Thursday, December 11, 2014
TADABBUR SURAH AN-NAS
” Katakanlah : Aku berlindung daripada Tuhan manusia, Raja manusia dan Tuhan yang disembah oleh mansia. Daripada bisikan syetan (waswas) yang tersembunyi ( khannas ) yang selalu membisikkan sesuatu ke dalam dada manusia daripada jin dan manusia ” ( QS. AnnNas : 1-6).
Biasanya jika seseorang itu khawatir untuk mendapat gangguan dari syetan, maka biasanya dia akan membaca surah an Nas. Padahal jika kita mengkaji kandungan surah annas, maka surah itu dibaca bukan hanya untuk meminta perlindungan Allah dari godaan syetan dari jin saja, tetapi juga godaan lain yang datang dari nawa nafsu, wanita, harta, kekuasaan dan lain sebagainya. Dinamakan surah “An-nas” yang bermakna “ manusia” karena didalam surah ini dari ayat pertama, kedua, ke tiga sampai ke enam terdapat kata “an-nas” ( manusia ). Manusia sebagai makhluk yang paling mulia di sisi Allah mempunyai tugas yang sangat penting dari Allah untuk menjaga dirinya dari segala macam gangguan,baik gangguan yang mengancam keselamatan dirinya ataupun gangguan yang dapat merusak amal ibadahnya kepada Allah swt. . Kalau dalam surah al Falaq manusia diperintahkan untuk berlindung dari gangguan yang berasal dari luar diri manusia seperti kejahatan manusia, sihir dan alam, maka dalam surah ini kita diperintahkan Allah untuk berlindung kepada Allah dari gangguan yang berasal dari dalam diri manusia itu sendiri. Ganguan dari dalam diri sendiri ini lebih berbahaya karena ia dapat merusak penyembahan manusia kepada allah di dsalam menjalankan aktifitas kehidupannya sehari-hari.. Dalam surah “al Falaq” Allah disebutkan dalam satu sifat Allah yaitu “Robbul falaq” dengan tiga permohonan, sebaliknya dalam surah “Annas” Allah meminta manusia menyebutkan tiga sifatnya untuk memohon satu perlindungan. Ini adalah gambaran kepada kita betapa beratnya menghadapi gangguan ini. Di awali dengan “Qul”: “ Katakana hai Muhammad : “ aujdzu bi robbinnaas” aku berlindung kepada Tuhannya manusia. “Robbun” di sini berarti tuhan sebagai pencipta manusia. Berarti bahwa segala sesuatu yang ada, apapun yang terjadi semuanya adalah atas izin dan kehendaknya. Maka Allah memerintahkan manusia untuk berlindung hanya kepada Nya sebagai pencipta manusia.
“Malikinnaas”. raja manusia, penguasa manusia. Allah memerintahkan manusia berlindung kepada Allah sebagai Raja yang menguasai manusia itu sendiri. “Ilahinnaas” tuhan yang disembah manusia. Dan Allah memerintahkan manusia untuk berlindung kepadaNya sebagai tuhan yang di sembah manusia.
Dalam kitab Tafsir al Kabir karangan Imam Fakhrurrazi dikatakan bahwa jika dalam surah Alfalaq cukup di pakai kata-kata “robbulfalaq” tuhan yang menguasai alam, tapi dalam surah Annas untuk menjelaskan Tuhan dipakai tiga sifat tuhan yang tercermin dalam kata-kata “robbunnas, maalikiinas, ilaahinnas “. Tuhan sebagai “robbun” yang menciptakan manusia, apapun yang terjadi karena “robbunnas” penguasa mansuia sampai penguasa apa yang terjadi dalam hati manusia. Sedang tuhan sebagai “malik” penguasa manusia, adalah tuhan yang memiliki kuasa untuk menilai, memberi balasan atau memberi hukuman, sebab Dia adalah Raja manusia. Sedang kata-kata “ ilaahinnas “ menjelaskan Tuhan sebagai “ilah” yaitu sesuatu yang disembah oleh manusia. Dalam ayat ini, sekaan-akan memerintahkan manusia agar manusia dapat melihat Allah dalam lkapasitas dan sifatNya sebagai “robbunnas”, manusia yang diciptakan oleh Allah, “malikinnas” manusia yang dikuasai oleh Allah dan “ilahinnas” sehingga manusia wajib untuk taat dan menyerahkan diri serta menyembah hanya kepada Allah .
