersifat munafiq, yang selalu pura-pura ikut siapa yang sedang berkuasa. Umar segera memecat beberapa penguasa yang zalim dan yang dipilih berdasarkan nepotisme kekeluargaan bani Umayyah. Pihak Bani Umayyah yang merasa dirugikan segera memprotes Umar atas kebijaksanaannya memecat pejabat tersebut; tetapi Umar tidak peduli dengan reaksi mereka dan terus memecat pejabat yang lalim.
Dalam suasana peralihan tersebut banyak yang mencari muka kepada Umar agar mereka dapat dipilih untuk menduduki suatu jabatan, tetapi Umar tetap tidak terpengaruh dan berkata ; “ Saya khawatir jika nanti saudara-saudara akan mengotori tigas suci ini. Oleh karena itu bagaimana mungkin saya akan menyerahkan tugas dan jabatan ini kepada saudara. Itu tidak mungkin. Tidak mungkin sekali”. Mendengar itu, mereka menjawab : “ Wahai Umar, kami ini semua keluarga dan kawan dekatmu; tentusaja kami punya hak untuk menduduki jabatan tersebut “. Umar menjawab tegas ; “ Dalam soal ini, baik keluarga, kawan dekat ataupun kawan jauh sama saja.” Umar bukan saja tidak memberikan jatah jabatan kepada kaum keluarga, kerabat dan kawan dekatnya malah dia menyuruh mereka untuk menyerahkan seluruh kekayaan mereka kepada baitul maal, untuk membantu krisis keuangan negara. Dia yakim bahwa kehancuran sistem selama ini karena segala urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya sebagaimana hadis Nabi “ Idza wusidal amru ilaa ghaira ahlihaa fantadzirussaa’ah…Jika suatu urusan diserahkan kepada mereka yang bukan ahlinya maka tunggulah saat kehancurannya “. Oleh karena itu untuk memperbaiki sistem tersebut langkah pertama adalah menyerahkan segala urusan kepada mereka yang ahli, mereka yang cakap dan mempunyai akhlak serta rasa tanggungjawab yang tinggi. Tidak dapat dipungkiri bahwa yang mempunyai rastanggungjawab yang tinggi adalah mereka yang bertaqwa, yang selalu merasa di bawah pengawasan Allah subhana wataala; mereka yang selalu merasa bahwa pekerjaannya bukan saja bertanggungjawab kepada atasan dan masyarakat tetapi yang lebih utama adalah pertanggungjawaban kepada Allah subhana wataala di hari akhirat nanti.
Sewaktu Umar bin Abdul Aziz memecat kepala pengawal istana dan ingin mencari penggantinya; maka berdatanganlah para perwira kepada Umar untuk meminta jabatan pengganti tersebut. Beliau tidak terpengaruh dengan cara demikian, kemudian mulai beliau meneliti satu persatu perwira yang pantas untuk menduduki jabatan penting tersebut. Akhirnya pilihan Umar jatuh kepada seorang perwira yang bernama Amru ibnu Muhajir Al Anshary. Apa alasan pemilihannya terhadap Amru..? Inilah jawabannya seperti apa uang diucapkannya kepada Amru sebaik dilantik :
“ Wahai Amru, demi Allah, antara saya dan kamu sama sekali tidak ada hubungan kekeluargaan. Kita hanya punya hubungan kekeluargaan dalam keimanan dan Iukhuwah islamiyah. Selama ini aku perhatikan engkau banyak membaca Al Quran dan saya sering melihat engkau shalat di tempat yang sunyi dimana tidak engkau sangka ada orang yang melihatnya. Aku perhatikan bahwa engkau mendirikan shalat dengan baik dan khusyu’. Engkau juga adalah salah seorang dari kaum Anshar, penolong Rasulullah saw. Oleh karena itu ambillah pedang ini dan sejak ini engkau aku angkat sebagai pengawalku”.