Karena Allah itu harus diyakini sebagai “rabb”, “malik” dan “ilah”, maka hanya kepada Allah lah manusia meminta perlindungan dari gangguan apapun. Itulah sebabnya disambung dengan ayat “ Minsyarril was-wasil khonnas “ , Ya Allah aku berlindung kepadaMu daripada segala kejahatan dan tipuan serta bisikan syetan yang menggoda diriku “. Mengapa meminta perlindungan dari bisikan syetan ? sebab gangguan yang paling besar dalam kehidupan manusia adalah gangguan dari dalam diri sendiri, bisikan dalam dada yang berasal dari “waswasil khonnas”, bisikan syetan.
Bisikan syetan inilah yang menggoda manusia daripada menyembah allah dan merusak segala amal ibadah manusia dalam kehidupannya sehingga meyimpang dari kebenaran yang di ridhoi Allah.swt. Bisikan syetan ini juga yang akan menggerakkan nafsu dan keinginan negative, sebab nafsu merupakan senjata dan alat syetn untuk menggoda manusia. Dalam hadist disebutkan bahwa ,” syetan itu bersama anak adam di sepanjang darah yang mengalir karena itu aku ( nabi ) takut jika syetan melemparkan sesuatu yang tidak baik melalui godaan nafsu maupun melalui bisikan-bisikannya ke dalam hati kamu .” Dalam riwayat tersebut diceritakan, bahwa nabi sedang berjalan dengan istrinya sofia, tak lama kemudian nabi berpapasan dengan dua sahabat, kemudia nabi berkata : “ Hai sahabatku orang yang disampingku ini adalah istriku”. Sahabat bertanya,” mengapa engkau memberitahukan hal itu kepada kami ya rasulullah ( padahal tanpa pemberitahuan tersebut, kami pasti sudah mengetahui bahwa dia itu isterimu ) ”. Nabi menjawab ,” karena syetan itu bersama anak adam di sepanjang darah yang mengalir, dan aku takut jika nanti tiba-tiba dibisikkan syetan dalam hati kamu sesuatu yang tak baik “.
Dalam hadist sahih disebutkan, “Tidak ada seorangpun dari kalian kecuali telah ada bersamanya Qarin ( kawan dari jenis syetannya yang selalu mendampingi seseorang kemana si empunya badan berada). Aisyah bertanya : “ Apakah engkau juga mempunyai qarin ya Rasul?”. Rasul menjawab, “ Benar, qarin aku juga ada, hanya saja ketahuilah bahwa Allah telah menolongku untuk melawannya, sehingga syetanku tersebut telah menyerahkan dirinya sehingga dia tidak membisikkan yang lain kepadaku kecuali kebaikan.”( hadis riwayat muslim). Dari hadist tersebut kita ketahui bahwa tak ada seorangpun yang bebas dari bisikan syetan dalam dirinya. Cara syetan mengganggu manusia adalah membisikkan keburukan dalam hati manusia sehingga manusia ragu dengan kekuasaan Allah, atau membisikkan sesuatu untuk menggoda manusia berbuat maksiat, atau membisikkan sesuatu yang dapat merusak hubungan manusia dengan manusia yang lain, dan sebagainya.
Dalam suatu hadis yang disampaikan oleh Anas disebutkan bahwa : “ syetan itu selalu meletakkan paruhnya di atas hati manusia maka dia membisikkan sesuatu dalam hati tersebut. Jika manusia ingat Allah, maka paruh syetan itu akan berhenti mematuk, tetapi bila manusia itu lupa daripada mengingat Allah maka paruh syetan itu terus bergerak mematukkan paruhnya ke dalam hati manusia dengan bisikan-bisikan keburukan “. ( hadis riwayat Baihaqi dan Ibnu Abidunya ). Hadis daripada Ibnu Abbas menceritakan bahwa : “ Tidak ada seorang anakpun lahir kecuali diatas hatinya sudah bersiap-siap syetan meniupkan was-was, maka apabila seseorang itu mengingat Allah, syetan itu diam tidak bergerak, tetapi apabila seseorang itu lupa kepada Allah, maka dia segera mematuk-matuk hati orang tersebut “. ( riwayat Baihaqi dan Hakim ).
Menurut surah anNas, bisikan tersebut disebut dengan “ was-was “ yang ditiupkan oleh syetan yang bernama “Khannas”. Dalam tafsir Thabari, diriwayatkan bahwa menurut Ibnu Yazid bahwa “ khannas “ itu dapat berupa jin dan manusia. Jadi bisikan dan godaan yang masuk ke dalam hati manusia itu dapat berasal dari bisikan syetan jin dan juga bisikan syetan yang berasal dari bisikan, ucapan dan perbuatan manusia. Syetan dapat berupa jin dan manusia juga dinyatakan al Quran dalam surah Al An’am ayat 112 menjelaskan bahwa : “ Kami jadikan bagi setiap nabi itu ada musuh-musuh yang terdiri dari syetan jin dan syetan manusia, sebagiannya menyampaikan pada sebagian yang lain kalimat-kalimat yang penuh tipuan dan rayuan. “. Dari ayat ini dapat disimpulkan bahwa musuh nabi itu ada dua pertama syetan dari bangsa jin dan kedua adalah sytean manusia yaitu manusia yang perbuatannya seperti syetan, atau disebut dengan syetan manusia (syayatinul insi ). Dalam tafsir Ibnu kasir diriwayatkan bahwa suatu hari nabi berkata kepada Ibnu Abbas : “ Mintalah perlindungan kepada Allah daripada syetan jin dan manusia “. Ibnu Abbas bertanya : Apakah ada syetan manusia ? Rasul menjawab : “ Ya, syetan manysia itu memang ada “. Malahan menurut Imam Suyuthi dalam kitab tafsir Durarul Mansur menyatakan bahwa menurut sahabat nabi Ibnu Yazid : “ Syetan manusia itu lebih ganas dan lebih hebat dari syetan jin, sebab syetan Jin menggoda manusia tanpa terlihat dengan jelas, sedangkan syetan manusia menggoda manusia dengan terang-terangan “. Ternyata di zaman sekarang bisikan syetan itu bias saja iklan, dalam sms, dalam handphone, dalam internet, dalam tivi, dalam politik, dalam budaya, dalam ekonomi, baik berupa pemikiran, gambar, tulisan, tontonan, atau apa saja yang mengganggu iman, yang merupakan permainan syetan yang dibuat, dicipta, dilakukan untuk menghancurkan iman, keyakinan, dan menggoda manusia. Semoga sewaktu kita membaca surah “ annas”, bukan hanya untuk syetan dari bangsa jin, tetapi juga juga untuk menghindari dan waspada dari syetan-syetan produk iklan, tulisan, filem, pemikiran, perbuatan manusia atau ajakan kawan, kolega, atasan kantor, dan lain sebagainya. Fa’tabiru Ya Ulil albab.
TADABBUR SURAH ALKAFIRUN
Surah al Kafirun : Katakanlah Hai orang kafir (1) Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah (2) Dan kamu tidak perlu menyembah apa yang aku sembah (3) Dan aku tidak pernah menyembah apa yang telah kamu sembah (4) Dan kamu tidak pernah menyembah apa yang telah aku sembah (5) Bagi kamu agama kamu, dan bagiku agamaku (6).
Sebab turun
Ibnu Jarir meriwayatkan dari Said bin Mina, bahwa ada beberapa orang tokoh myusrikin Makkah, Walid bin Mughirah , Aswad bin Muthalib dan Umayah bin Khalaf menjumpai nabi Muhammad dan berkata : Hai Muhammad bagaimana jika engkau menyembah apa yang kami sembah dan nanti kami menyembah apa yang engkau sembah dan engkau bergabung dengan kami dalam segala urusan, dan kami juga akan ikut kamu dalam segala urusan, dan nanti jika apa yang ada pada kami lebih baik dariapa yang ada pada kamu, maka kamu telah mendapat sesuatu, dan jika nanti apa yang kamu punya lebih baik dari apa yang kami punya maka kami telah mendapat keuntungan “, maka Allah segera menurunkan surah al Hakirun kepada Nabi, sebagai petunjuk dalam bersikap terhadap usulan mereka.
Sedang menurut Ibnu Abbas Surah ini turun disebabkan orang kafir Qurasiy menawarkan kepada nabi muhammad harta kekayaan, sehingga menjadi orang yang terkaya di Makkah, dan akan dicarikan perempuan yang paling cantik, dengan syarat agar nabi menghentikan untuk mengatakan yang tidak baik terhadap tuhan mereka (berhala), dan jika tidak mau juga mereka menawarkan kepda nabi, jalan kompromi yaitu bagaimana jika satu tahun mereka (orang kafir Makkah) menyembah Allah dan pada tahun selanjutnya berganti dimana Muhammad dapat menyembah tuhan mereka. Sebab adanya tawaran dari kaum kafir Makkah ini, maka Allah menurunkan surah al kafirun, sebagai petunjuk bersikp dengan tawaran orang kafir tersebut. (Imam Suyuthi, Durrur Manstur fi tafsir Ma;tsur, jilid 6, hal.692).