Demikianlah Umar memilih Amru sebagai kepala pengawal, bukan karena nepotisme tetapi karena ketaqwaannya kepada Allah, karena perilaku dan akhlak mulia yang diperlihatkannya selama menjalankan tugas, karena kejujuran , kesalehan dan keahliannya; bukan karena hubungan keluarga, hubungan kelompok, hubungan ini dan itu. Untuk menjaga kebersihan dirinya dari kolusi dan nepotisme, Umar menolak semua hadiah yang diberikan kepadanya. Sewaktu orang menghujat dengan dalil bahwa rasulullah saja menerima hadiah. Umar berkata : “ “Benar, rasulullah menerima hadiah; tetapi pada kondisi seperti ini Umar tidak akan menerima hadiah, karena itu semua akan berdampak pada kolusi dan merupakan tindakan korupsi. “. Umar juga tidak terpengaruh kepada tipuan gaya para pejabat yang pura-pura alim dengan memakai sorban dan penampilan lahiriyah lainnya. Yang menjadi ukuran Umar bukanlah penampilan atau perubahan sikap yang mengikut perubahan angin tetapi yang menjadi ukuran adalah kepribadian dan akhlak yang telah menjadi karakter selama bertugas.
Diantara Gubernur yang sedang menjalankan pemerintahannya ada seorang yang berpura-pura alim supaya tidak dipecat. Ini terlihat dari surat pemecatan yang dikirim Umar kepada Adhy bin Arthah, Gubernor Basrah : “ Sesungguhnya anda telah memperdayakan saya dengan serbanmu yang hitam dan lpanjang sehingga ujungnya terjulur di belakang badanmu; dan dengan selalu hadirnya anda ke majlis tilawah Al Quran. Anda juga selalu menonjolkan kebaikan-kebaikan anda sehingga membuatku berbaik sangka kepadamu. Tetapi kini, Allah telah membukakan kepadaku segala apa yang anda sembunyikan itu. Wassalam”.
Di saat-saat seperti sekarang ini, kita dapat melihat sekian banyak pemimpin, penguasa atau mereka yang tiba-tiba muncul menjadi pahlawan kesiangan. Sewaktu pemerintahan di tangan penguasa yang korup, mereka juga ikut menikmati hasil korupsi, ikut menindas rakyat , ikut memakan harta ummat, ikut suasana dan irama penguasa yang di atas tanpa berani memberikan kritik ataupun nasehat. Malah dia menjadi penolong setia, alias penguasa bermental “yes-men”. Di saat angin reformasi bertiup, dia pula yang sibuk dengan reformasi, dan segera teriak kesana kemari, menuntut reformasi ini dan itu. Jangan-jangan ada tujuan terselubung, ada udang di balik batu, paling tidak semoga tetap dipakai, semoga tetap menjabat, semoga tidak tergese. Semua sibuk bikin partai baru, semoga nanti dipilih lagi oleh rakyat. Mereka hanya berganti baju, dari baju yang lama menjadi baju yang baru; sedangkan karakter, kepribadian dan mentalnya masih tetap sama; yaitu mental opportunis, mental mencari keuntungan pribadi , bukan mental untuk membela kebenaran. Orang yang seperti ini biasanya tidak akan memikirkan masyarakat, tidak akan memikirkan ummat, tidak akan memikirkan mereka yang tertindas. Oleh karena itu masyarakat jangan sampai tertipu oleh penampilan, oleh omongan, oleh slogan; tetapi mari kita lihat karakter dan perbuatannya selama ini. Apakah moral dan akhlaknya baik, apakah selama dia bertugas dia sudah banyak berbuat untuk masyarakat; apakah dia selalu prihatin dengan keadaan masyarakat bawah..? Mari kita kaji sirah dan perjalanan hidupnya selama ini.
Umar bin Khattab sewaktu ingin mengangkat pemimpin dia bertanya kepada sahabatnya siapakah yang cocok. Para sahabat mengajukan beberapa calon. Kemudian Umar bertanya kepada sahabat tersebut; apa alasan kamu dalam mengusulkan namanya. Sahabat itu menjawab : karena dia shalatnya lama, puasanya banyak. Kemudian Umar bertanya lagi : pernahkah kamu bersamanya dalam suatu perjalanan..? Belum pernah, kata sahabat tersebut. Akhirnya Umar tidak menerima calon yang diajukan sahabat tersebut.
Disini kita dapat melihat bagaimana Umar bin Khattab menilai akhlak dan pribadi calon yang diajukan. Tidak cukup dengan shalat yang lama atau puasa senin kamis, serban yang panjang atau jenggot yang tebal. Tetapi yang lebih utama adalah bagaimana prilaku dan akhlaknya dalam setiap hari yang biasanya tercermin dalam pergaulan sewaktu dalam perjalanan.
Lihat saja jamaah haji yang berada di asrama haji atau di pemondokan haji selama di Mekah dan Madinah. Dalam asrama tersebut , selama perjalanan haji kita dapat menilai si A atau si B itu baik, bukan dari penampilan pakaian hajinya, atau dari beberapa kali dia mencium hajaral aswad, tetapi dari sikapnya selama dalam asrama. Apakah dia sering marah-marah, atau bersifat egois, bersifat sombong atau selalu membantu yang lain. Ini semua tercermin dalam keseharian hidup di perjalanan. Oleh karena itu, di saat seperti ini, di saat semua orang ingin jadi pemimpin , ummat islam harus hatr-hati; tidak terjebak oleh omongan, oleh semangat reformasi, oleh slogan dan oleh penampilan. Perhatikan dan pelajari bagaimana perjalanan hidupnya selama ini, apakah dia orang yang benar-benar beriman, benar-benar mempunyai akhlak terpuji, dan benar dapat menjadi penolong masyarakat..? Oleh karena itu maka Allah mengingatkan kita agar jika mencari pemimpin, penguasa, pejabat, pengurus dan mereka yang akan melayani keperluan ummat, maka carilah pemimpin yang beriman, bukan dari orang yang kafir, ataupun mereka yang munafiq. Fa’tabiruu Yaa ulil albaab.*******
ANTARA MUSIBAH DAN DOSA
“ Sesuatu kebaikan yang kamu dapatkan itu datang daripada Allah, dan sesuatu bencana yang datang adalah akibat perbuatanmu sendiri “
( QS. An Nisa : 79 )
Hampir seluruh surat kabar baik di Indonesia, malaysia , Singapore dan Brunei pada mingu ini membicarakan masalah asap yang datang akibat kebakaran hutan di Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. Nampaknya itu merupakan suatu musibah atau bencana biasa; tetapi sebenarnya itu merupakan peringatan Allah terhadap manusia , agar manusia dapat mengintropeksi diri, membaca kembali perjalanan hidup yang dilakukan selama ini; apakah kehidupan kita baik secara individu maupun dalam keadaan sosial kemasyarakatan telah sesuai dengan perintah Allah dan Sunnah rasulullah saw…?
Para ulama terdahulu ( salafusshaleh ) apabila salah seorang dari mereka mendapat bencana atau musibah dan kesulitan hidup, maka mereka segera mengadakan intropeksi pada keadaan, sikap danperbuatan mereka sendiri; sehingga mereka selalu berkata :
“ Ini semua gara-gara aku telah berbuat dosa, atau bisa jadi karena aku telah melalaikan kewajibanku terhadap Allah. Juga mungkin karena aku telah berbuat lalim kepada hamba Allah, atau karena aku telah meremehkan kemuliaan Allah, atau karena aku telah berbuat sesuatu yang tidak sesuai dengan perintah Allah . Oleh sebab itu aku harus segera kembali ke jalan Allah, bertobat memohon ampun atas segala dosa dan kesalahan sengan mengucapkan doa sebagaimana doa yang diucapkan oleh Nabi Adam dan Siti Hawa sewaktu mereka dikeluarkan dari syurga, yaitu : Rabbana Dzalamnaa anfusanaa, wa inlam taghfirlana wa tarhamnaa lanakunanna minal khasirin…Ya Allah …..kami telah menganiaya diri kami sendiri. Maka seandainya Engkau tidak memberikan ampunan kepada kami dan tidak mengasihi kami , maka kami akan termasuk golongan yang merugi “.
Inilah fitrah manusia dan sikap insan yang beriman. Jika mendapat rahmat, maka dia harus segera bersyukur, dan jika mendapat musibah; maka dia harus segera mengadakan intropeksi terhadap kewajibannya kepada Tuhan dan mengadakan evaluasi terhadap perbuatannya sehari-hari. Memang benar setiap sesuatu telah ditaqdirkan Allah; tetapi itu semua adalah akibat dari hukum kausalitas ( sebab-akibat ) yang dilakukan oleh manusia sendiri. “ Tidak ada yang menimpamu daripada kebaikan kecuali dari Allah dan segala yang menimpamu dari kejahatan adalah akibat perbuatanmu sendiri “ ( QS. Annisa : 79 ).