Tadabbur Surah
Jika kita kaji ayat yang pertama berarti : “ Katakanlah Hai orang kafir “, maka ayat pertama ini menyuruh nabi Muhammad berani bersikap dan berani berkata untuk menolak tawaran tersebut. Beda jika ayat tersebut berbunyi : “ Hai Muhammad : engkau tidak boleh menyembah apa yang mereka sembah “, sebab ayat ini hanya memberikan keyakinan ke dalam hati, bukan ayat untuk memerintahkan bersikap. Tetapi kalimat “ Hai orang kafir “, ini lebih tegas sebab menyuruh Nabi untuk berani bersikap tegas. Inilah sikap orang beriman dalam merespons gangguan akidah yang datang dari agama di luar Islam. Ini bukan masalah toleransi, tetapi masalah sikap menghormati keyakinan, sehingga agama lain tidak boleh ikut campur untuk mengatur keyakinan agama Islam. Ibnu Katsir menyatakan bahwakata-kata : “ orang kafir “ dalam ayat ini berlaku untuk semua orang kafir di seluruh muka bumi, tidak terbatas kepada orang kafir Makkah. ( Ibnu Katsir, Tafsir Quran al’Adzim, jilid4,hal.631)
Ayat kedua : “ Aku tidak menyembah apa yang kamu sembah “. Inilah sikap seorang mukmin yang harus dipahami dan dihormati oleh orang yang berlainan agama, bahwa dalam keyakinan tak dapat ditukar-tuar, diganti-ganti dengan alas an apapun juga. “Tidak menyembah”, maksudnya tidak meenyembah tuhan mereka, tidak beribadah dengan cara ibadah mereka, tidak memakai atribut yang merupakan identiras agama mereka, tidak ikut perayaan hari besar meraka, sebab setiap agama mempunyai tuhan yang disembah, tatacara ibadah, identitas dan atribut yang dipakai pada hari kebesaran agama masing-masing, oleh sebab itu mari setiap penganut agama menghormati setiap agama lain, jangan memaksa agama lain untuk ikut dalam acara mereka. Imam Fakhrudin Razi dalam tafsirnya menyakatan bahwa makna “ Tidak menyembah apa yang mereka sembah “ berarti mengingkari dengan hati, lisan dan perbuatan/tindakan segala tatacara ibadah mereka.
Ayat ketiga “ dan kamu juga tidak perlu menyembah apa yang kami sembah “. Jika seorang muslim tidak akan ikut acara-acara agama lain atau simbol-simbol dan atribut agama lain,maka penganut agama lain juga tidak perlu ikut-ikut acara agama Islam, atau memakai atribut, dan identitas agama Islam, sebab dapat membuat kekacauan dalam masyarakat. Bukanlah sikap toleransi dengan mengikut acara agama lain, sebab itu menghilangkan identitas dan ciri khas agama, maka dengan melarang pengikut agama lain untuk mengikuti ibadah, identitas agama lain, itulah makna toleransi beragama, sebab dengan sikap ekslusif itu agam masing-masing akan terjaga dan menjadi terhormat, malahan jika umat suatu agama ikut-ikut tatacara penyembahan agama lain, itu merupakan sikap pelecehan terhadap suatu agama.
Ayat keempat dan kelima: “ Dan kamu tidak pernah menyembah apa yang aku sembah , dan aku tidak pernah menyembah apa yang kamu sembah “. Jika pada ayat kedua dan ketiga kata-kata menyembah dalam kata kerja sekarang dan akan datang ( fi’il mudhari’), sedangkan pada ayat empat dan lima, kata menyembah dalam kata kerja terdahulu ( fi’il madhi ), sehingga makna ayat dua dan tiga “ kami tidak akan menyembah apa yang kamu sembah, dan kami tidak mengharapkan agar kamu menyembah apa yang kami sembah “, sedang pada ayat empat dan lima bermakna “kami tidak pernah menyembah apa yang kamu sembah, dan kamu juga tidak pernah menyembah apa yang telah kami sembah “. Seakan-akan dikatakan , jika selama ini kami tidak menyembah apa yang kamu sembah, mengapa sekarang kamu mememinta agar kami menyembah apa yang kamu sembah. Berati dalam ayat ini tersirat bahwa permintaan tersebut bukanlah permintaan yang jujur, tetapi suatu strategi orang kafir untuk menipu atau mengelabui orang islam dalam tatacara ibadah, sebab jika orang kafir kan menyembah apa yang kami sembah, maka nanti kamu meminta agar kami menyembah apa yang kamu sembah. Dalam ayat ini tersirat pesan agar umat Islam berhati-hati dengan strategi orang kafir dalam merusak akidah dengan percampuran tatacara ibadah atau ikut-ikutan perayaan dan atribut beribadatan.
Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat ini bekata bahwa “ aku tidak menyembah apa yang kamu sembah “, maksudnya bahwa aku tidak melakukan tatacara ibadah agama kamu, tidak melakukannya dan juga tidak pernah ikut-ikutan untuk melakukannya, sebab aku hanya menyambah Allah dengan tatacara yang disukaiNya dan tatacara yang diridhaiNya. Ibnu Katsir melanjukna bahwa dalam ayat “ dan kamu tidak pernah pernah menyembah apa yang aku sembah “, maksudnya kamu (orang kafir) tidak mengikuti perintah Alah dan hukum syariatNya dalam tatacara ibadah, sebab tatacara ibadah orang kafir itu merupakan kreasi mereka sendiri.
Ayat ke-enam “ Bagi kamu agama kamu bagi kami agama kami “. Ini merupakan ayat untuk mengajarkan umat islam agar menghormati agama lain, dan agama lain juga harus menghormati agama Islam. Jika ayat diatas berbicara sikap keyakinan umat Islam terhadap ajakan orang mencampur adukkan tatacara ibadah atau atribut peribadatan, dimana umat islam harus tegas menolak ajakan tersebut, maka ayat terakhir ini, menyatakan tentang adab sesama umat beragama untuk saling menghormati keyakinan, tatacara ibadah, dan atribut peribadatan masing-masing, sehingga perbedaan keyakinan, perbedaan tatacara ibadah, perbedaan atribut peribadatan tidak merupakan penyebab peperangan, perkelhian, kekacauan sesama umat beragama. Ibnu Abbas menyatakan bahwa dengan pernyataan “ bagi kamu agama kamu dan bagiku agamaku “, itu eakan-akan nabi berkata : Sesungguhnya aku dibangkitkan kepada kamu untuk mengajak kamu kepada kebnaran dan keselamatan, dan jika kamu tidak menerima ajakanku, maka jangan ikut aku, dan tinggalkan aku dan jangan engkau ajak aku kepada syirik”.
Inilah sikap seorang muslim, tegas dalam akidah dan prinsip keyakinan, sehingga tidak perlu mengikuti tatacara ibadah agama lain, sebab kita berbeda dengan mereka; tetapi ketegasan itu harus diikuti dengan akhlak yang mulia, bukan dengan pertengkaran dan peperangan, tetapi dengan sikap menghargai perbedaan. Sejarah membuktikan bahwa perbedaan keyakinan pada masa lalu tidak menimbulkan perkelahian, maka hal tersebut dapat diwujudkan pada masa akan datang tanpa memaksa kelompok lain untuk mengakui kebenaran agama lain, atau mengikuti tatacara ibadah, atau mengikui perayaan hari besar agama yang lain.
Keutamaan Surah
Zaid bin Harisah berkata : Hai Rasul ajarkan aku sesuatu yang harus aku baca sebelum tidurku , maka nabi menjawab : Apabila engkau akan tidur bacalah Qs.Alkafirun, karena sesungguhnya itu dapat melepaskan kamu daripada syirik “.(rwayat Ahmad dan Thabrani ). Nabi menganjurkan umatnya agar membaca Surah al Kafirun dengan maksud agar umat Islam tidak akan terperangkap dalam segala upaya orang kafir yan akan mengajak atau memaksa umat islam untuk megikuti budaya, cara hidup, pemakaian atribut dalam perayaan, ibadah dan lain sebagainya. Itulah sebabnya nilai surah alKafirun ini sama dengan sepertiga AlQuran, sebab pemahaman surah ini dapat menguatkan akidah umat dan bersikap terhadap ajakan orang kafir. Kehidupan harmonis dalam masyarakat hanya dapat terjadi setiap agama menghormati keyakinan agama lain yang dibuktikan dengan menghormati tatacara ibadah, atribut dalam perayaan agama, inilah toleransi agama, bukan dengan cara mengikuti atau ikut merayakan hari besar agama lain dengan ikut-ikutan simbol dan atribut mereka. Fa’tabiru ya Ulil albab.
Subscribe to:
Comments (Atom)