Sewajarnya dengan musibah tersebut kita segera mengadakan intropeksi baik terhadap diri kita sendiri, terhadap keluarga kita dan terhadap keadaan masyarakat secara umum. Sebagai ndividu, kita lihat bagaimana dosa telah menjadi bagian hidup kita, baik dosa yang dilakukan oleh kedua tangan, kedua kaki, mata, telinga dan hati. Mata kita selalu lupa dari membaca kitab Allah, lupa membaca hadis Rasulullah. Pendengaran kita disibukkan terlalu disibukkan oleh berita ini dan itu, oleh musik dan hal-hal yang kadang-kadang dapat melupakan kita dari mengingat Allah. Ghibah, dusta, fitnah, telah menjadi bagian dari budaya dan kebiasaan kita sehari-hari. Banyak orang tua yang telah melalaikan kewajibannya terhadap anak-anaknya hanya karena disibukkan oleh kesibukan mencari harta kekayaan dan peningkatan karier. Demikian juga banyak anak-anak yang telah durhaka kepada orangtua serta tidak lagi menghormati abang dan kakaknya serta sanak-keluarga yang lebih tua.
Di tengah masyarakat kita perhatikan sekian banyak dosa dan kemaksiatan telah menjadi bagian hidup masyarakat. Pencurian, perampokan, perzinahan, pembunuhan, pelacuran, judi, maksiat, telah begitu meraja lela dengan leluasa. Dengan mudahnya dan tanpa sungkan-sungkan lagi masyarakat melakukan kemungkaran, kezaliman, kemaksiatan, kemunafiqan, kemusyrikan, dan kekafiran. Mereka yang kuat menindas mereka yang lemah. Mereka yang kaya telah lupa akan kewajiban infaq, zakat dan sedekah. Apakah akibat dari kondisi masyarakat yang seperti ini..? Sebagai jawabannya mari kita simak beberapa hadis rasulullah di bawah ini :
Abu al Bukhtari berkata bahwa dia telah mendengar Rasulullah bersabda : “ Tidaklah binasa manusia kecuali jika mereka telah banyak berbuat dosa dan perbuatan yang cela ( HR. Abu daud ). Ummu Salamah berkata bahwa Rasulullah saw pernah bersabda : “ Apabila kejahatan telah begitu meraja lela di atas permukaan dunia, maka Allah akan menurunkan bencana bagi penduduk bumi tersebut “. Kemudian Ummu salamah bertanya : ya Rasul, bagaimana itu bisa terjadi, sedangkan di antara mereka terdapat orang yang shaleh..? Rasulullah saw menjawab : “ Ya , ihal itu akan terjadi walaupun disana terdapat orang yang shaleh, mereka juga akan tertimpa bencana sebagaimana yang lain; tetapi kemudian mereka akan kembali kepada rahmat Allah “ ( HR. Abu Naim ).
Dalam kesempatan lain, rasulullah juga bersabda : “ Ummat manusia akan tetap berada di bawah tangan Allah selama ulama mereka tidak condong kepada umara; dan selama orang yang jahat dan ingkar kepada Allah tidak dianggap sebagai orang yang baik dan shaleh; juga selama mereka tidak memberi kepercayaan kepada mereka yang jahat dan nakal. Jika mereka melakukan semuanya itu, maka Allah akan mengangkat tangan-Nya dari atas mereka, sehingga mereka akan dikuasai oleh penguasa yang diktator, dan mereka akan dianiayaoleh penguasa tersebut, dan kehidupan mereka akan selalu diliputi oleh kemiskinan dan kafaqiran “.
Dalam hadis lain disebutkan bahwa nanti di akhir zaman, terdapat kaum yang meremehkan agama karena mencari dunia. Mereka memakai pakaian yang tipis dari sutera. Ucapan mereka lebih manis daripada gula, tetapi hati mereka bagaikan hati serigala “. Oleh karena itu sayyidina Ali bin Abi Thalib berkata : “ Nanti akan datang suatu masa dimana Islam tidak kekal kecuali hanya tinggal nama, demikian juga Al Qur an hanya tinggal kaligrafi dan dalam bentuk tulisan sahaja. Masjid-masjid dibangun dengan megah tetapi kosong dari petunjuk dan hidayah. Ulama mereka selalu berbuat jahat. Jika ini yang terjadi maka bencana ( fitnah ) pasti akan terjadi “. Abdullah bin Mas’ud berkata bahwa ayahnya pernah mendengar Rasulullah saw bersabda : “ Apabila zina dan riba telah berlaku secara terang-terangan dalam suatu masyarakat, maka itu berarti tanda akan datang suatu kehancuran di atas mereka “. Mari kita bayangkan dan perhatikan kondisi masyarakat kita hari ini..sudahkah semua hal yang disebutkan di atas tadi berlaku dengan leluasa..?
Pada suatu hari Rasulullah berkata kepada para sahabat dari kelompok Muhajirin “ Wahai para muhajirin..Ingatlah bahwa ada lima perkara yang aku khawatirkan akan kalian temukan pada suatu saat nanti, yaitu :
1. Apabila kemaksiatan telah dilakukan secara terbuka dalam suatu masyarakat sehingga mereka melakukan iklan dan promosi dengan kemaksiatan tersebut; maka itu akan terjadinya wabah penyakit menular yang belum pernah ada pada masyarakat sebelum mereka.
2. Apabila masyarakat telah sering melakukan pegurangan dan penipuan dalam menimbang barang, maka mereka akan ditimpa oleh kemiskinan, dan akan diperintah oleh penguasa yang kejam.
3. Jika masyarakat tidak mau mengeluarkan zakat dari harta kekayaan mereka, maka mereka akan ditimpa oleh bencana musim kemarau.
4. Apabila masyarakat sudah sering mengkhianati janji, maka mereka akan dikuasai oleh musuh-musuh mereka yang akan merampas segala kekayaan yang mereka miliki.
5. Dan jika para pemmpin mereka tidak melakukan tindakan yang sesuai dengan Kitab Allah, maka bencana akan turun kepada mereka “
( Hadis riwayat Abu Nuaim, juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Al hakim ).
Dalam hadis lain Rasulullah saw juga bersabda : “ Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi suatu masyarakat, maka Dia akanmenjadikan orang yang baik sebagai pemimpin masyarakat tersebut; tetapi jika Allah berkehendak menjadikan kejelekan bagi suatu masyarakat, maka mereka akan dipimpin oleh orang yang bodoh, dan kekayaan mereka berada di tangan orang-orang kaya yang bakhil “ ( hadis riwayat Dailami ).
Khalifah Umar bin Abdul Aziz menulis surat kepada Ja’far bin Burqan ketika daerah kawasan yang dibawah kekuasaan Ja’far tersebut berada dalam krisis kemarau panjang. Surat itu berbunyi : “ Maka sesungguhnya musim kemarau itu adalah akibat dari kemurkaan Allah terhadap hamba-Nya. Oleh karena itu aku telah perintahkan kepada seluruh gubernur di seluruh daerah kekuasaanku bahwa pada hari yang telah ditentukan nanti agar untuk mengajak seluruh masyarakat, khususnya bagi mereka yang mempunyai harta kekayaan agar segera bersedekah dan memberi bantuan kepada faqir miskin. Masyarakat juga dianjurkan untuk segera memohon ampun kepada Allah dan berdoa dengan lafadz doa yang pernah dibaca oleh Nabi Adam : Rabbanaa dzalamnaa Anfusanaa wa inlam taghfirlanaa watarhamnaa lanakuunanna minal khasirin….dan juga membaca lafadz doa yang pernah dibaca oleh nabi Nuh sewaktu terjadi banjir besar “ Wa illa taghfirlii watarhamnii akun minal khasiriin “ ( QS. Hud : 47 ) dan lafadz doa Nabi Yunus sewaktu berada di dalam perut ikan “ Laa ilaaha illa anta subhaanaka inni kuntu minal dhaziliin “ ( QS. Anbiya : 87 ).
Memang setiap musibah, bencana, dan kecelakaan mempunyai sebab-sebab tertentu, baik oleh perbuatan kita sendiri atau perbuatan orang lain; tetapi jangan lupa bahwa hal tersebut boleh jadi juga disebabkan karena dosa-dosa dan kelalaian kita dari mengingat Allah. Maka jika datang suatu musibah dan bencana , carilah sebabnya dan segeralah bertobat kepada Allah karena mungkin diantara sebabnya yang utama adalah dosa dan kelalaian kita daripada mengingat Yang Maha Mulia, Pencipta alam semesta, Allah subhana wa taala. Fastaghfiruu…!
( MOHD. ARIFIN ISMAIL )
MENDIDIK ANAK CINTA RASUL
Pada waktu turun ayat “ Wahai orang yang beriman, bershalawatlah kamu kepadanya ( Muhammad ) dan ucapkanlah salam sejahtera dengan penuh penghormatan kepadanya “ ( QS. Al Ahzab : 56 ), diantara sahabat ada yang bertanya : Ya Rasulullah, Engkau telah mengajarkan kami ucapan salam sebagaimana yang kami ucapkan dalam shalat : “ Assalamu alaika ayyuhan Nabiyyu warahmatullahi wabarakaatuh , salam sejahtera untukmu wahai nabi dan semoga rahmat Allah dan keberkahanNya dilimpahkan kepadamu “. Kami juga selalu mengucapkan salam “ Assalamu ‘alaika Ya Rasulullah “ jika kami bertemu denganmu. Bagaimana pula cara kami bershalawat kepadamu…? Rasul kemudian menerangkan dan mengajarkan beberapa bentuk ucapan shalawat. Ada yang pendek seperti : “ Allahumma shalli ala Muhammad “, dan ada juga yang panjang sebagaimana ucapan shalawat dalam shalat : “ Allahumma shalli ala Muhammad wa alaa aali Muhammad, kamaa shallaita alaa Ibrahim wa alaa aali Ibrahim Innaka Hamiidun Majid. Wa baarik alaa Muhammad wa alaa Muhammad kamaa barakta alaa Ibrahim wa alaa aali IbrahimInnaka hamiidun majid “ . Ucapan shalawat tersebut diriwayatkanoleh Ka’ab bin Ujrah dalam seluruh kitab hadis.
Banyak hadis yang menerangkan tentang ucapan shalawat dalam berbagai bentuk dan versi. Secara umum semuanya menyuruh kita sebagai ummat Muhammad untuk selalu berdoa agar Allah selalu melimpahkan keselamatan, kesejahteraan kepada nabi Muhammad, sebagai suatu sikap penghormatan kepadanya. Kita sebagai ummat Muhammad tidak boleh mengkultuskan manusia, walaupun manusia itu sehebat apapun; tetapi kita harus menghormatinya bukan dengan cara memuja atau menyembahnya tetapi dengan cara mendoakan keselamatan dan kebahagiaannya kepada Allah subhana wa taala. Sayyidina Ali bin Abi Thalib meriwayatkan sebuah hadis yang artinya : “ Orang yang paling bakhil ialah orang yang tidak bershalawat kepadaku ( Nabi Muhammad ) tatkala namaku disebut didepannya “ ( Riwayat Tirmidzi dan Ahmad ).
Tiada nikmat yang lebih mulia daripada nikmat Iman , Islam dan mendapat petunjuk Allah. Karena dengan Iman dan islam kita dapat mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Iman dan Islam tersebut kita terima hanya melalui Rasulullah saw. Melalui baginda kita mengenal Allah. Melalui baginda kita mendapatkan cahaya kehidupan. Melalui baginda Rasul kita mengetahui kebenaran dan cara hidup yang benar. Melalui kedatangan beliau kita mengenal arti dan makna hidup serta mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan hidup. Maka jika kita tidak mendoakan baginda Rasul tatkala namanya disebut , itu merupakan sikap tidak beradab dan menandakan bahwa kita tidak berterima kasih atas nikmat yang telah kita dapat melalui beliau. Sebagai insan yang beradab, sewajarnya kita mengucapkan salam dan berdoa untuk orang yang telah berjasa kepada kita.
Rasulullah saw bersabda :“ Adalah suatu aib jika ada orang yang tidak mengucapkan shalawat kepadaku tatkala namaku disebut didepannya " ( riwayat Tirmidzi ). Oleh karena itu “ apabila namaku diucapkan di hadapan seseorang, maka dia hendaklah dia mengucapkan shalawat kepadaku; dan Allah akan memberi sepuluh kebaikan atas setiap shalawat yang dibacakan “ ( riwayat Imam Ahmad ). Dalam hadis yang lain disebutkan bahwa rasulullah saw bersabda : “ Jika seseorang bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah akan membalasnya dengan sepuluh kebaikan, memberi ampunan atas sepuluh kejahatan yang telah dilakukannya, dan akan diangkat kan baginya sepuluh derajat “ ( riwayat Nasa’i ) . “ Siapa saja yang mengucapkan shalawat kepadaku, maka Allah akan memberi rahmat kepadanya sebanyak sepuluh kali ‘ ( riwayat Muslim ). Ibnu Mas’ud meriwayatkan bahwa rasulullah saw bersabda : “ Orang yang paling dekat kepadaku pada hari akhirat nanti adalah mereka yang mengucapkan shalawat kepadaku “ ( riwayat Tirmidzi ). “ Allah mempunyai malaikat-malaikat yamg mengembara ke seluruh dunia dan membawa ucapan shslawat yang diucapkan oleh ummatku “ ( riwayat Nasa’i dan Darimi ).
Abu Thalhah menceritakan bahwa pada suatu hari Rasulullah saw datang dengan wajah berseri-seri sambil bersabda : “ Malaikat Jibril datang kepadaku memberitahukan bahwasanya Allah telah berfirman : Tidakkah engkau gembira Hai Muhammad jika ummatmu bershalawat kepadamu maka Allah akan memberi rahmat kepadanya sepuluh kali ( riwayat Nasa’I dan Darimi ). Oleh karena itu seorang sahabat rasul, Abdullah bin Ammar berkata : ‘ Siapa yang bershalawat kepada Nabi Muhammad satu kali, maka Allah dan malaikat-Nya akan membalas dengan tujuh puluh kali kebaikan “ ( Ahmad ).
Ubay bin Ka’ab memberitahukan Rasulullah saw bahwa dia selalu mengucapkan shalawat kepada baginda. Kemudian dia bertanya berapa banyak shalawat yang harus diucapkannya..? Rasulullah saw menjawab bahwa dia boleh mengucapkan shalawat seberapa saja yang disukainya . “ Terserah kepadamu berapa saja yang engkau kehendaki untuk membacanya, dan jika engkau terus menambahkan bilangan ucapannya, itu lebih baik bagimu “, demikian sabda Nabi.
Apakah ucapan salam kepada Rasul itu akan dijawab…? Rasulullah saw telah bersabda : “ Siapa saja yang mengucapkan salam kepadaku maka Allah akan mengembalikan semangat kepadaku agar aku dapat membalas ucapan salamnya “ ( riwayat Abu daud dan baihaqi ). “ Siapa yang mengucapkan shalawat di maqam kuburanku maka aku akan mendengarnya dan siapa yang bershalawat kepadaku dari tempat yang lain, maka ucapan itu akan disampaikan kepadaku “ ( riwayat Baihaqi ) .
Menurut Maulana Afzalurrahman dalam bukunya “ Ensiklopedia of Seerah “ , ucapan shalawat yang diucapkan oleh manusia itu mempunyai tiga makna. Pertama, ucapan shalawat bermakna sebagai tanda cinta dan kasih sayang, dengan bershalawat kepada nabi itu merupakan tanda kita mencintai dan mengasihi beliau. Kedua, ucapan shalawat bermakna pujian dan sanjungan kepada baginda nabi; maka dengan bershalawat kepadanya berarti kita telah memuji Rasul. Ketiga, ucapan shalawat bermakna sebagai doa kepada beliau, amka dengan bershalawat berarti kita telah berdoa agar Allah selalu melimpahkan rahmat –Nya kepada baginda nabi Muhammad saw.
Perkataan salam yaitu lafadz “ wassallimuu tasliima “ atau “ wassalam alaihi “ juga mengandung tiga makna. Pertama, ucapan salam berarti memohon perlindungan dan keselamatan sehingga baginda Rasul terpelihara daripada segala kejahatan. Kedua, ucapan salam bermakna agar beliau mendapat ketenangan dan keamanan, sehingga tidak terdapat sesuatu apapun yang menentang atau memusuhinya. Dengan mengucapkan salam berarti kita memberikan dukungan kepada beliau dengan sepenuh hati, baik melalui perkataan, harta atau jiwa. Memberi dukungan melalui perbuatan berarti melaksnakan seluruh ajaran dan perintah yang telah disampaikannya dan meninggalkan segala larangan yang dititahkannya. Untuk mengetahui anjuran dan larangan tersebut, kita harus mencari, membaca, dan mempelajari ucapan, perbuatan serta sikap kepribadian beliau. Hal itu semuanya telah disusun dengan rapi dan teliti oleh para ulama peneliti hadis. Dengan ucapan salam berarti kita mempunyai kewajiban untuk membaca, dan mempelajari kitab hadis dan Sirah Rasul serta mengamalkannya sebagai bukti cinta kita kepadanya.
Ketiga, ucapan salam juga bermakna sebagai doa untuk kesejahteraan dan keselamatan. Doa bagi kesejahteraan dan keselamatan juga bermakna bahwa kita berkewajiban untuk menjaga nama baik beliau daripada segala tindakan yang kurang terpuji yang dialamatkan kepadanya seperti penghinaan , penghujatan dari musuh-musuh Islam kepadanya dan lain sebagainya. Sejarah telah membuktikan bahwa hampir setiap masa ada saja usaha dari musuh-musuh islam untuk menghujat dan menghina rasul. Kasus “ The satanic verses “ Salman Rusydi merupakan contoh yang jelas bagi kita semua. Dan usaha ini akan terus berkelanjutan dilakukan oleh musuh-musuh Islam. Sebagai ummat Muhammad, kita harus waspada dan berkewajiban untuk membela nama baik baginda sebagai tanda cinta kita kepadanya.
Dalam masyarakat modern sekarang ini, disebabkan oleh kesibukan kerja sehari-hari , kita sebagai orangtua sering lupa untuk mengucapkan shalawat dan salam kepada baginda nabi. Apalagi anak-anak , remaja dan generasi muda kita; malah mereka lebih dekat dengan nama-nama bintang filem barat, bintang olahraga , artis, penyanyi dan lain sebagainya daripada mengingat nama nabi. Apa sebabnya…? Mungkin diantara sebabnya banyak orang tua muslim yang lupa akan kewajiban untuk mengajarkan anak-anak agar cinta kepada rasul dan keluarganya. Padahal rasulullah sejak awal telah menganjurkan agar diantara yang pertama diajarkan dan dididik kepada anak-anak adalah mencintai Rasulullah saw .
Agar anak-anak cinta kepada nabi, maka kita harus dapat memperkenalkan kehebatan , keunggulan, keutamaan dan kepribadian mulia beliau. Dengan memperkenalkan hal tersebut akan timbul kekaguman mereka terhadap baginda. Dengan kekaguman tersebut, akan timbul rasa cinta ke dalam hati mereka, dan dengan demikian mereka akan menjadikan baginda rasul sebagai pujaan mereka. Dengan menjadi pujaan hidup , maka mereka akan mencontohi segala sikap dan gaya hidup rasulullah saw. Tetapi kalau kita lihat kenyataan yang berkembang selama ini, siapakah yang menjadi idolah generasi muda kita..? Mereka memuja dan mengagumi tokoh yang aneh-aneh seperti Super man, Michael Jackson, Madona, Maradona , dan lain sebagainya. Mengapa mereka tidak mengambil nabi Muhammad sebagai bintang pujaan mereka….? Mungkin dikarenakan mereka tidak pernah mendengar lagi cerita tentang kehebatan dan kebesaran baginda Nabi Muhammad. Kalau demikian, siapakah yang bersalah….?
Sudah saatnya terutama dalam masyarakat modern sekarang ini kita sadar dan berpikir agar kita selalu mengucapkan shalawat dan salam kepada nabi Muhammad saw dimanapun kita berada. Sudah waktunya kita mengkaji ulang dan mempelajari sejarah kehidupan beliau yang penuh dengan pelajaran dan contoh teladan. Juga sudah waktunya kita mendidik anak-anak kita untuk mencintai Rasul, dan mengamalkan ajarannya serta membela nama baiknya. Kalau di masa lalu, ibu-ibu muslimah selalu menceritakan kisah-kisah Rasul, kisah sahabat dan para syuhada kepada anak-anak sebelum tidur, bagaimana dengan ibu-ibu muslimah di zaman modern sekarang ini..? Wallahu A’lam bisshawaab.
I
4
Subscribe to:
Comments (Atom)

